Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan Tuhan Yesus Kristus menyertai Anda sekalian.
Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.
Pernahkah Anda memperhatikan sebuah ragi yang dicampurkan ke dalam adonan tepung? Ia tidak terlihat, ia tidak menonjol, dan ia tidak berteriak untuk mendapatkan perhatian. Namun, di dalam keheningan adonan itu, ragi bekerja dengan cara yang ajaib. Ia mengubah tekstur, ia memberikan kehidupan, dan ia menjadikan adonan itu sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar tepung dan air. Yesus menggunakan perumpamaan tentang ragi dan biji sesawi hari ini untuk menggambarkan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah tidak selalu datang dengan gemuruh atau kemegahan yang mencolok. Sering kali, Ia bekerja dengan cara yang sangat halus, sangat tersembunyi, namun sangat kuat di dalam hati manusia.
Benjamin Vo adalah ragi itu bagi banyak orang. Di usianya yang singkat, ia tidak mencoba untuk menjadi sesuatu yang besar di mata dunia, tetapi ia menjadi sesuatu yang 'besar' di mata Tuhan melalui kelembutan hatinya yang luar biasa. Kita sering membayangkan kebesaran sebagai sesuatu yang megah, namun bagi Ben, kebesaran itu ada dalam rasa ingin tahunya yang murni saat ia menyelami dunia teknologi atau saat ia menatap pesawat terbang dengan kekaguman yang jujur. Ia adalah seorang anak yang memiliki pikiran yang begitu tajam—seorang jenius kecil yang bisa membedah logika matematika jauh melampaui usianya—namun ia tidak pernah membiarkan kecerdasan itu menjadikannya dingin. Ia tetaplah Ben yang manis, Ben yang selalu tersenyum, Ben yang selalu membawa kehangatan ke dalam rumah.
Saya tahu, bagi Anda, Alan dan Thao, kehilangan Benjamin selama empat bulan terakhir ini terasa seperti adonan yang tidak kunjung mengembang, sebuah kekosongan yang seolah menelan setiap sukacita. Saya tahu bagaimana rasanya terbangun di pagi hari dan mendapati bahwa dunia tidak lagi sama. Meja itu tetap ada, kamar itu tetap ada, tetapi ada satu kursi yang kini kosong. Dan di tengah kesunyian itu, musuh jiwa sering kali datang membisikkan dusta yang paling kejam: 'Apakah saya kurang menjaga? Apakah saya melewatkan sesuatu?' Saya memohon kepada Anda, hari ini, lepaskanlah beban itu. Dengarkanlah kebenaran ini dengan iman: Penyakit yang merenggut Benjamin bukanlah kesalahan Anda. Tidak ada satu pun tindakan atau kelalaian Anda yang menyebabkan ini terjadi. Tuhan tidak menghukum Anda, dan Ben tidak pernah melihat Anda dengan rasa kecewa. Anda telah menjadi orang tua yang luar biasa, mencintainya dengan kasih yang melampaui kata-kata. Jangan biarkan rasa bersalah yang tidak perlu itu mencuri kedamaian Anda. Ben tidak ingin Anda membawa beban itu. Ia ingin Anda mengingat senyumnya, bukan rasa sakitnya.
Dalam bacaan pertama hari ini, Santo Paulus berbicara tentang misteri kasih antara Kristus dan Gereja. Ia menyebutnya 'misteri yang besar'. Kasih itu adalah kasih yang menyerahkan diri, kasih yang menyucikan, kasih yang merawat dan mengasihi dengan kelembutan. Itulah kasih yang telah Anda berikan kepada Benjamin. Dan itulah kasih yang kini menyelimuti Benjamin di surga. Ben kini berada di 'Banquet of Heaven', tempat di mana tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi rasa sakit. Ia sedang menatap Anda, Alan, Thao, dan Ryan, dengan kasih yang jauh lebih murni daripada apa yang pernah kita kenal di dunia ini. Ia adalah bagian dari Kerajaan Allah yang kini sedang 'tumbuh' dengan cara yang tidak bisa kita lihat, namun pasti adanya.
Ryan, abangmu adalah bagian dari dirimu. Kalian berbagi begitu banyak cerita, begitu banyak perjalanan, begitu banyak tawa. Jangan pernah merasa bahwa ia telah pergi jauh. Ia ada di dalam setiap ingatanmu, di dalam setiap langkah yang kamu ambil. Ia bangga padamu. Ia ingin kamu terus mengejar impianmu, terus menjadi anak yang cerdas dan penuh kasih seperti dirimu sekarang. Kamu tidak sendirian, Ryan. Tuhan memelukmu melalui kasih orang tuamu, dan Ben memelukmu dari keabadian. Teruslah berjalan, teruslah bermimpi, dan ingatlah bahwa kasih abangmu adalah jangkar yang tidak akan pernah putus.
Bagi Anda yang sedang mendengarkan ini, yang mungkin merasa hidup Anda kecil dan tidak berarti, ingatlah perumpamaan biji sesawi. Biji itu kecil, hampir tidak terlihat, namun ketika ia tumbuh, ia menjadi tempat bernaung bagi burung-burung di langit. Hidup Ben mungkin terasa singkat, tetapi pengaruh kasihnya sangat luas. Ingatlah bagaimana ia, di usia 15 tahun, menawarkan seluruh isi celengannya untuk membantu pamannya yang sedang menderita. Ia tidak perlu memecah celengan itu—niatnya sudah cukup. Itu adalah tindakan seorang anak yang hatinya telah disentuh oleh kasih Allah. Kebaikan itu tidak pernah hilang. Ia terus hidup melalui 'Sumur Kasih' di Cà Mau, melalui setiap tindakan belas kasih yang dilakukan dalam namanya. Ben telah menjadi ragi bagi banyak orang, menginspirasi kita untuk memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki.
Kita sering bertanya, 'Mengapa harus sekarang?' Kita tidak memiliki jawaban atas misteri penderitaan. Namun, kita memiliki jawaban atas misteri kasih. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian di dalam duka kita. Ia ada di sana, di dalam setiap air mata yang jatuh, di dalam setiap helaan napas yang berat. Ia mengerti rasa sakit karena Ia sendiri telah memikul salib. Maria, Bunda yang berduka, berdiri di samping Anda, memeluk Anda dalam keibuannya yang lembut. Jangan takut untuk bersedih, tetapi jangan biarkan kesedihan itu menjadi akhir dari cerita Anda. Cerita Anda adalah cerita tentang kasih yang abadi, sebuah kasih yang melampaui maut.
Mari kita mendarat pada satu hal yang konkret hari ini. Ketika Anda pulang, jika rindu itu datang menyerang, jangan mencoba menahannya dengan kekerasan. Berhentilah sejenak. Tutup mata Anda dan bayangkan Ben sedang tersenyum—senyum yang sama yang ia berikan saat ia bahagia. Ingatlah bahwa senyum itu adalah milik surga sekarang. Lakukanlah satu tindakan kecil yang manis dalam namanya hari ini. Mungkin mengirimkan pesan penyemangat kepada seseorang, mungkin memberikan sedikit bantuan kepada yang membutuhkan, atau sekadar memeluk orang yang Anda cintai dengan lebih erat. Biarkan kasih Ben terus mengalir melalui tangan Anda.
Benjamin Vo, anak yang cerdas, anak yang manis, anak yang penuh rasa ingin tahu... beristirahatlah dengan tenang. Engkau telah menyelesaikan tugasmu di dunia ini dengan sangat baik. Engkau telah menjadi ragi yang baik. Sekarang, nikmatilah perjamuan abadi di hadapan Bapa. Doakanlah kami, orang tuamu, adikmu, dan kami semua yang masih berziarah, agar kami dapat hidup dengan kasih yang sama, sampai saatnya nanti kita bertemu kembali dalam pelukan Tuhan yang tak berkesudahan. Amin.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita dari segala yang jahat, dan membawa kita kepada kehidupan yang kekal. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.