Sabda Harian

Hari Minggu Biasa XXII

Sunday, August 30, 2026 · in memory of Ben
Ibadat ini adalah pelengkap Misa, bukan pengganti Misa.
Ritus Pembuka

Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin. Semoga rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah Bapa, dan persekutuan Roh Kudus bersamamu.

Pernyataan Tobat

Tuhan Yesus Kristus, Engkau memanggil kami untuk memikul salib dan mengikut Engkau. Tuhan, kasihanilah kami. Engkau memurnikan hati kami di dalam tanur kasih-Mu yang kudus. Kristus, kasihanilah kami. Engkau menuntun langkah kami menembus kegelapan menuju terang kebangkitan. Tuhan, kasihanilah kami.

♪ “Kyrie (Version B)” — A song for Ben
Liturgi Sabda
Bacaan Pertama · Jeremiah 20:7-9
Engkau telah membujuk aku, ya TUHAN, dan aku telah dibiarkan dibujuk; Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menang. Sepanjang hari aku menjadi tertawaan, siapa pun mengolok-olok aku. Sebab setiap kali aku berbicara, aku harus berteriak, aku harus berseru: "Kekerasan! Pembinasaan!" Sebab firman TUHAN telah menjadi cela dan cemooh bagiku, sepanjang hari. Tetapi apabila aku berkata: "Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya," maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku lelah menahannya, dan aku tidak sanggup lagi.
Mazmur Tanggapan · Psalm 63:2, 3-4, 5-6, 8-9
R. Jiwaku haus akan Engkau, ya Tuhan, Allahku. Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau; jiwaku haus akan Engkau, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering, tandus dan tanpa air. R. Jiwaku haus akan Engkau, ya Tuhan, Allahku. Demikianlah aku memandang Engkau di tempat kudus, melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Sebab kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. R. Jiwaku haus akan Engkau, ya Tuhan, Allahku. Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menengadahkan tanganku demi nama-Mu. Sebab Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai. R. Jiwaku haus akan Engkau, ya Tuhan, Allahku. Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu memegang aku. R. Jiwaku haus akan Engkau, ya Tuhan, Allahku.
Bacaan Kedua · Romans 12:1-2
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Bait Pengantar Injil · Ephesians 1:17-18
Alleluia. Semoga Bapa Tuhan kita Yesus Kristus menerangi mata hati kita, agar kita mengerti betapa besarnya harapan yang terkandung dalam panggilan kita. Alleluia.
Bacaan Injil · Matthew 16:21-27
Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegor Dia, katanya: "Bebaskalah Allah dari hal itu, Tuhan! Moga-moga itu jangan sekali-kali terjadi atas Engkau." Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis! Engkau suatu batu sandungan bagiku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa untungnya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Atau apakah yang dapat dibikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya."
Jiwaku haus akan Engkau, ya Tuhan, Allahku.
Homili

Bayangkan sebuah jalan berbatu di perbukitan Yudea. Udara siang itu panas dan berdebu. Yesus sedang berjalan di depan, menuntun para murid-Nya menuju satu titik yang pasti: Yerusalem. Langkah-langkah kaki mereka terdengar konstan di atas tanah yang keras. Namun tiba-tiba, langkah itu terhenti.

Petrus, dengan kasih manusiawinya yang besar namun polos, melangkah maju. Ia merangkul bahu Guru-Nya, menarik-Nya agak menjauh dari rombongan, lalu berbisik dengan nada cemas dan penuh keberatan: "Bebaskanlah Allah dari hal itu, Tuhan! Moga-moga itu jangan sekali-kali terjadi atas Engkau."

Dan di sanalah Yesus berbalik. Mata-Nya menatap langsung ke dalam mata Petrus. Lalu terucaplah kata-kata yang begitu tajam, begitu keras, namun lahir dari kedalaman kasih yang paling murni: "Enyahlah Iblis! Engkau suatu batu sandungan bagiku..."

Batu sandungan.

Sebuah batu jalanan yang terletak tepat di tempat kaki harus melangkah. Batu yang jika tidak disingkirkan akan membuat seseorang tersandung, jatuh, dan menghentikan perjalanannya. Petrus tidak bermaksud jahat. Ia mencintai Yesus. Ia ingin melindungi Yesus dari rasa sakit dan kemalangan. Namun, dalam keinginannya untuk menghindarkan Yesus dari salib, Petrus tanpa sadar bertindak sebagai batu yang menghalangi jalan kasih Allah.

Mari kita pegang erat-erat satu citra ini sepanjang perenungan kita hari ini: **"Batu Sandungan dan Langkah Kaki di Atas Jalan"**.

Sebab hari ini, kita diajak untuk melihat bagaimana iman Kristiani bukanlah sebuah perjalanan menghindari batu-batu jalanan, melainkan sebuah keberanian untuk terus melangkah—bahkan ketika jalan itu mendaki tajam dan salib terletak tepat di tengahnya.

Namun, saudara-saudari terkasih, sebelum kita melangkah lebih jauh ke dalam penghiburan Sabda Tuhan, kita harus berani berdiri di hadapan kebenaran yang jujur. Kita tidak boleh terburu-buru merapikan air mata tanpa terlebih dahulu mengakui betapa dalam luka yang sedang menganga.

Hari ini, kita berada di akhir Agustus. Sudah sekitar dua bulan berlalu sejak tanggal 13 Juni 2026. Dua bulan sejak Benjamin Vo mendahului kita pulang ke rumah Bapa.

Dua bulan...

Bagi orang-orang yang melintas di jalan raya, bagi dunia yang terus berputar dengan kesibukannya, dua bulan mungkin tampak seperti waktu yang cukup untuk merapikan kembali rutinitas. Namun bagi sebuah keluarga yang kehilangan—bagi Alan, bagi Thao, dan bagi Ryan—dua bulan adalah waktu di mana keheningan mulai menetap. Keheningan yang tidak lagi sementara. Keheningan yang memiliki beratnya sendiri.

Ada waktu-waktu di mana pintu rumah terbuka, dan untuk satu detik yang singkat, hati kecil berharap mendengar langkah kaki Ben yang riang. Namun yang menyambut hanyalah ruang tamu yang tenang. Ada meja makan di mana satu kursi kini terasa sangat lengang. Ada sudut-sudut kamar tempat kenangan berbisik begitu tajam, membawa rasa rindu yang menyerbu tanpa peringatan di tengah malam.

Rasa sakit kehilangan Benjamin bukanlah sesuatu yang bisa dihilangkan dengan kata-kata manis atau penghiburan yang terburu-buru. Kehilangan seorang putra, seorang abang, seorang remaja berusia lima belas tahun yang begitu hidup dan dicintai, adalah sebuah batu salib yang amat sangat berat di tengah jalan hidup kalian.

Dan di dalam keheningan duka itulah, sering kali bayang-bayang gelap merayap masuk ke dalam pikiran orang tua yang sedang terluka. Dalam kesunyian malam, ketika air mata menetes tanpa suara, sering kali muncul pertanyaan-pertanyaan yang menyiksa batin Alan dan Thao:

*"Apakah ada sesuatu yang kurang dari kami? Apakah ada pengawasan yang terlewatkan? Apakah ada tindakan yang seharusnya kami lakukan lebih cepat? Mengapa jalan ini menjadi begitu kelam?"*

Beban rasa bersalah yang tidak pada tempatnya ini adalah batu sandungan terbesar yang sering dilemparkan oleh musuh jiwa ke atas hati orang-orang yang berduka.

Maka, Alan dan Thao, Ayah dan Ibu yang sangat dikasihi Tuhan... dengarkanlah kebenaran ini dengan segenap jiwa kalian hari ini.

Ketika para murid melihat seorang yang menderita sejak lahir, mereka bertanya kepada Yesus: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya?" Dan ingatlah apa yang dijawab oleh Yesus dengan sangat tegas dan lembut: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya." (Yohanes 9:3).

Apa yang terjadi dalam hidup Benjamin bukanlah sebuah hukuman dari Allah. Itu sama sekali bukan karena kesalahan kalian. Itu bukan karena ada kasih yang kurang, bukan karena ada perhatian yang luput, bukan karena ada kewaspadaan yang terlambat, dan bukan karena ada sesuatu yang gagal kalian lakukan sebagai orang tua.

Kalian tidak bersalah. Sama sekali tidak bersalah.

Penderitaan dan kerapuhan hidup di dunia ini kadang datang begitu saja, melampaui segala kendali dan daya upaya manusiawi kita—seperti awan gelap yang tiba-tiba menutup sinar matahari tanpa ada seorang pun yang sanggup menahannya. Tidak ada kewaspadaan manusiawi yang bisa mengubah garis yang telah ditentukan Allah.

Kalian telah menjadi orang tua yang luar biasa. Kalian telah melimpahi Benjamin dengan cinta yang tak terbatas. Kalian mendampinginya, membawanya melihat keindahan ciptaan Tuhan di berbagai belahan dunia, mendengarkan cerita-ceritanya dengan bangga, dan memeluknya dengan kehangatan yang paling tulus.

Tuhan tidak pernah menuduh kalian. Dan Benjamin, yang kini memandang kalian dari kemuliaan surga, tidak pernah menuduh kalian. Muka-Nya kini berseri-seri dalam terang Kristus, bebas dari segala kelesuan duniawi.

Maka hari ini, angkatlah batu berat rasa bersalah itu dari dada kalian. Letakkanlah batu itu di kaki salib Yesus. Biarkan Tuhan membebaskan hati kalian, sehingga yang tersisa di dalam rumah jiwa kalian hanyalah kenangan kasih yang murni, bersih, dan penuh dengan ucapan syukur atas lima belas tahun yang indah bersama Benjamin.

Di sinilah Sabda Tuhan dalam Bacaan Pertama hari ini bergema dengan begitu dahsyat. Nabi Yeremia berteriak dalam kepedihan jiwanya:

"Engkau telah membujuk aku, ya TUHAN, dan aku telah dibiarkan dibujuk; Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menang... Tetapi apabila aku berkata: 'Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya,' maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku lelah menahannya, dan aku tidak sanggup lagi."

Yeremia merasakan betapa beratnya jalan yang harus ia tempuh. Ada saat-saat di mana ia ingin menyerah, ingin berhenti berbicara, ingin menutup pintunya dan melupakan segalanya karena rasa sakit yang terlalu besar. Namun, apa yang terjadi? Kasih Allah di dalam dirinya bukanlah air yang mudah padam; kasih Allah adalah **api yang terbakar di dalam tulang-tulangnya**.

Kasih yang murni tidak pernah hilang oleh kematian. Kasih yang Alan, Thao, dan Ryan miliki untuk Ben—dan kasih yang Ben miliki untuk kalian—adalah api yang ditaruh Allah di dalam tulang-tulang kalian. Api itu mungkin terasa membakar ketika duka sedang memuncak, tetapi api itu juga yang memberikan kehangatan dan daya untuk bertahan di tengah malam yang paling dingin.

Dan inilah yang ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam Bacaan Kedua hari ini kepada jemaat di Roma:

"Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu..."

Dunia mengajarkan kita untuk melarikan diri dari setiap rasa sakit, mencari kenyamanan instan, dan mengukur kebahagiaan hanya dari apa yang kelihatan mulus di luar. Dunia memandang salib sebagai kegagalan total. Namun Paulus mengingatkan kita: ibadah yang sejati bukanlah hidup tanpa luka, melainkan mempersembahkan seluruh hidup kita—termasuk air mata kita, kerinduan kita, dan salib kita—ke atas mezbah Allah.

Ketika Yesus berkata dalam Injil hari ini, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku," Yesus tidak sedang mengundang kita menuju kebinasaan. Ia sedang menunjukkan satu-satunya jalan menuju kehidupan sejati.

Memikul salib berarti berani terus melangkah di jalan kasih, meskipun jalan itu terluka. Memikul salib berarti tidak membiarkan penderitaan membuat hati kita menjadi keras, dingin, atau putus asa.

Dan ketika kita melihat pada kehidupan Benjamin Vo, kita melihat seorang remaja yang tahu persis apa artinya melangkah dengan tekun dan tidak pernah menyerah.

Ben adalah seorang anak dengan kecerdasan yang sangat tajam dan jiwa yang begitu lembut. Namun di balik kejeniusannya dalam logika dan teknologi, Ben memiliki sebuah jiwa petarung. Ia memiliki prinsip hidup yang sangat indah yang selalu ia pegang teguh: *"trying is all that matters"*—mencoba dan berusaha adalah segalanya.

Ingatlah bagaimana Ben memberikan seluruh dirinya saat berada di lapangan badminton atau saat berusaha keras dalam kegiatan olahraga. Ia tidak pernah takut gagal. Ia tidak peduli apakah jalannya sulit atau tubuhnya lelah; ia hanya maju dan memberikan yang terbaik dari dirinya. Bagi Ben, yang terpenting bukanlah kemudahan hasil akhir, melainkan keberanian untuk mencoba, keberanian untuk melangkah.

Mari kita bayangkan sebuah momen sederhana yang pernah diabadikan dalam kenangan keluarga:

Di sebuah pantai yang teduh, dengan angin laut yang berembus pelan dan dermaga kayu yang membentang jauh di belakang, Ben dan adiknya, Ryan, sedang berjongkok bersama di atas pasir yang lembut. Mereka mengenakan jaket hangat. Jemari mereka yang lincah sibuk menggali pasir, membentuk sebuah bangunan kecil, dan membuat celah untuk mengalirkan air laut ke dalam kolam buatan mereka.

Tidak ada keramaian yang megah di sana. Hanya ada dua bersaudara yang duduk berdampingan, sangat fokus, sangat menikmati momen itu bersama. Wajah Ben dipenuhi dengan ketenangan dan ketekunan. Di sana, di tepi pantai itu, Ben tidak sedang memikirkan kerumitan dunia; ia sedang membagikan kesenangan yang murni dengan adiknya, Ryan.

Persaudaraan antara Ben dan Ryan adalah sebuah ikatan yang sangat indah. Mereka adalah sahabat karib, teman berpetualang, dan rekan bermain. Di kapal kayu saat menikmati makan siang bersama, di bangku gereja di bawah pendar cahaya kaca patri, atau di tepi pantai saat menggali pasir, mereka selalu ada untuk satu sama lain.

Ryan, adikku yang terkasih...

Abangmu, Ben, sangat mencintaimu. Ketekunan Ben saat bertanding di lapangan, jiwanya yang selalu berusaha memberikan yang terbaik, kini menjadi warisan yang ia tinggalkan khusus untukmu. Ben tidak ingin kamu berhenti melangkah. Ben tidak ingin kamu membiarkan duka menjadi batu sandungan yang menghentikan langkah kaki hidupmu.

Setiap kali kamu belajar, setiap kali kamu melangkah ke depan, ingatlah bahwa abangmu sedang tersenyum bangga melihatmu. Kasih yang kalian bagikan saat berjongkok bersama di pasir pantai itu tidak pernah terhapus oleh ombak waktu. Kasih itu tetap hidup di dalam hatimu.

Dan ingatlah sebuah mimpi yang dialami oleh ayahmu pada tanggal 25 Juni 2026.

Dalam mimpi itu, sang ayah berdiri di luar pintu kamar, memeluk Ben dengan sangat erat, merasakan seluruh pergumulan dan kebebasan jiwanya. Dan di tengah momen itu, Ben menatap ayahnya, lalu dengan tenang dan tulus berucap:

*"Tidak apa-apa, aku akan selalu menjaga Papa dan Mama."*

*"Không sao đâu, con sẽ dõi theo ba mẹ."*

Dengarkanlah kata-kata itu, Alan dan Thao. Dengarkanlah kata-kata itu, Ryan.

*"Tidak apa-apa... aku akan selalu menjaga kalian."*

Ben tidak sedang berada di tempat yang jauh dan asing dalam penderitaan. Ben telah tiba di tempat di mana tidak ada lagi beban yang berat, tidak ada lagi batu sandungan. Ia telah melintasi jalan itu, dan kini dari surga—dari Perjamuan Abadi di mana ia berada bersama Santo Carlo Acutis—ia memandang kalian dengan penuh kedamaian. Ia menjadi malaikat pelindung yang berjalan di samping kalian, menjaga setiap langkah keluarga yang sangat dikasihinya.

Dan lihatlah bagaimana kasih Benjamin terus memancar di bumi ini!

Nama tengah Benjamin adalah **Đại Dương**, yang berarti "Samudra Luas". Dan hari ini, kasihnya yang luas seperti samudra itu tidak terhenti oleh batas kematian. Melalui ketulusan hati yang sunyi, sebuah sumur air bersih telah dibangun dan didedikasikan atas namanya di Cà Mau, Vietnam—**Giếng Gioan Baotixita**.

Dari sumur itu, air yang jernih dan segar kini mengalir setiap hari, memberi kehidupan dan kesegaran bagi masyarakat yang membutuhkan. Seperti air yang mengalir dari sumur itu, demikianlah kenangan dan kebaikan hidup Benjamin terus memberi kesegaran dan harapan bagi dunia ini. Kasihnya tidak mati; kasihnya bertransformasi menjadi mata air berkat bagi sesama.

Saudara-saudari terkasih, Yesus berkata dalam Injil hari ini:

"Siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya."

Hidup Benjamin yang singkat di bumi—lima belas tahun yang penuh dengan kebaikan, kerendahan hati, rasa hormat kepada orang tua, dan kasih kepada sesama—bukanlah sebuah hidup yang hilang. Itu adalah hidup yang telah ditemukan dan dimuliakan di dalam Kristus. Ben telah memberikan yang terbaik yang ia miliki, dan kini Kristus memberikan keabadian baginya.

Maka, sebelum kita melangkah keluar dari tempat ini dan kembali ke dalam rutinitas hidup kita minggu ini, mari kita membawa satu hal kecil yang konkret untuk kita pegang.

Sepanjang minggu ini, ketika Anda sedang berjalan—baik di dalam rumah, di tempat kerja, atau di jalanan—dan Anda melihat sebuah batu kecil tergeletak di tanah...

Berhentilah sejenak. Lihatlah batu itu.

Ingatlah perenungan kita hari ini. Tanyakan pada diri Anda sendiri: *"Apakah saya sedang membiarkan duka, rasa takut, atau keputusasaan menjadi batu sandungan yang menghentikan langkah saya untuk mencintai? Atau mungkinkah saya diajak untuk memindahkan batu itu, memikul salib saya, dan terus melangkah maju bersama Kristus?"*

Dan setiap kali Anda melihat ke langit—melihat seekor burung terbang tinggi melintasi awan atau sebuah pesawat membumbung melintasi birunya cakrawala—tersenyumlah dengan lembut. Ingatlah tawa murni Benjamin saat membayangkan impian indahnya tentang "Con Chim Airlines".

Biarkan tawa kecilnya yang jujur itu menyegarkan jiwa Anda. Biarkan tawa itu mengingatkan kita semua bahwa perjalanan hidup kita di bumi ini adalah sebuah langkah menuju tempat yang lebih tinggi, tempat di mana tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi perpisahan, hanya ada sukacita yang abadi dalam pelukan Bapa.

Benjamin Vo sudah berada di sana. Ia sedang menanti kita di ujung jalan, dengan senyumnya yang paling cerah, menjaga kita semua sampai tiba saatnya kita dihimpun kembali dalam kasih Allah yang tak pernah berakhir.

Tetaplah kuat, Alan, Thao, dan Ryan. Teruslah melangkah dengan berani. Sebab Tuhan berjalan di depan kita, dan dalam naungan sayap-Nya, jiwa kita menemukan perlindungan yang sejati.

Semoga damai sejahtera Allah Bapa, yang melampaui segala akal, memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Amin.

Meditasi
♪ “Dalam Hening (Version A)” — A song for Ben
Doa Umat

For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:

“Hai Ben - butuh keajaiban di sini. Kami sangat merindukanmu dan kami kurang tidur. Ryan berharap kamu ada di sini, terutama hari Sabtu mendatang ini untuk bermain versi baru Project Flight bersamanya.” — Dad
… kami serahkan kepada Ben, yang membawanya kepada Tuhan.
℟ Ben, doakanlah kami.
“Ben sayang, paman kami Thanh telah berpulang. Tolong jaga dia dan doakan agar jiwanya menemukan kedamaian. Nama baptisnya adalah Phêrô. Tuhan, terima kasih telah mengirimkan Chu Thanh ke dalam hidupku. Aku akan selalu bersyukur atas waktu yang dia habiskan untuk mengajariku matematika saat di SMA dulu.” — Dad
… kami serahkan kepada Ben, yang membawanya kepada Tuhan.
℟ Ben, doakanlah kami.
“Tidak bisa berhenti memikirkanmu, Ben... berharap bisa kembali ke masa lalu dan mencoba mengubah segalanya... mungkin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu dan tidak terlalu banyak bekerja. Tolong doakan aku dan ibu.” — Dad
… kami serahkan kepada Ben, yang membawanya kepada Tuhan.
℟ Ben, doakanlah kami.
“Aku merindukanmu, Ben - akhir-akhir ini aku tidak bisa banyak tidur. Mampirlah untuk menyapa kapan pun kamu bisa. Sayang kamu.” — Dad
… kami serahkan kepada Ben, yang membawanya kepada Tuhan.
℟ Ben, doakanlah kami.
“Tolong doakan William. Tolong bantu ibunya melewati rasa duka karena sangat merindukannya.” — Dianna Maria
… kami serahkan kepada Ben, yang membawanya kepada Tuhan.
℟ Ben, doakanlah kami.
“Hai Ben, Ryan merindukanmu dan berharap kamu ada di sini untuk main game bersamanya. Tolong jaga dia dalam roh dan bimbing dia menjalani hidupnya. Bantu dia untuk tetap kuat dan menjaga imannya kepada Tuhan. Tolong pulanglah dan sapalah kami.”
… kami serahkan kepada Ben, yang membawanya kepada Tuhan.
℟ Ben, doakanlah kami.
“Tolong doakan Debora, dia telah meninggalkan suaminya Steve dua minggu yang lalu. Suaminya sangat menderita dan tidak bisa tidur.”
… kami serahkan kepada Ben, yang membawanya kepada Tuhan.
℟ Ben, doakanlah kami.
“Ben, tolong doakan Maria Nguyen Thi Thu Hang—semoga jiwanya beristirahat dalam damai. Suaminya, anh Vinh, sangat merindukannya dan berharap bisa bertemu dengannya di dalam mimpi. Tolong doakan juga agar dia menemukan kekuatan untuk bertahan sehingga bisa terus merawat ketiga anak laki-laki mereka.”
… kami serahkan kepada Ben, yang membawanya kepada Tuhan.
℟ Ben, doakanlah kami.

🕯 Nyalakan doamu sendiri di dinding doa →

Doa Bapa Kami

Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:

Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.

Lagu Komuni
♪ “Terang Kekudusan (Version A)” — A song for Ben
Ritus Penutup

✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.

Lagu Penutup
♪ “Sampai Jumpa Kembali (Version A)” — A song for Ben
Hari-hari Sebelumnya
Questions or comments? [email protected]