Semoga rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Tuhan kita Yesus Kristus selalu beserta kita. Demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Array
Apa yang sesungguhnya paling berharga dan menjadi harta sejati dalam hidup kita?
Dalam Injil hari ini, seorang pemuda yang penuh semangat datang bersujud di hadapan Yesus. Ia bertanya, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?” Pemuda itu telah setia melakukan hukum Taurat: menghormati orang tuanya dan mengasihi sesama. Namun ketika Yesus mengajaknya untuk melangkah lebih jauh—“Juallah apa yang kaumiliki… maka engkau akan beroleh harta di Surga; kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku”—ia pergi dengan sedih karena terikat pada hal-hal duniawi.
Dalam Bacaan Pertama, Nabi Yehezkiel diingatkan betapa fana dan rentannya apa yang kasat mata di dunia ini. Harta duniawi, bahkan yang paling kita sayangi, pada akhirnya akan kita serahkan kembali ke tangan Sang Pencipta. Yesus mengingatkan kita bahwa harta yang kekal bukanlah apa yang kita genggam erat bagi diri sendiri… melainkan kasih dan ketulusan yang kita berikan sepenuhnya bagi Tuhan dan sesama.
Sembilan minggu telah berlalu sejak Benjamin Vo berpulang ke rumah Bapa. Bagi Alan, Thao, dan adiknya Ryan, sembilan minggu ini adalah masa-masa kerinduan yang mendalam akan kehadiran sosok anak dan kakak tercinta.
Namun ketika kita merenungkan sabda tentang harta surgawi ini, kita teringat akan ketulusan hati Benjamin.
Ben adalah anak yang tidak pernah takut untuk memberikan seluruh usahanya dengan hati yang murni. Kita mengenang semangat juangnya—terutama di lapangan bulu tangkis—ketika ia berjuang sekuat tenaga dengan keyakinan sederhana bahwa “mencoba dan berusaha dengan sepenuh hati adalah yang terpenting.” Ben tidak mencari pengakuan duniawi; ia bermain dengan sukacita, berjuang tanpa rasa takut gagal, dan selalu membawa senyuman yang membanggakan keluarganya.
Keberanian untuk memberikan yang terbaik, rasa hormat yang mendalam kepada orang tuanya, dan kasih tulus kepada saudaranya… itulah harta surgawi yang dihidupi oleh Benjamin Vo.
Ben kini telah berada di rumah Bapa, menikmati harta abadi yang tidak akan pernah pudar.
Untuk Alan, Thao, dan Ryan… serta seluruh paman dan bibi: pandanglah warisan ketulusan dan semangat juang yang ditinggalkan Benjamin. Teruslah melangkah bersama, saling menjaga, dan merawat Ryan dengan sukacita dan kasih yang sama.
Dan bagi siapa pun yang mendengarkan dari jauh—anak-anak yang sedang berjuang melawan rasa sakit, serta setiap keluarga yang memikul salib berat: percayalah bahwa setiap usaha dan kasih Anda diperhitungkan oleh Allah sebagai harta di Surga.
Dalam naungan Bunda Maria dan damai Kristus, kita menaruh pengharapan yang teguh. Amin.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita dari segala yang jahat, dan menghantar kita ke hidup yang kekal. Demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.