Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Semoga rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita semua.
Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.
Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana sebuah kompas bekerja? Di tengah badai yang paling dahsyat, di tengah kabut yang membutakan mata, jarum kompas itu tidak pernah goyah. Ia tidak mengikuti arah angin, tidak pula mengikuti arus ombak yang sedang mengamuk. Ia memiliki satu titik tujuan yang tetap: utara. Ia terus menunjuk ke sana, tenang dan pasti, karena ia terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Hari ini, kita merenungkan citra 'Kompas yang Setia'. Sebuah citra tentang bagaimana hidup kita, di tengah segala guncangan duka yang kita alami, tetap bisa memiliki arah jika kita terus memandang kepada Kristus. Sudah dua bulan berlalu sejak Benjamin Vo pulang ke rumah Bapa. Kita tahu, bagi Alan, Thao, dan Ryan, duka ini bukanlah sebuah peristiwa yang berlalu, melainkan sebuah medan yang sedang dilalui setiap hari. Ada kekosongan di rumah, ada kerinduan yang sering kali datang tanpa diundang, dan ada pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan di kedalaman hati. Hari ini, kita datang untuk meletakkan semua itu di kaki Tuhan.
Dalam Bacaan Pertama, Rasul Paulus berbicara dengan sangat jujur tentang 'waktu yang singkat'. Ia berkata, 'Isteri haruslah seperti yang tidak beristeri, orang yang menangis seolah-olah tidak menangis, orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira.' Paulus tidak sedang meminta kita untuk menjadi dingin atau tidak berperasaan. Ia sedang mengajak kita untuk tidak membiarkan dunia yang sementara ini—dengan segala kehilangannya—menjadi satu-satunya realitas kita. Ia ingin agar pandangan kita tetap terarah pada keabadian. Dunia ini, dalam bentuknya saat ini, sedang berlalu. Namun, kasih yang kita tanam dalam Tuhan, kasih yang kita bagikan kepada orang-orang terkasih, itu kekal.
Alan dan Thao, orang tua yang sangat dikasihi Tuhan... di dalam keheningan malam, ketika musuh jiwa mencoba melemparkan batu rasa bersalah—bisikan yang bertanya apakah kalian melewatkan sesuatu atau apakah ada yang bisa dilakukan secara berbeda—dengarkanlah kebenaran ini. Yesus menjawab pertanyaan tentang penderitaan dengan sangat jelas: itu bukan hukuman, bukan kesalahan orang tua, bukan kegagalan kasih. Penyakit yang dialami Benjamin bukanlah hasil dari sesuatu yang kalian lakukan atau tidak lakukan. Tidak ada kewaspadaan manusiawi yang bisa menahan batas-batas kehidupan yang sepenuhnya berada di tangan Allah. Kalian telah menjadi orang tua yang luar biasa, mencintai Ben dengan segenap jiwa, merangkul setiap senyumnya, dan mendukung setiap langkahnya. Tuhan tidak pernah menuduh kalian. Benjamin memandang kalian dari keabadian dengan kasih yang murni tanpa ada jejak penyesalan. Letakkanlah batu berat rasa bersalah itu di kaki salib Yesus. Biarkan diri kalian dibebaskan dari tuduhan yang bukan berasal dari Tuhan.
Dalam Injil hari ini, Yesus memandang para murid-Nya dan berkata, 'Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.' Ia tidak sedang memuji kemiskinan itu sendiri sebagai sebuah kebajikan, tetapi Ia sedang memuji mereka yang tidak lagi menggantungkan harapan pada dunia ini karena mereka telah kehilangan segalanya. Benjamin adalah seorang anak yang memiliki kompas yang luar biasa. Ia adalah seorang jenius muda yang memahami teknologi awan dan pemrograman, namun di balik pikiran tajamnya, ia adalah anak yang selalu gigih. Ingatlah bagaimana ia begitu mencintai dunia penerbangan, bagaimana ia bermimpi menciptakan 'Con Chim Airlines'. Ia adalah anak yang sangat peka, yang pernah menawarkan seluruh isi celengannya untuk membantu pamannya yang sakit. Ia tidak pernah memecahkannya, namun tawarannya adalah tanda hati yang murni, hati yang telah belajar mencintai sebagaimana Kristus mencintai.
Ben adalah seorang petualang. Ia telah melihat dunia, dari sudut-sudut bandara di Tokyo hingga keheningan grotto di Lourdes. Ia adalah seorang pejuang yang percaya bahwa 'mencoba adalah segalanya'. Sekarang, ia sedang berada di 'Banquet of Heaven', menikmati perjamuan abadi bersama Santo Petrus Claver, yang juga mendedikasikan hidupnya bagi mereka yang menderita. Ben tidak lagi terbatas oleh waktu atau ruang. Ia kini melihat pola utuh dari tenunan Allah yang selama ini ia jalani di dunia. Ia tidak lagi harus berjuang dengan tubuh yang lelah; ia kini berada di tangan Bapa yang penuh kasih.
Untuk Ryan, adik yang sangat dikasihi Ben... abangmu adalah teman berpetualangmu. Kamu tahu betapa ia menyukai pesawat terbang. Setiap kali kamu melihat pesawat melintas di langit, atau mendengar suara mesin jet, ingatlah bahwa itu adalah sapaan dari abangmu. Ia tidak pergi jauh. Ia berada di dalam kasih Allah yang meliputi segalanya. Ia ingin kamu terus bermimpi, terus belajar, dan terus menjadi anak yang baik seperti dirimu sekarang. Kasihnya adalah kekuatan yang menjagamu, sebuah kompas yang menghubungkan hatimu dengan hatinya di surga.
Saudara-saudari, mari kita mendarat pada satu hal kecil yang konkret untuk kita bawa keluar dari pintu gereja hari ini. Pada hari peringatan Santo Petrus Claver ini, kita diingatkan untuk melayani sesama dengan kasih yang tanpa syarat. Minggu ini, carilah satu kesempatan untuk melakukan kebaikan kecil yang tersembunyi—seperti tawaran Ben dengan celengannya—tanpa perlu diketahui orang lain. Jadilah kompas yang menunjukkan arah kasih Allah ke dalam hidup orang lain. Jangan biarkan duka membuat Anda merasa terputusir dari kasih Tuhan. Sebaliknya, biarkan kasih Ben, yang kini menjadi mata air kehidupan melalui sumur 'Giếng Gioan Baotixita' di Vietnam, terus mengalir dalam tindakan-tindakan kecil Anda.
Benjamin Vo, anak yang manis, cerdas, dan lembut... beristirahatlah dalam damai di ladang surgawi Bapa. Doakanlah kami yang masih berziarah di dunia ini, agar kami pun bisa menjadi alat yang setia dalam tenunan kasih Allah. Tetaplah kuat, Alan, Thao, dan Ryan. Tuhan memegang tangan kalian, dan di dalam kasih-Nya, kalian aman. Amin.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga berkat Allah yang Mahakuasa, Bapa, Putra, dan Roh Kudus, menyertai kita sekalian hari ini dan selamanya. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.