Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Semoga rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus beserta Anda sekalian.
Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.
Pernahkah Anda memperhatikan sebatang tiang rambu di jalan yang sunyi, yang berdiri tegak menantang badai dan panas, hanya untuk menunjukkan arah bagi mereka yang tersesat? Hari ini, kita dihadapkan pada sebuah citra yang jauh lebih agung, namun serupa dalam kesunyiannya: sebuah salib yang ditinggikan. Dalam Bacaan Pertama, kita melihat orang-orang Israel di padang gurun. Mereka lelah, mereka lapar, dan yang paling berbahaya, mereka kehilangan harapan. Mereka mulai mengeluh, dan dalam kepahitan itu, mereka menjadi rentan terhadap bahaya. Maka, Allah memerintahkan Musa untuk membuat ular tembaga dan memasangnya pada tiang. Siapa yang memandang ular itu, ia hidup. Bayangkanlah momen itu... di tengah debu padang gurun yang mencekik, di tengah rasa sakit karena gigitan ular, ada satu titik pusat yang harus mereka tatap untuk menemukan keselamatan. Mari kita pegang citra 'Titik Pusat yang Menyelamatkan' ini sepanjang permenungan kita.
Sudah tiga bulan berlalu sejak 13 Juni 2026, hari di mana Benjamin Vo, anak kita yang cerdas dan berjiwa lembut, pulang ke rumah Bapa. Bagi Alan dan Thao, dan bagi Ryan, tiga bulan ini bukanlah sekadar waktu yang berlalu, melainkan sebuah ziarah panjang melalui padang gurun yang sunyi. Ada kekosongan yang nyata di rumah, ada kursi yang kini tidak lagi diduduki, dan ada suara tawa yang kini hanya tersisa dalam ingatan. Tuhan melihat setiap tetes air mata yang jatuh dalam keheningan malam. Tuhan tidak meminta kalian untuk berpura-pura kuat. Ia tahu bahwa hati kalian sedang diregangkan hingga ke batas yang paling dalam.
Dalam Bacaan Kedua, Rasul Paulus memberikan kita kunci untuk memahami salib ini. Kristus, yang setara dengan Allah, mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, dan taat sampai mati di kayu salib. Mengapa? Karena hanya melalui kerendahan hati yang total itulah, kasih Allah dapat memeluk dunia yang terluka. Benjamin adalah seorang anak yang memahami kasih ini dengan cara yang sangat murni. Ia adalah anak yang cerdas, seorang pemikir yang mampu menyelami dunia AI dan infrastruktur cloud dengan logika yang melampaui usianya. Namun, ia tidak pernah menggunakan kecerdasannya untuk meninggikan diri. Ia adalah anak yang selalu gigih, yang percaya bahwa 'mencoba adalah segalanya'. Ingatlah bagaimana ia begitu tekun berlatih badminton atau bagaimana ia dengan penuh sukacita membicarakan 'Con Chim Airlines' bersama ayahnya. Ia tidak mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri; ia mencari koneksi, ia mencari kebersamaan, ia mencari kasih.
Alan dan Thao, orang tua yang sangat dikasihi Tuhan... di dalam keheningan malam, ketika musuh jiwa mencoba melemparkan batu rasa bersalah—bisikan yang bertanya apakah kalian melewatkan sesuatu atau apakah ada yang bisa dilakukan secara berbeda—dengarkanlah kebenaran ini. Yesus menjawab pertanyaan tentang penderitaan dengan sangat jelas: itu bukan hukuman, bukan kesalahan orang tua, bukan kegagalan kasih. Penyakit yang dialami Benjamin bukanlah hasil dari sesuatu yang kalian lakukan atau tidak lakukan. Tidak ada kewaspadaan manusiawi yang bisa menahan batas-batas kehidupan yang sepenuhnya berada di tangan Allah. Kalian telah menjadi orang tua yang luar biasa, mencintai Ben dengan segenap jiwa, merangkul setiap senyumnya, dan mendukung setiap langkahnya. Tuhan tidak pernah menuduh kalian. Benjamin memandang kalian dari keabadian dengan kasih yang murni tanpa ada jejak penyesalan. Letakkanlah batu berat rasa bersalah itu di kaki salib Yesus. Biarkan diri kalian dibebaskan dari tuduhan yang bukan berasal dari Tuhan. Kalian tidak melewatkan apa pun; kalian telah memberikan segalanya.
Dalam Injil hari ini, Yesus berkata kepada Nikodemus, 'Just as Moses lifted up the serpent in the desert, so must the Son of Man be lifted up.' Inilah titik pusat kita. Salib bukan lagi tanda hukuman, melainkan tanda kasih yang tak terhingga. Ketika kita memandang salib, kita tidak sedang menatap kematian, kita sedang menatap jawaban Allah atas setiap penderitaan manusia. Ben, dengan segala rasa ingin tahunya, kini berada di tempat di mana tidak ada lagi pertanyaan yang tidak terjawab. Ia kini berada di 'Banquet of Heaven', tempat di mana ia tidak lagi perlu memecahkan kode-kode rumit, karena ia kini hidup di dalam Cahaya yang utuh. Ia kini terbang bersama 'Con Chim Airlines' yang sesungguhnya di angkasa surgawi, bebas dari segala keterbatasan tubuh yang pernah ia alami.
Ada sebuah kenangan yang sangat indah tentang kebaikan hatinya yang spontan. Ingatlah saat ia, di usianya yang masih sangat muda, menawarkan seluruh isi celengannya untuk membantu pamannya, William, yang sedang sakit. Ia tidak pernah memecahkannya, ia tidak pernah membanggakannya, tetapi niat itu—tawaran itu—adalah buah dari hati yang sudah berakar dalam kasih. Ben tidak memberi karena ia merasa punya segalanya, ia memberi karena ia mengerti bahwa kasih adalah satu-satunya mata uang yang berharga di hadapan Allah. Sekarang, kasih itu terus mengalir melalui sumur 'Giếng Gioan Baotixita' di Vietnam, memberikan air kehidupan bagi mereka yang membutuhkan. Ben tidak pergi jauh; ia terus berkarya melalui kasih yang kalian hidupkan dalam namanya.
Untuk Ryan, adik yang sangat dikasihi Ben... abangmu adalah teman berpetualangmu. Kamu tahu betapa ia menyukai pesawat terbang. Setiap kali kamu melihat pesawat melintas di langit, ingatlah bahwa itu adalah sapaan dari abangmu. Ia tidak pergi jauh. Ia berada di dalam kasih Allah yang meliputi segalanya. Ia ingin kamu terus bermimpi, terus belajar, dan terus menjadi anak yang baik seperti dirimu sekarang. Kasihnya adalah kekuatan yang menjagamu, sebuah fondasi yang kokoh di bawah kakimu. Kamu tidak sendirian dalam perjalananmu; abangmu sedang bersorak untukmu dari garis finish di surga.
Saudara-saudari, mari kita mendarat pada satu hal konkret. Minggu ini, saat Anda merasa duka itu datang seperti ombak yang ingin menenggelamkan, berhentilah sejenak. Jangan mencoba memahami seluruh rencana Allah sekarang. Cukup ambil satu langkah: tataplah salib di rumah Anda, atau di gereja ini. Ingatlah bahwa di sana, Allah telah memberikan segalanya bagi kita. Jika Anda merasa lelah, ingatlah bahwa Ben pun pernah lelah, namun ia tetap mencoba. Jika Anda merasa takut, ingatlah bahwa Ben adalah seorang petualang yang berani. Biarkan kasih Ben, yang kini menjadi mata air kehidupan, terus mengalir dalam tindakan-tindakan kecil Anda. Mungkin membantu seseorang yang sedang kesulitan, atau sekadar memberikan waktu bagi mereka yang kesepian. Biarkan kasih itu menyembuhkan hati Anda sendiri.
Benjamin Vo, anak yang manis, cerdas, dan lembut... beristirahatlah dalam damai di ladang surgawi Bapa. Doakanlah kami yang masih berziarah di dunia ini, agar kami pun bisa menjadi pembawa kasih seperti dirimu. Tetaplah kuat, Alan, Thao, dan Ryan. Tuhan memegang tangan kalian, dan di dalam kasih-Nya, kalian aman. Amin.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga berkat Allah yang Mahakuasa, Bapa, Putra, dan Roh Kudus, menyertai dan melindungi kita semua hari ini dan selamanya. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.