Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.
Semoga kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kita semua.
Tuhan kasihanilah kami. Kristus kasihanilah kami. Tuhan kasihanilah kami.
Saudari-saudaraku terkasih dalam Kristus,
Hari ini, kita merayakan Pesta Santo Yakobus Rasul, seorang murid yang berani, yang bersama saudaranya Yohanes, disebut 'anak-anak guruh' oleh Yesus. Bacaan-bacaan kita hari ini berbicara tentang kekuatan yang melampaui diri kita, dan tentang panggilan untuk melayani, bukan untuk berkuasa.
Dalam Bacaan Pertama dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus, kita mendengar sebuah kebenaran yang mendalam: “Harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpau itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Bukankah ini sebuah gambaran yang indah? Kita adalah bejana tanah liat, rapuh, mudah pecah, tetapi di dalam kita ada harta yang tak ternilai: kehidupan Yesus, kekuatan Allah. Kita mungkin 'ditekan dari segala arah, tetapi tidak terjepit; kami bingung, tetapi tidak putus asa; kami dianiaya, tetapi tidak ditinggalkan; kami dihempaskan, tetapi tidak binasa.' Ini adalah janji bahwa di tengah kerapuhan dan kesulitan kita, kekuatan Allah yang melampaui segalanya bekerja di dalam kita.
Dan kemudian, dalam Injil Matius, kita melihat sebuah adegan yang jujur tentang ambisi manusia. Ibu dari anak-anak Zebedeus, Yakobus dan Yohanes, mendekati Yesus dengan permintaan yang berani: “Perintahkanlah agar kedua anakku ini boleh duduk, seorang di sebelah kanan-Mu dan seorang lagi di sebelah kiri-Mu dalam Kerajaan-Mu.” Sebuah permintaan untuk kehormatan, untuk posisi. Tetapi Yesus menjawab dengan kebijaksanaan ilahi: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta.” Ia kemudian mengajari mereka—dan kita—tentang jalan yang sebenarnya menuju kebesaran: bukan melalui kekuasaan, tetapi melalui pelayanan. “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.” Jalan Yesus adalah jalan pelayanan, jalan pengorbanan.
Benjamin Vo, Ben yang kita cintai, adalah seorang anak dengan pikiran yang brilian dan hati yang lembut. Ia memiliki rasa ingin tahu yang tak terbatas, selalu ingin belajar dan memahami. Dari matematika hingga teknologi canggih, ia terus menjelajahi dunia dengan semangat yang luar biasa. Ben tidak mencari kekuasaan atau kehormatan, tetapi ia mencari pengetahuan, mencari cara untuk memahami dunia, dan ia melakukannya dengan hati yang terbuka dan penuh kebaikan. Rasa ingin tahunya yang mendalam, hasratnya untuk belajar, adalah cerminan dari hati yang mau melayani kebenaran, sebuah bejana yang siap diisi dengan harta kebijaksanaan.
Enam minggu telah berlalu sejak Benjamin pergi. Bagi Alan dan Thao, bagi Ryan, dan bagi semua paman, bibi, serta mereka yang sangat mencintai Benjamin, saya tahu bahwa hati Anda mungkin terasa seperti bejana tanah liat yang retak, penuh dengan kesedihan dan pertanyaan. Mungkin ada saat-saat di mana Anda merasa tertekan, bingung, atau bahkan dihempaskan. Namun, ingatlah kata-kata Paulus: “kekuatan yang melampau itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Di tengah kerapuhan Anda, kekuatan Allah bekerja. Dia tidak meninggalkan Anda. Dia memegang Ben dalam pelukan-Nya yang penuh kasih, dan Dia juga memegang Anda.
Bagi kita semua, marilah kita belajar dari Santo Yakobus, yang akhirnya mengerti panggilan pelayanan, dan dari Ben, yang hatinya selalu ingin tahu dan lembut. Marilah kita ingat bahwa kebesaran sejati terletak pada pelayanan, pada memberi diri kita untuk orang lain, pada membiarkan kekuatan Allah bekerja melalui kerapuhan kita. Dan bagi siapa pun yang mendengarkan dari jauh, terutama anak-anak lain yang menderita, atau keluarga mana pun yang memikul salib yang berat: Tuhan melihat setiap air mata Anda. Dia adalah sumber kekuatan Anda. Dia adalah harapan Anda. Dia akan mengubah tangisan Anda menjadi sorak-sorai, seperti janji Mazmur hari ini: “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.” Teruslah percaya, teruslah berharap, karena kasih-Nya tak pernah berakhir. Amin.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita dari segala yang jahat, dan membawa kita kepada hidup yang kekal. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.