Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Semoga kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus menyertai kita semua.
Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.
Pernahkah Anda memperhatikan sebutir benih yang jatuh ke tanah? Di mata kita, ia tampak begitu kecil, hampir tidak berarti, seolah-olah ia hilang ditelan oleh kegelapan tanah. Namun, di dalam keheningan yang dalam itu, sesuatu yang ajaib sedang terjadi. Benih itu tidak sedang berakhir; ia sedang melepaskan dirinya, membuka kulitnya, dan membiarkan hidup yang tersimpan di dalamnya untuk pecah dan bertumbuh. Hari ini, Paulus dalam bacaannya menantang kita dengan sebuah perbandingan yang sangat konkret: 'Apa yang engkau taburkan tidak akan hidup, kalau ia tidak mati terlebih dahulu.' Kita sering memandang kematian sebagai titik akhir, sebagai sebuah tembok yang tidak bisa ditembus. Namun, iman kita mengajak kita untuk melihatnya sebagai sebuah proses penaburan—sebuah persiapan untuk sesuatu yang jauh lebih mulia, sesuatu yang incorruptible, yang tidak dapat binasa.
Sudah tiga bulan sejak Benjamin Vo pulang ke rumah Bapa. Bagi Alan dan Thao, dan bagi Ryan, tiga bulan ini adalah masa di mana duka itu datang mengetuk pintu hati seperti embun pagi yang dingin, terkadang lembut, terkadang menyengat. Kita menatap kursi yang kosong, kita mengingat tawa kecilnya, kecerdasannya yang cemerlang saat membahas infrastruktur cloud, atau senyum lebarnya saat membicarakan 'Con Chim Airlines'. Kita merasa seolah-olah ada benih yang telah tertanam di dalam tanah, dan kita merindukan buahnya di sini, di dunia ini. Namun, Tuhan menatap kita dengan belas kasih yang tak terhingga. Ia tidak meminta kita untuk tidak menangis; Ia sendiri menangis di depan makam Lazarus. Ia hanya meminta kita untuk percaya bahwa Ben—anak kita yang cerdas, yang hatinya begitu luas hingga ia pernah menawarkan seluruh tabungan celengannya untuk pamannya yang sakit—kini sedang menikmati kehidupan yang tidak lagi dibatasi oleh kerapuhan tubuh manusiawi.
Mari kita jujur pada rasa sakit ini. Ada hari-hari ketika beban itu terasa begitu berat, ketika pertanyaan 'mengapa' terus berputar di kepala. Alan dan Thao, di dalam keheningan malam ketika musuh jiwa mencoba membisikkan keraguan—bertanya apakah ada yang terlewat, apakah ada yang bisa dilakukan secara berbeda—dengarkanlah kebenaran ini dengan hati yang tenang. Penyakit yang dialami Benjamin bukanlah hukuman, bukan pula kegagalan dari kasih yang telah Anda curahkan dengan begitu sempurna. Tidak ada kewaspadaan manusiawi yang dapat menahan garis batas kehidupan yang sepenuhnya berada di dalam tangan Allah. Seperti yang Yesus katakan kepada para murid-Nya ketika menghadapi penderitaan yang tidak dapat dimengerti: itu bukan kesalahan siapa-siapa. Anda telah mencintai Ben dengan segenap jiwa raga Anda. Tuhan tidak pernah menuduh Anda, dan Benjamin memandang Anda dari keabadian dengan kasih yang murni tanpa ada jejak penyesalan. Letakkanlah batu berat rasa bersalah itu di kaki salib. Anda tidak melewatkan apa pun; Anda telah memberikan segalanya yang terbaik yang bisa diberikan oleh seorang ibu dan seorang ayah. Anda adalah tanah yang baik, yang telah memberikan kasih yang luar biasa bagi pertumbuhan jiwa Ben.
Dalam Injil hari ini, Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang penabur. Benih itu jatuh di berbagai tempat—di jalan, di tanah berbatu, di antara semak duri, dan di tanah yang subur. Perhatikanlah, Ben adalah anak yang hatinya adalah tanah yang subur. Ia tidak hanya mendengarkan firman, ia menghidupinya. Ingatkah Anda saat ia berdiri di atas kursi kecil di patio, menatap kamera dengan tatapan yang begitu lembut dan tenang? Itu adalah gambaran dari jiwa yang siap untuk Tuhan. Ia adalah anak yang cerdas, yang mampu membedah logika matematika, namun ia juga anak yang tahu bahwa kasih adalah logika tertinggi. Ketika ia menawarkan seluruh isi celengannya untuk pamannya, ia sedang menabur benih kemurahan hati yang tidak akan pernah hilang. Ia tidak memecahkannya, ia tidak perlu memamerkannya, karena ia tahu bahwa di mata Allah, niat hati yang murni sudah cukup.
Ben kini berada di tempat di mana benih itu telah tumbuh menjadi pohon kehidupan yang abadi. Ia tidak lagi terbatas pada dunia yang fana. Ia tidak lagi harus berjuang melawan kelelahan. Ia berada di perjamuan abadi, di mana kecerdasan dan rasa ingin tahunya yang luar biasa kini disinari oleh cahaya wajah Allah sendiri. Ia adalah 'benih' yang telah dibangkitkan dalam kemuliaan. Dan bagi Anda, Alan, Thao, dan Ryan, kasih itu tidak hilang. Ia terus hidup di dalam setiap tindakan kebaikan yang dilakukan atas namanya, di dalam setiap tetes air bersih dari sumur yang dibangun di Cà Mau, dan di dalam setiap doa yang Anda panjatkan. Kasih itu tetap mengalir.
Ryan, abangmu adalah teman seperjuanganmu. Kamu tahu betapa ia menyukai pesawat terbang dan bagaimana ia selalu menunggumu. Jangan pernah merasa bahwa ia jauh. Ia berada di dalam kasih Allah yang meliputi segala sesuatu. Ia ingin kamu terus belajar, terus bermimpi, dan terus berjalan dengan kepala tegak. Ia sedang bersorak untukmu dari garis finish di surga. Kasihnya adalah fondasi yang kokoh di bawah kakimu. Kamu tidak pernah sendirian dalam perjalananmu.
Saudara-saudari, mari kita mendarat pada satu hal konkret. Minggu ini, ketika duka itu datang mengetuk pintu hati Anda, jangan mencoba melawan atau memendamnya sendirian. Berhentilah sejenak. Ambil napas dalam-dalam, dan arahkan pandangan Anda pada kepastian kebangkitan Kristus. Lakukan satu tindakan kecil yang penuh kasih dalam nama Ben—mungkin mendengarkan seseorang yang kesepian, atau memberikan senyuman kepada mereka yang sedang lelah menjalani hari. Biarkan kasih Ben, yang kini terus mengalir melalui sumur air kehidupan di Cà Mau, Vietnam, menjadi tanda bahwa cinta tidak pernah mati, melainkan terus memberi hidup. Benjamin Vo, anak yang manis, cerdas, dan lembut... beristirahatlah dalam damai abadi di dalam terang Kristus. Doakanlah kami yang masih berziarah ini, agar kami senantiasa setia memikul salib kami dengan penuh pengharapan. Tetaplah kuat, Alan, Thao, dan Ryan. Tuhan memegang tangan kalian, dan di dalam kasih Bunda Maria dan Putra-Nya, kalian aman.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga Allah yang Mahakuasa memberkati kita, melindungi kita dari segala bahaya, dan membawa kita kepada kehidupan yang kekal. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.