Semoga rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus bersamamu. Mari kita mengawali devosi ini dengan menandai diri kita dengan tanda kemenangan Kristus, seraya memohon kehadiran-Nya di tengah-tengah kita.
Tuhan, kasihanilah kami, sebab kami sering kali lebih mengandalkan hikmat manusiawi daripada kuasa-Mu. Kristus, kasihanilah kami, sebab Engkau datang membawa kabar baik bagi yang sengsara dan penghiburan bagi yang berduka. Tuhan, kasihanilah kami, dan tuntunlah kami menuju hidup yang kekal. Amin.
Bayangkan sebuah layar komputer yang hitam, dipenuhi dengan baris-baris kode yang berwarna-warni. Bagi kebanyakan orang, itu hanyalah deretan angka dan huruf yang membingungkan. Namun, bagi seorang anak laki-laki bernama Benjamin Vo, itu adalah sebuah bahasa rahasia. Itu adalah sebuah dunia di mana logika bertemu dengan imajinasi. Dengan jemari yang lincah, Ben menuliskan perintah-perintah, menyusun struktur, dan membangun sesuatu dari ketiadaan. Di sana, di dalam repositori GitHub-nya, tersimpan naskah-naskah digital yang ia buat dengan penuh ketelitian.
Namun, ada satu 'naskah' yang selalu membuat wajahnya berseri-seri. Bukan tentang kecerdasan buatan atau infrastruktur awan, melainkan sebuah impian sederhana yang ia beri nama 'Con Chim Airlines'. Setiap kali ia menyebut nama itu, Ben akan terkikik dan tersenyum lebar. 'Burung Airlines'. Sebuah nama yang jenaka, polos, namun penuh dengan kebebasan. Bagi Ben, pesawat bukan sekadar mesin; mereka adalah simbol dari kerinduan manusia untuk naik lebih tinggi, melampaui batas-batas bumi, dan menyentuh cakrawala.
Mari kita pegang erat-erat citra ini sepanjang perenungan kita hari ini: **"Naskah yang Terbuka"**. Sebuah naskah yang tidak hanya ditulis dengan tinta atau kode, tetapi ditulis dengan kasih dan dibacakan di hadapan Allah.
Hari ini, di dalam Injil, kita melihat Yesus berdiri di rumah ibadat di Nazaret. Ia diberikan sebuah naskah, sebuah gulungan kitab nabi Yesaya. Yesus membuka gulungan itu, membacanya, lalu menutupnya kembali. Ia mengatakan, 'Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.' Yesus sedang menyatakan bahwa seluruh hidup-Nya adalah penggenapan dari naskah kasih Allah bagi manusia. Ia datang bukan dengan kata-kata hikmat yang rumit untuk memukau para ahli, tetapi dengan kuasa Roh untuk menyembuhkan yang remuk hati.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita berada di penghujung Agustus. Sudah sekitar dua bulan berlalu sejak tanggal 13 Juni 2026, hari di mana Benjamin Vo mendahului kita pulang ke rumah Bapa. Dua bulan... waktu yang cukup bagi dunia untuk mulai melupakan, namun waktu di mana bagi sebuah keluarga, keheningan mulai terasa sangat berat.
Kita harus berani jujur di hadapan Tuhan sebelum kita mencari penghiburan. Di rumah Alan dan Thao, mungkin ada saat-saat di mana suara tawa Ben seolah-olah masih menggantung di udara, namun ketika kalian menoleh, yang ada hanyalah ruang kosong. Ada kursi yang tidak lagi diduduki. Ada adik, Ryan, yang mungkin sering kali menatap ke arah kamar abangnya, merindukan teman bermain dan pelindungnya. Kehilangan Ben bukan sekadar kehilangan seorang anak yang cerdas; ini adalah kehilangan sebuah cahaya yang selama lima belas tahun menerangi setiap sudut hidup kalian. Rasa sakit ini tidak bisa dihapus dengan cepat. Ini adalah salib yang berat, dan Tuhan melihat setiap tetes air mata yang jatuh di tengah malam.
Dalam Bacaan Pertama, Rasul Paulus berkata kepada jemaat di Korintus: 'Aku datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat gemetar... supaya imanmu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.'
Paulus mengakui gemetarnya. Ia mengakui kelemahannya. Dan mungkin, Alan dan Thao, kalian juga merasa gemetar hari ini. Gemetar karena beban duka, gemetar karena pertanyaan 'mengapa' yang tak kunjung terjawab. Namun, di sinilah 'Turn' atau titik balik dari iman kita terjadi. Iman kita tidak bersandar pada kemampuan kita untuk memahami semua rencana Allah. Iman kita bersandar pada kuasa Allah yang sanggup mengubah kematian menjadi kehidupan.
Benjamin adalah seorang anak dengan kecerdasan yang luar biasa. Ia memahami matematika tingkat tinggi dan teknologi masa depan. Namun, jika kita melihat naskah hidupnya lebih dalam, kita akan menemukan bahwa 'hikmat' Ben yang sejati bukanlah pada IQ-nya, melainkan pada kemurnian hatinya.
Ingatlah momen ketika Ben berusia lima belas tahun. Mendengar pamannya, William, sedang sakit, Ben mendekati orang tuanya. Tanpa ada yang meminta, tanpa ada paksaan, ia menawarkan seluruh isi celengannya untuk membantu biaya pengobatan sang paman. Ben tidak pernah memecahkan celengan itu. Ia tidak pernah menyerahkan uangnya secara fisik karena memang bantuan lain sudah mencukupi. Namun, di mata Allah, naskah itu sudah selesai ditulis. Naskah tentang seorang anak yang rela memberikan segalanya.
Inilah yang dimaksud Paulus sebagai 'kuasa Allah'. Bukan kuasa untuk mengumpulkan harta, tetapi kuasa untuk melepaskan segalanya demi kasih. Ben tidak membutuhkan kata-kata hikmat yang muluk-muluk; tindakannya menawarkan celengan itu adalah khotbah yang lebih kuat daripada seribu kata-kata pujangga. Ia tahu bahwa 'mencoba adalah segalanya' (trying is all that matters), dan ia mencoba untuk mengasihi dengan seluruh keberadaannya.
Kadang-kadang, di tengah duka yang mendalam, hati orang tua bisa menjadi tempat di mana rasa bersalah tumbuh. Kalian mungkin bertanya-tanya, 'Apakah kami sudah melakukan yang terbaik? Apakah ada yang terlewatkan?'
Alan dan Thao, dengarkanlah ini baik-baik: Penyakit dan perpisahan maut bukanlah hukuman. Allah tidak pernah mengirimkan sakit untuk menghukum cinta kalian. Seperti Yesus yang menjawab tentang orang buta sejak lahir, 'Bukan dia dan bukan juga orang tuanya,' demikian pula dengan Benjamin. Tidak ada kewaspadaan manusiawi yang bisa menahan rencana kekekalan. Kalian telah menjadi orang tua yang sempurna bagi Ben. Kalian telah membawanya melihat dunia, dari Tokyo hingga Lourdes, dari Vatikan hingga ke tempat-tempat 'airport spotting' yang ia cintai. Kalian telah memberikan Ben sebuah naskah hidup yang penuh dengan petualangan kasih. Jangan biarkan rasa bersalah mencuri kedamaian yang ingin Ben berikan kepada kalian.
Ingatlah mimpi yang dialami Alan pada tanggal 25 Juni. Ben berdiri di sana, sehat, kuat, dan berkata dengan lembut: 'Tidak apa-apa, aku akan selalu menjaga Papa dan Mama.'
'Không sao đâu, con sẽ dõi theo ba mẹ.'
Kata-kata itu adalah penggenapan dari naskah hidupnya. Ben kini telah 'lepas landas' dengan 'Con Chim Airlines' miliknya sendiri menuju cakrawala surgawi. Ia tidak lagi terikat oleh keterbatasan tubuh atau dunia. Ia kini bernapas dengan bebas di dalam kemuliaan Bapa, bersama Santo Carlo Acutis, menjadi perantara bagi kita semua.
Untuk Ryan, adik yang terkasih...
Abangmu sangat bangga padamu. Setiap kali kamu melihat pesawat di langit atau burung yang terbang tinggi, ingatlah bahwa Ben sedang tersenyum padamu. Ia ingin kamu terus melangkah, terus belajar, dan terus menjadi anak yang baik bagi Papa dan Mama. Kasih abangmu tidak hilang; ia hanya berpindah tempat, dari sampingmu ke dalam hatimu.
Warisan Ben kini terus mengalir. Nama tengahnya, Đại Dương, yang berarti Samudra Besar, kini terwujud dalam sebuah sumur air bersih 'Giếng Gioan Baotixita' di Cà Mau. Air yang mengalir dari sumur itu adalah simbol dari kasih Ben yang tidak pernah kering. Seperti Yesus yang membacakan naskah Yesaya untuk membawa pembebasan, hidup Ben telah menjadi naskah yang membawa kehidupan bagi orang-orang yang bahkan tidak pernah ia kenal.
Saudara-saudari, mari kita mendarat pada satu hal kecil yang bisa kita bawa pulang hari ini.
Sepanjang minggu ini, setiap kali Anda membuka ponsel atau komputer, atau setiap kali Anda melihat sebuah buku yang terbuka, berhentilah sejenak. Ingatlah naskah hidup Benjamin. Tanyakan pada diri sendiri: 'Apakah naskah hidupku hari ini ditulis dengan kasih atau dengan keegoisan?'.
Dan jika Anda merasa lelah atau berduka, ingatlah bahwa Allah sedang memegang naskah hidup Anda. Ia tidak akan membiarkan naskah itu berakhir dengan kesedihan. Di tangan-Nya, setiap titik akan menjadi koma, dan setiap perpisahan adalah persiapan untuk perjumpaan yang lebih mulia.
Benjamin Vo, anak yang manis, jenius, dan lembut... terima kasih telah mengajar kami tentang hikmat yang sejati. Teruslah terbang tinggi di langit surgawi. Kami akan terus menjaga api kasihmu tetap menyala di sini, sampai tiba saatnya kita semua berkumpul kembali dalam Perjamuan Abadi, di mana tidak ada lagi air mata, hanya ada tawa dan sukacita yang tak berakhir.
Tetaplah kuat, Alan, Thao, dan Ryan. Tuhan beserta kita, sekarang dan selama-lamanya.
Amin.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita dari segala jahat, dan menuntun kita ke hidup yang kekal. Pergilah dalam damai, kasih Kristus menyertai kita senantiasa. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.