Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.
Saudari-saudaraku terkasih dalam Kristus, selamat datang dalam Liturgi Sabda dan Doa hari ini. Marilah kita membuka hati kita untuk Tuhan.
Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.
Saudari-saudaraku terkasih dalam Kristus,
Bacaan-bacaan kita hari ini menyajikan sebuah kontras yang tajam: antara mata yang melihat dan telinga yang mendengar, serta hati yang bebal. Dalam Bacaan Pertama dari Kitab Yeremia, kita mendengar Tuhan dengan sedih mengingat kesetiaan umat-Nya di masa muda, bagaimana mereka mengikuti-Nya di padang gurun. Namun, kemudian mereka berpaling, melakukan dua kejahatan besar: “mereka telah meninggalkan Aku, sumber air hidup; mereka telah menggali sendiri sumur-sumur, sumur-sumur yang retak, yang tidak dapat menahan air.” Sebuah gambaran yang menyedihkan, bukan? Meninggalkan sumber kehidupan yang melimpah demi sesuatu yang rusak dan tidak berguna.
Kemudian, dalam Injil Matius, para murid bertanya kepada Yesus, “Mengapa Engkau berbicara kepada orang banyak dalam perumpamaan?” Dan Yesus menjelaskan bahwa kepada mereka telah diberikan pengetahuan tentang misteri Kerajaan Surga, tetapi kepada orang lain tidak. Ia mengutip nabi Yesaya: “Kamu akan mendengar, tetapi tidak mengerti, kamu akan melihat, tetapi tidak memahami.” Ini bukan karena Tuhan ingin menyembunyikan kebenaran, tetapi karena “hati bangsa ini telah menebal, telinga mereka berat mendengar, dan mata mereka terpejam.” Mereka memilih untuk tidak melihat, tidak mendengar, dan tidak mengerti. Mereka telah menutup diri dari sumber air hidup.
Namun, Yesus kemudian berkata, “Tetapi berbahagialah matamu, karena melihat, dan telingamu, karena mendengar.” Berbahagialah kita yang diberi karunia untuk melihat dan mendengar kebenaran, untuk mengenal Yesus, untuk memahami kasih Allah. Ini adalah sebuah anugerah, sebuah berkat yang luar biasa, untuk dapat melihat terang dalam dunia yang seringkali gelap, untuk dapat mendengar panggilan Tuhan di tengah hiruk pikuk kehidupan.
Benjamin Vo, Ben yang kita cintai, adalah seorang anak yang memiliki rasa ingin tahu yang tak terbatas. Ia adalah seorang yang cerdas, selalu ingin tahu bagaimana segala sesuatu bekerja, dari teknologi canggih hingga mekanisme pesawat terbang. Rasa ingin tahu Ben ini, semangatnya untuk belajar dan memahami, adalah cerminan dari keinginan hati manusia untuk mencari kebenaran, untuk mencari hikmat. Ia selalu ingin tahu lebih banyak, dan itu adalah karunia yang indah. Ia adalah seseorang yang matanya melihat dan telinganya mendengar, yang hatinya terbuka untuk memahami dunia di sekitarnya, dan melalui itu, saya percaya, juga memahami misteri-misteri Allah.
Lima minggu telah berlalu sejak Benjamin pergi. Bagi Alan dan Thao, bagi Ryan, dan bagi semua paman, bibi, serta mereka yang sangat mencintai Benjamin, saya tahu bahwa ada saat-saat di mana hati mungkin terasa berat, mata mungkin kabur karena air mata, dan telinga mungkin sulit mendengar kata-kata penghiburan. Kita mungkin merasa seperti sumur yang retak, yang tidak dapat menahan air sukacita. Tetapi ingatlah Mazmur hari ini: “Pada-Mu ada sumber kehidupan, ya Tuhan.” Allah adalah sumber air hidup yang tak pernah kering. Ben kini berada dalam terang-Nya, di mana segala rasa ingin tahunya telah terpenuhi dalam kebijaksanaan ilahi, dan ia minum dari sumber kehidupan itu sendiri.
Bagi kita yang masih di sini, yang mungkin bergumul dengan kesedihan dan pertanyaan, marilah kita membuka mata dan telinga hati kita. Marilah kita tidak menutup diri dari kasih Allah, dari sumber air hidup yang Ia tawarkan. Ia ingin menyembuhkan kita, seperti yang dikatakan Yesaya. Ia ingin memberi kita pengharapan. Dan bagi siapa pun yang mendengarkan dari jauh, terutama anak-anak lain yang mungkin menderita, atau keluarga mana pun yang memikul salib yang berat: Tuhan melihat Anda. Ia mendengar Anda. Ia memegang Anda. Jangan pernah berpikir Anda sendirian atau tidak terlihat. Ia adalah sumber kehidupan kita, dan di dalam terang-Nya kita melihat terang. Amin.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita dari segala yang jahat, dan membimbing kita ke dalam hidup yang kekal. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.