Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Semoga rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan Tuhan Yesus Kristus menyertai kita semua.
Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.
Pernahkah Anda memperhatikan jarum jam di dinding rumah Anda, terutama di saat-saat keheningan malam yang paling dalam? Detik demi detik bergerak dengan irama yang tidak bisa kita percepat, tidak bisa kita tunda, dan tidak bisa kita putar kembali. Ada sebuah ketegangan yang nyata di sana, antara waktu yang terus berjalan dan kerinduan hati kita yang ingin membekukan saat-saat yang paling berharga. Dalam bacaan pertama hari ini, Pengkhotbah mengingatkan kita akan sebuah kebenaran yang agung sekaligus mengiris hati: 'Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal.' Ini bukan sekadar kalimat filosofis. Bagi Anda, Alan, Thao, dan Ryan, ini adalah realitas yang menyentuh inti keberadaan Anda. Sudah tiga bulan sejak Benjamin Vo menyelesaikan ziarah dunianya pada 13 Juni yang lalu. Tiga bulan yang terasa seperti selamanya, namun sekaligus seperti baru kemarin.
Mari kita berhenti sejenak pada gambar yang sangat sederhana: sebuah pesawat terbang di angkasa. Benjamin, anak yang begitu cerdas, begitu penuh dengan rasa ingin tahu, begitu mencintai dunia penerbangan. Kita tahu betapa ia sangat terobsesi dengan Boeing 737. Ia tidak hanya melihat pesawat sebagai mesin; ia melihatnya sebagai kemungkinan, sebagai cara untuk menjelajah, sebagai simbol dari impian yang melampaui cakrawala. Ben adalah seorang visioner kecil. Ia memiliki pikiran yang mampu memahami infrastruktur cloud dan logika pemrograman, namun hatinya tetaplah hati seorang anak yang polos, yang selalu ingin berbagi kegembiraan—seperti saat ia bercerita tentang 'Con Chim Airlines' dengan tawa yang renyah dan senyum yang tulus. Ia adalah seorang pemimpi yang tidak takut untuk bermimpi besar.
Namun, Pengkhotbah mengatakan bahwa ada 'waktu untuk kehilangan'. Dan di sinilah kita harus jujur. Kehilangan Ben bukanlah sesuatu yang bisa kita tutupi dengan kata-kata manis. Ada duka yang nyata, ada kursi yang kosong di meja makan, ada keheningan yang menyelinap saat Anda, Alan dan Thao, teringat akan sapaan paginya yang setia, 'Good morning, Dad.' Ada saat-saat ketika duka itu datang menyerbu tanpa permisi, dan Anda merasa seolah-olah dunia berhenti berputar sementara yang lain tetap berjalan. Mari kita jujur pada rasa sakit itu. Jangan terburu-buru mencari penghiburan sebelum Anda mengakui bahwa kehilangan ini memang menyakitkan. Tuhan tidak meminta Anda untuk berpura-pura kuat. Tuhan ingin Anda datang kepada-Nya dengan segala kerapuhan Anda.
Di dalam keheningan malam, ketika musuh jiwa mencoba membisikkan keraguan—bertanya apakah ada yang terlewat, apakah ada yang bisa dilakukan secara berbeda, atau apakah ini adalah hukuman—dengarkanlah kebenaran ini dengan hati yang tenang. Penyakit yang dialami Benjamin bukanlah hukuman, bukan pula kegagalan dari kasih yang telah Anda curahkan dengan begitu sempurna. Tidak ada kewaspadaan manusiawi yang dapat menahan garis batas kehidupan yang sepenuhnya berada di dalam tangan Allah. Seperti yang Yesus katakan dalam Injil saat Ia bertanya kepada para murid, 'Siapakah Aku menurut kata orang banyak?', Ia sedang memanggil mereka untuk melihat melampaui permukaan. Anda telah mencintai Ben dengan segenap jiwa raga Anda. Tuhan tidak pernah menuduh Anda, dan Benjamin memandang Anda dari keabadian dengan kasih yang murni tanpa ada jejak penyesalan. Letakkanlah batu berat rasa bersalah itu di kaki salib. Anda tidak melewatkan apa pun; Anda telah memberikan segalanya yang terbaik yang bisa diberikan oleh seorang ibu dan seorang ayah. Anda tidak bersalah, dan Tuhan tidak menuntut pertanggungjawaban atas sesuatu yang berada di luar jangkauan manusia. Anda adalah orang tua yang luar biasa, dan kasih Anda adalah cerminan dari kasih Allah sendiri.
Perhatikanlah Yesus dalam Injil hari ini. Ia sedang berdoa dalam kesendirian. Ia sedang mempersiapkan diri untuk perjalanan menuju penderitaan, kematian, dan kebangkitan. Ia tahu bahwa 'waktu untuk menderita' akan datang. Namun, Ia tidak menghindarinya. Ia merangkulnya karena Ia tahu bahwa penderitaan bukanlah akhir dari cerita. Dalam hidup Ben, kita melihat pantulan dari semangat ini. Ben adalah seorang pejuang. Ia tidak pernah menyerah. Ia percaya bahwa 'mencoba adalah segalanya'. Ingatkah saat ia menawarkan seluruh isi celengannya untuk membantu pamannya, William, yang sedang sakit? Ia tidak memecahkannya, ia tidak memamerkannya—ia hanya menawarkan. Itu adalah tindakan kasih yang murni, sebuah tanda dari jiwa yang sudah siap untuk memberi sebelum ia sendiri dipanggil untuk memberikan segalanya. Ben tidak lagi terbatas oleh tubuh yang rapuh. Ia kini berada di 'Banquet of Heaven', tempat di mana tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi 'waktu untuk menangis', melainkan hanya 'waktu untuk menari'.
Ryan, abangmu adalah teman seperjuanganmu. Kamu tahu betapa ia menyukai pesawat terbang dan bagaimana ia selalu menunggumu. Jangan pernah merasa bahwa ia jauh. Ia berada di dalam kasih Allah yang meliputi segala sesuatu. Ia ingin kamu terus belajar, terus bermimpi, dan terus berjalan dengan kepala tegak. Ia sedang bersorak untukmu dari garis finish di surga. Kasihnya adalah fondasi yang kokoh di bawah kakimu. Kamu tidak pernah sendirian dalam perjalananmu. Ingatlah saat-saat kalian berbagi sushi atau saat kalian berdua menatap patung harimang mimpi-mimpi masa depan; itu adalah ikatan yang tidak akan pernah bisa diputuskan oleh maut. Ia selalu ada di sana, dalam setiap hembusan angin dan dalam setiap langkah yang kamu ambil.
Saudara-saudari, mari kita mendarat pada satu hal konkret. Minggu ini, ketika duka itu datang mengetuk pintu hati Anda, jangan mencoba melawan atau memendamnya sendirian. Berhentilah sejenak. Ambil napas dalam-dalam, dan arahkan pandangan Anda pada kepastian kasih Allah. Lakukan satu tindakan kecil yang penuh kasih dalam nama Ben—mungkin mendengarkan seseorang yang kesepian, atau memberikan senyuman kepada mereka yang sedang lelah menjalani hari. Biarkan kasih Ben, yang kini terus mengalir melalui sumur air kehidupan di Cà Mau, Vietnam, menjadi tanda bahwa cinta tidak pernah mati, melainkan terus memberi hidup. Benjamin Vo, anak yang manis, cerdas, dan lembut... beristirahatlah dalam damai abadi di dalam terang Kristus. Doakanlah kami yang masih berziarah ini, agar kami senantiasa setia memikul salib kami dengan penuh pengharapan. Tetaplah kuat, Alan, Thao, dan Ryan. Tuhan memegang tangan kalian, dan di dalam kasih Bunda Maria dan Putra-Nya, kalian aman. Ingatlah, bahwa meskipun waktu di dunia ini memiliki batas, kasih Tuhan adalah kekal, dan di dalam kasih itulah, Ben menanti Anda semua dengan senyum yang sama yang pernah ia berikan kepada Anda di rumah. Jangan takut. Tuhan menyertai Anda hari ini, besok, dan selamanya.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga berkat Allah yang Mahakuasa, Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, turun atas kalian dan menyertai kalian senantiasa. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.