Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.
Saudari-saudaraku terkasih dalam Kristus, selamat pagi. Marilah kita memulai Liturgi Sabda kita ini dengan Tanda Salib yang kudus.
Tuhan kasihanilah kami. Kristus kasihanilah kami. Tuhan kasihanilah kami.
Saudari-saudaraku terkasih dalam Kristus,
Bacaan-bacaan kita hari ini mengundang kita untuk merenungkan apa yang sesungguhnya Allah kehendaki dari kita. Dalam Bacaan Pertama dari Kitab Mikha, Tuhan mengajukan pertanyaan yang menyentuh hati kepada umat-Nya: “Hai umat-Ku, apakah yang telah Kulakukan kepadamu? Atau dengan apakah Aku telah menyusahkan engkau? Jawablah Aku!” Ini adalah seruan dari hati seorang Bapa yang merindukan umat-Nya untuk memahami kebaikan-Nya, untuk mengingat bagaimana Ia telah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir.
Dan kemudian, Mikha dengan indah merangkum apa yang Tuhan tuntut: “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik, dan apa yang dituntut TUHAN dari padamu: berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup rendah hati di hadapan Allahmu.” Bukan persembahan yang mahal, bukan ribuan domba, bukan minyak yang berlimpah, tetapi hati yang tulus yang mau berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan berjalan rendah hati bersama Tuhan.
Dalam Injil, kita melihat kontras yang mencolok. Orang-orang Farisi dan ahli Taurat mencari tanda, mereka ingin melihat mukjizat spektakuler dari Yesus. Tetapi Yesus menolak. Ia berkata, “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini mencari tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” Mengapa? Karena mereka tidak mencari kebenaran dengan hati yang tulus, mereka tidak mencari Tuhan dengan kerendahan hati. Mereka hanya mencari pertunjukan, bukan pertobatan.
Bukankah ini sering terjadi pada kita juga? Kita mencari tanda-tanda besar, mukjizat yang mencolok, sementara Tuhan sebenarnya telah menunjukkan kasih-Nya dan kehendak-Nya dalam hal-hal yang sederhana: dalam keadilan, dalam kesetiaan, dalam kerendahan hati. Tuhan tidak membutuhkan persembahan yang mewah jika hati kita jauh dari-Nya. Ia menginginkan hati yang dekat, hati yang mau mengikuti jalan-Nya dengan rendah hati.
Benjamin Vo, Ben yang kita cintai, adalah seorang anak yang memiliki semangat gigih. Ia percaya bahwa “mencoba adalah yang terpenting.” Entah itu di lapangan bulu tangkis atau mencoba tim basket, ia memberikan segalanya. Ia tidak takut gagal; ia hanya bekerja keras. Semangat Benjamin untuk selalu mencoba, untuk memberikan yang terbaik, adalah cerminan dari hati yang tulus yang ingin melakukan apa yang benar, yang ingin bertumbuh. Ia tidak mencari pujian atau tanda-tanda besar, tetapi ia fokus pada tindakan, pada usaha, pada kesetiaan dalam hal-hal kecil, dan itu adalah karunia yang indah.
Lima minggu telah berlalu sejak Benjamin pergi. Bagi Alan dan Thao, bagi Ryan, dan bagi semua paman, bibi, dan orang-orang terkasih yang merasakan kehilangan ini, saya tahu bahwa pertanyaan-pertanyaan mungkin masih berputar di benak Anda. Mungkin ada kerinduan yang mendalam, sebuah kehampaan yang terasa nyata. Tetapi ingatlah bahwa Tuhan tidak menuntut persembahan yang tidak dapat kita berikan. Ia hanya meminta hati yang tulus, hati yang mau berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan berjalan rendah hati bersama-Nya. Ben telah melakukan itu. Ia telah berjalan dengan Tuhan, dan sekarang ia berada dalam kedamaian-Nya yang sempurna.
Bagi kita yang masih di sini, yang masih berjuang, marilah kita belajar dari Mikha dan dari semangat Ben. Marilah kita berhenti mencari tanda-tanda yang spektakuler dan sebaliknya fokus pada apa yang Tuhan tuntut dari kita setiap hari: keadilan dalam tindakan kita, kesetiaan dalam hubungan kita, dan kerendahan hati dalam iman kita. Ini adalah jalan menuju keselamatan Allah, jalan yang akan ditunjukkan kepada orang yang jujur, seperti janji Mazmur hari ini. Dan bagi siapa pun yang mendengarkan dari jauh, terutama anak-anak lain yang menderita, atau keluarga mana pun yang memikul salib yang berat: Tuhan melihat hati Anda. Ia tidak meminta yang mustahil, tetapi Ia selalu ada untuk menopang Anda dalam setiap langkah. Ia tidak pernah meninggalkan Anda. Amin.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga Allah yang mahakuasa memberkati kita, Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin. Pergilah dalam damai, memuliakan Tuhan dengan hidupmu.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.