Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin. Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah Bapa, dan persekutuan Roh Kudus bersamamu.
Tuhan Yesus, Engkau menampakkan kemuliaan-Mu di atas gunung yang kudus untuk menguatkan hati para murid-Mu. Kasihanilah kami. Kristus Yesus, Engkau hadir sebagai Terang yang menyinari kegelapan hidup kami. Kasihanilah kami. Tuhan Yesus, Engkau mengajak kami untuk bangkit dan tidak takut. Kasihanilah kami.
Pernahkah Anda berdiri memandang ke atas awan-awan langit dan merasakan betapa indahnya keagungan Allah?
Hari ini, pada Pesta Transfigurasi Tuhan, Injil membawa kita naik ke gunung yang tinggi bersama Yesus. Di sana, wajah-Nya bercahaya seperti matahari, dan awan yang terang menaungi mereka. Suara Bapa terdengar dari dalam awan: “Inilah Anak yang Kuasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan; dengarkanlah Dia.”
Nabi Daniel pun melihat penglihatan akan Anak Manusia yang datang di atas awan-awan langit. Dan Rasul Petrus mengingatkan kita bahwa Sabda Tuhan adalah seperti “pelita yang bercahaya di tempat yang gelap, sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit.”
Ketika para murid tersungkur karena takut, apa yang dilakukan Yesus? Ia mendekat, menyentuh mereka, dan berkata: “Bangkitlah, jangan takut.”
Tujuh minggu telah berlalu sejak Benjamin Vo berpulang ke rumah Bapa. Bagi Alan, Thao, dan Ryan, kerinduan ini tentu masih terasa begitu tebal…
Namun ketika kita memikirkan awan-awan yang terang dan kemuliaan langit, kita teringat akan sebuah sukacita yang selalu membuat mata Ben berbinar. Benjamin memiliki kekaguman yang begitu dalam terhadap dunia penerbangan dan pesawat terbang. Betapa seringnya Ben tersenyum manis dan terkekeh gembira saat bercita-cita tentang dunia penerbangan… Saat melakoni *airport spotting* bersama ayahnya, Ben selalu memandang ke atas langit dengan rasa ingin tahu yang murni.
Bagi Benjamin, langit dan awan bukan sekadar batas pandangan, melainkan tempat di mana keindahan melambung tinggi.
Hari ini, Terang Transfigurasi membisikkan bahwa kegelapan duka tidak pernah memiliki kata terakhir. Ben tidak hilang; ia kini berada di dalam Terang Kristus yang abadi, melampaui awan-awan fana menuju pelukan Bapa.
Saat rasa cemas atau kesedihan menyapa, dengarlah sentuhan lembut Yesus yang berkata kepada hati kita: “Bangkitlah, jangan takut.”
Untuk Alan, Thao, dan Ryan… serta seluruh keluarga: tataplah langit dengan penuh pengharapan. Biarlah terang kasih Kristus menuntun langkah Anda untuk tetap saling menguatkan demi Ryan.
Dan bagi siapa pun yang mendengarkan dari jauh—anak-anak yang sedang sakit, serta setiap keluarga yang memikul beban berat: biarlah Sabda Tuhan menjadi pelita di tempat yang gelap hingga Bintang Timur terbit di hati kita.
Dalam pelukan Bunda Maria dan kemuliaan Kristus, kita melangkah dengan teguh. Amin.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita dari yang jahat, dan membawa kita ke kehidupan kekal dalam Kristus Yesus. Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.