Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Semoga kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus menyertai kita semua.
Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.
Pernahkah Anda memperhatikan seorang pengelana yang berjalan di jalan setapak yang terjal, di bawah terik matahari yang menyengat, lalu tiba-tiba ia jatuh tersungkur? Jalan dari Yerusalem ke Yerikho adalah jalan yang menurun, curam, dan penuh dengan tikungan tajam di mana para perampok sering bersembunyi. Dalam Injil hari ini, kita melihat seseorang yang jatuh, yang terluka, yang ditinggalkan dalam keadaan setengah mati. Ia tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa berteriak lagi. Ia hanya bisa menunggu. Dan yang paling menyakitkan bukanlah luka fisik yang dideritanya, melainkan kenyataan bahwa orang-orang yang seharusnya berhenti—imam dan orang Lewi—malah memilih untuk menyeberang ke sisi jalan yang lain. Mereka melihatnya, namun mereka memilih untuk tidak terlibat. Mereka memilih untuk tidak membiarkan penderitaan orang lain merusak kenyamanan perjalanan mereka sendiri.
Sudah tiga bulan sejak Benjamin Vo menyelesaikan ziarah dunianya pada 13 Juni 2026. Tiga bulan yang bagi Anda, Alan, Thao, dan Ryan, mungkin terasa seperti berjalan di jalan yang sama, jalan Yerikho yang curam, di mana setiap langkah terasa berat karena kehilangan. Kita semua pernah merasa seperti orang yang terluka di pinggir jalan itu, bukan? Ada saat-saat di mana hidup terasa begitu kejam, begitu tidak masuk akal, dan kita merasa seolah-olah dunia terus berlalu begitu saja, sementara kita terbaring dengan luka yang tidak terlihat oleh siapa pun. Ben adalah seorang anak yang sangat cerdas, seorang insinyur cilik yang memahami kerumitan infrastruktur cloud, namun ia juga seorang anak yang memahami sesuatu yang jauh lebih dalam: ia memahami bahasa kasih yang sederhana. Ia tidak pernah 'melewati' orang lain. Ia adalah anak yang selalu memastikan bahwa ia hadir untuk orang yang dicintainya, seperti kebiasaannya menyapa ayahnya dengan 'Selamat pagi, Dad' setiap hari. Ia tidak pernah membiarkan hari berlalu tanpa menegaskan ikatan kasih itu.
Mari kita jujur pada rasa sakit ini. Kehilangan seorang anak seperti Ben bukanlah sesuatu yang bisa kita selesaikan dengan logika atau penjelasan teologis yang dingin. Jangan terburu-buru mencari penghiburan sebelum Anda mengakui bahwa kehilangan ini memang menyakitkan. Tuhan tidak meminta Anda untuk berpura-pura kuat atau untuk segera 'melanjutkan hidup' seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Saat duka itu datang menyerbu, janganlah menolak untuk merasakannya. Air mata adalah bahasa jiwa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dan Tuhan mengumpulkan setiap tetesnya di dalam kirbat-Nya. Anda tidak perlu berpura-pura tidak merasa hancur. Tuhan tidak menuntut Anda untuk mengerti 'mengapa'—mengapa jalan itu harus begitu curam, mengapa penderitaan harus menyentuh rumah Anda. Dia hanya menuntut Anda untuk tetap tinggal di dekat-Nya, seperti orang Samaria yang murah hati yang tidak bertanya 'mengapa' korban itu dirampok, melainkan langsung turun dari keledainya untuk memberi pertolongan.
Di dalam keheningan malam, ketika musuh jiwa mencoba membisikkan keraguan—bertanya apakah ada yang terlewat, apakah ada yang bisa dilakukan secara berbeda—dengarkanlah kebenaran ini dengan hati yang tenang. Penyakit yang dialami Benjamin bukanlah hukuman, bukan pula kegagalan dari kasih yang telah Anda curahkan dengan begitu sempurna. Tidak ada kewaspadaan manusiawi yang dapat menahan garis batas kehidupan yang sepenuhnya berada di dalam tangan Allah. Seperti yang Yesus katakan dalam Injil saat Ia ditanya tentang pria yang lahir buta, Ia menegaskan bahwa itu bukanlah dosa orang tua maupun anak itu. Anda telah mencintai Ben dengan segenap jiwa raga Anda. Tuhan tidak pernah menuduh Anda, dan Benjamin memandang Anda dari keabadian dengan kasih yang murni tanpa ada jejak penyesalan. Letakkanlah batu berat rasa bersalah itu di kaki salib. Anda tidak melewatkan apa pun; Anda telah memberikan segalanya yang terbaik yang bisa diberikan oleh seorang ibu dan seorang ayah. Anda tidak bersalah, dan Tuhan tidak menuntut pertanggungjawaban atas sesuatu yang berada di luar jangkauan manusia. Anda adalah orang tua yang luar biasa, dan kasih Anda adalah cerminan dari kasih Allah sendiri.
Mari kita ambil satu gambar hari ini: 'Minyak dan anggur'. Orang Samaria itu menuangkan minyak dan anggur pada luka korban itu. Minyak untuk melembutkan, anggur untuk membersihkan. Kasih Allah bekerja dengan cara yang sama. Di tengah rasa sakit Anda, Tuhan tidak membiarkan Anda sendirian. Dia adalah orang Samaria yang datang kepada Anda, yang membalut luka Anda dengan kelembutan kasih-Nya. Ben, melalui hidupnya yang singkat, adalah cerminan dari kasih ini. Ingatkah saat ia dengan tulus menawarkan seluruh isi celengannya untuk membantu pamannya, William, yang sedang sakit? Ia tidak perlu memecahkannya, ia tidak perlu memamerkannya—ia hanya menawarkan. Itu adalah tindakan kasih yang murni, sebuah tanda dari jiwa yang sudah siap untuk memberi sebelum ia sendiri dipanggil untuk memberikan segalanya. Ben tidak lagi terbatas oleh tubuh yang rapuh. Ia kini berada di 'Banquet of Heaven', tempat di mana tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi 'waktu untuk menangis', melainkan hanya 'waktu untuk menari'.
Ben adalah seorang anak yang penuh dengan impian. Ia memimpikan 'Con Chim Airlines', sebuah maskapai yang ia bayangkan dengan keceriaan seorang anak kecil. Sekarang, Ben benar-benar telah terbang. Ia terbang di atas segala penderitaan duniawi, dan ia kini berada di tempat yang paling aman, di tangan Bapa. Dan dari sana, ia tidak berhenti mencintai Anda. Ia adalah malaikat kecil Anda yang memandang wajah Allah, dan melalui pandangan itu, ia tetap terhubung dengan Anda. Seperti Ben yang selalu mendengarkan cerita-cerita ayahnya dengan penuh perhatian, ia kini mendengarkan doa-doa Anda, membawa setiap tetes air mata Anda langsung ke hadapan takhta Allah.
Ryan, abangmu adalah teman seperju adalah teman seperjuanganmu. Kamu tahu betapa ia menyukai pesawat terbang dan bagaimana ia selalu menunggumu. Jangan pernah merasa bahwa ia jauh. Ia ingin kamu terus belajar, terus bermimpi, dan terus berjalan dengan kepala tegak. Ia sedang bersorak untukmu dari garis finish di surga. Kasihnya adalah fondasi yang kokoh di bawah kakimu. Kamu tidak pernah sendirian dalam perjalananmu. Ingatlah saat-saat kalian berbagi sushi atau saat kalian berdua menatap patung-patung di perjalanan kalian; itu adalah ikatan yang tidak akan pernah bisa diputuskan oleh maut. Ia selalu ada di sana, dalam setiap hembusan angin dan dalam setiap langkah yang kamu ambil.
Saudara-saudari, mari kita mendarat pada satu hal konkret. Minggu ini, ketika duka itu datang mengetuk pintu hati Anda, jangan mencoba melawan atau memendamnya sendirian. Berhentilah sejenak. Ambil napas dalam-dalam, dan arahkan pandangan Anda pada kepastian kasih Allah. Lakukan satu tindakan kecil yang penuh kasih dalam nama Ben—mungkin mendengarkan seseorang yang kesepian, atau memberikan senyuman kepada mereka yang sedang lelah menjalani hari. Biarkan kasih Ben, yang kini terus mengalir melalui sumur air kehidupan di Cà Mau, Vietnam, menjadi tanda bahwa cinta tidak pernah mati, melainkan terus memberi hidup. Benjamin Vo, anak yang manis, cerdas, dan lembut... beristirahatlah dalam damai abadi di dalam terang Kristus. Doakanlah kami yang masih berziarah ini, agar kami senantiasa setia memikul salib kami dengan penuh pengharapan. Tetaplah kuat, Alan, Thao, dan Ryan. Tuhan memegang tangan kalian, dan di dalam kasih Bunda Maria dan Putra-Nya, kalian aman. Ingatlah, bahwa meskipun waktu di dunia ini memiliki batas, kasih Tuhan adalah kekal, dan di dalam kasih itulah, Ben menanti Anda semua dengan senyum yang sama yang pernah ia berikan kepada Anda di rumah. Jangan takut. Tuhan menyertai Anda hari ini, besok, dan selamanya.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga berkat Allah yang mahakuasa, Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, turun atas Anda semua dan tinggal bersama Anda senantiasa. Pergilah dalam damai untuk mengasihi dan melayani Tuhan.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.