Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Semoga rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan Tuhan Yesus Kristus menyertai Anda sekalian.
Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.
Pernahkah Anda memperhatikan sebuah koin yang sudah lama tersimpan di dalam saku, yang permukaannya mulai aus namun gambar di atasnya tetap terbaca jelas? Koin itu membawa identitas, membawa jejak sejarah, dan di atas segalanya, ia membawa gambar sang penguasa. Hari ini, dalam Injil, Yesus memegang sebuah koin Romawi. Ia menatapnya, lalu menatap mata orang-orang yang mencoba menjebak-Nya, dan Ia mengajukan pertanyaan yang membalikkan seluruh logika duniawi mereka: 'Whose image is this and whose inscription?' Milik siapakah gambar dan tulisan ini?
Mari kita berhenti sejenak pada pertanyaan itu. Di dalam dunia yang penuh dengan tuntutan, pajak, ekspektasi, dan beban yang sering kali terasa mencekik, kita sering lupa bahwa ada gambar yang jauh lebih dalam yang tertanam di dalam diri kita. Kita bukan sekadar koin yang beredar di pasar dunia. Kita adalah ciptaan yang membawa gambar Allah sendiri.
Sudah empat bulan, sejak 13 Juni 2026, dunia bagi keluarga Alan, Thao, dan Ryan terasa seperti sebuah ruangan yang kehilangan cahayanya. Kita tidak sedang berkumpul di sini untuk memberikan jawaban-jawaban teologis yang dingin atau untuk menutupi lubang besar yang ditinggalkan Benjamin Vo. Kita berkumpul untuk mengakui bahwa ada sebuah kerinduan yang sangat dalam, sebuah ache yang tidak bisa dihilangkan dengan kata-kata. Anda, Alan dan Thao, sedang memikul salib yang berat. Saat Anda terbangun di pagi hari dan keheningan rumah itu menyapa, atau saat Anda melihat jejak-jejak kecil dari kehidupan Ben—mungkin sebuah ide tentang 'Con Chim Airlines' yang ia bicarakan dengan mata berbinar, atau rasa ingin tahunya yang luar biasa terhadap dunia teknologi—itu adalah saat-saat di mana Anda sedang menyentuh luka itu. Jangan terburu-buru untuk menutupnya. Luka itu adalah tempat di mana kasih Tuhan ingin masuk dan memeluk Anda.
Mari kita jujur pada rasa sakit ini. Sering kali, musuh jiwa datang di tengah malam, membisikkan keraguan yang kejam. Apakah saya telah melakukan cukup? Apakah saya melewatkan sesuatu? Apakah ada tanda yang terlewat? Dengarkanlah kebenaran ini dengan hati yang tenang dan biarkan ia membasuh hati Anda: Penyakit yang dialami Benjamin bukanlah hukuman, bukan pula kegagalan dari kasih yang telah Anda curahkan dengan begitu sempurna. Tidak ada kewaspadaan manusiawi yang dapat menahan garis batas kehidupan yang sepenuhnya berada di dalam tangan Allah. Seperti yang Yesus katakan dalam Injil saat Ia ditanya tentang pria yang lahir buta, Ia menegaskan bahwa itu bukanlah dosa orang tua maupun anak itu. Anda telah mencintai Ben dengan segenap jiwa raga Anda. Tuhan tidak pernah menuduh Anda, dan Benjamin memandang Anda dari keabadian dengan kasih yang murni tanpa ada jejak penyesalan. Anda tidak melewatkan apa pun; Anda telah memberikan segalanya yang terbaik yang bisa diberikan oleh seorang ibu dan seorang ayah. Anda tidak bersalah, dan Tuhan tidak menuntut pertanggungjawaban atas sesuatu yang berada di luar jangkauan manusia. Anda adalah orang tua yang luar biasa.
Mari kita kembali pada gambar koin tadi. Yesus berkata, 'Repay to Caesar what belongs to Caesar and to God what belongs to God.' Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar, dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah. Ben adalah milik Allah. Sejak ia pertama kali menghirup napas di dunia ini, ia telah membawa gambar Allah di dalam jiwanya. Ben adalah anak yang penuh dengan logika, seorang pemikir yang cerdas, namun ia juga seorang anak yang memiliki hati yang sangat lembut. Ingatlah saat ia menawarkan seluruh isi celengannya untuk membantu pamannya yang sakit. Ia tidak memecah celengan itu, ia tidak menghitung koin-koinnya—itu tidak perlu. Niat hatinya sudah cukup. Tuhan melihat niat itu, dan itulah yang diakui-Nya. Ben telah mengakui kasih Allah melalui kemurahan hatinya, dan sekarang, ia diakui oleh Allah di dalam kemuliaan. Ben adalah milik Allah, dan Allah telah memanggilnya pulang untuk berada di tempat di mana tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi kebingungan, hanya ada terang yang abadi.
Ryan, abangmu adalah teman seperjuanganmu. Kamu tahu betapa ia menyukai pesawat terbang dan bagaimana ia selalu menunggumu. Jangan pernah merasa bahwa ia jauh. Ia ingin kamu terus belajar, terus bermimpi, dan terus berjalan dengan kepala tegak. Ia sedang bersorak untukmu dari garis finish di surga. Kasihnya adalah fondasi yang kokoh di bawah kakimu. Kamu tidak pernah sendirian dalam perjalananmu. Ingatlah saat-saat kalian berbagi tawa di perjalanan kalian; itu adalah ikatan yang tidak akan pernah bisa diputuskan oleh maut. Ia selalu ada di sana, dalam setiap hembusan angin dan dalam setiap langkah yang kamu ambil. Teruskanlah mimpi-mimpi itu, Ryan. Teruskanlah kasih itu.
Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya berbicara tentang Koresh, seorang raja yang tidak mengenal Allah namun dipanggil oleh Allah untuk sebuah rencana besar. 'I have called you by your name, giving you a title, though you knew me not.' Allah memanggil setiap dari kita dengan nama kita sendiri. Ben dipanggil oleh namanya. Ia tidak hanya sekadar angka dalam statistik dunia; ia adalah Benjamin, anak yang dikasihi, yang dipanggil untuk membawa terang melalui rasa ingin tahunya, melalui kecerdasannya, dan melalui kelembutan hatinya. Bahkan di tengah dunia yang sering kali tidak mengenal Allah, Ben hidup dengan cara yang menunjukkan bahwa ia milik-Nya.
Saudara-saudari, mari kita mendarat pada satu hal konkret. Minggu ini, ketika duka itu datang mengetuk pintu hati Anda, jangan mencoba melawan atau memendamnya sendirian. Berhentilah sejenak. Ambil napas dalam-dalam, dan arahkan pandangan Anda pada kepastian kasih Allah. Lakukan satu tindakan kecil yang penuh kasih dalam nama Ben—mungkin mendengarkan seseorang yang kesepian, atau memberikan senyuman kepada mereka yang sedang lelah menjalani hari. Biarkan kasih Ben, yang kini terus mengalir melalui sumur air kehidupan di Cà Mau, Vietnam, menjadi tanda bahwa cinta tidak pernah mati, melainkan terus memberi hidup. Benjamin Vo, anak yang manis, cerdas, dan lembut... beristirahatlah dalam damai abadi di dalam terang Kristus. Doakanlah kami yang masih berziarah ini, agar kami senantiasa setia memikul salib kami dengan penuh pengharapan. Tetaplah kuat, Alan, Thao, dan Ryan. Tuhan memegang tangan kalian, dan di dalam kasih Bunda Maria dan Putra-Nya, kalian aman. Ingatlah, bahwa meskipun waktu di dunia ini memiliki batas, kasih Tuhan adalah kekal, dan di dalam kasih itulah, Ben menanti Anda semua dengan senyum yang sama yang pernah ia berikan kepada Anda di rumah. Jangan takut. Tuhan menyertai Anda hari ini, besok, dan selamanya.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga berkat Allah Yang Mahakuasa, Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, turun atas Anda sekalian dan tinggal bersama Anda senantiasa. Pergilah dalam damai untuk mengasihi dan melayani Tuhan.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.