Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, marilah kita memulai ibadah kita dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.
Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Bayangkan sejenak sebuah kursi. Bukan kursi biasa di rumah kita, melainkan sebuah kursi yang megah, mungkin terbuat dari kayu berukir indah, ditempatkan di tempat yang tinggi, di depan banyak orang. Ini adalah ‘kursi Musa’ yang disebutkan Yesus dalam Injil hari ini. Sebuah simbol kekuasaan, otoritas, dan pengajaran. Siapa pun yang duduk di sana memiliki suara, memiliki pengaruh, memiliki kemampuan untuk membimbing dan mengarahkan.
Namun, Yesus tidak berbicara tentang kursi itu sendiri, melainkan tentang *siapa* yang duduk di sana dan *bagaimana* mereka menggunakannya. Ia berkata, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Oleh sebab itu, turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka katakan kepadamu, tetapi janganlah kamu menuruti perbuatan-perbuatan mereka. Karena mereka mengajarkannya, tetapi tidak melakukannya.” Ini adalah teguran yang tajam, sebuah kontras yang menusuk hati: mereka berbicara tentang kebenaran, tetapi hidup mereka tidak mencerminkan kebenaran itu.
Dan bukan hanya itu. Yesus melanjutkan dengan gambaran yang begitu kuat, begitu menyentuh, “Mereka mengikat beban-beban berat yang sukar dipikul, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya dengan satu jari pun.” Beban-beban berat… Kita semua tahu rasanya memikul beban. Beban ekspektasi, beban penilaian, beban tuntutan yang tak ada habisnya. Terkadang, beban itu datang dari luar, dari orang-orang yang seharusnya membimbing kita. Terkadang, ia datang dari dalam diri kita sendiri, dari suara-suara yang memberitahu kita bahwa kita tidak cukup baik, tidak cukup kuat, tidak cukup sempurna.
Dan di tengah kehidupan, ada beban yang jauh lebih berat dari sekadar aturan atau ekspektasi. Ada beban kehilangan yang tak terlukiskan. Bagi Alan dan Thao, bagi Ryan, bagi paman dan bibi, serta semua yang mencintai Benjamin, ada sebuah kursi yang kini kosong. Sebuah kekosongan yang terasa begitu nyata, begitu berat. Kerinduan akan senyumnya, kecerdasannya, kelembutan hatinya. Ini adalah beban yang terasa begitu berat, dan seringkali, kita merasa seperti tidak ada seorang pun yang bisa mengangkatnya, bahkan dengan satu jari pun.
Di saat-saat seperti itu, hati kita bisa merasa hancur, terbebani oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Mengapa? Mengapa harus seberat ini? Mengapa harus secepat ini? Dan terkadang, di tengah duka yang mendalam, kita mungkin merasa seolah-olah dunia, atau bahkan Tuhan, telah meletakkan beban yang tak tertanggungkan di atas bahu kita, dan tidak ada yang mau mengangkatnya.
Namun, bacaan pertama kita hari ini dari Nabi Yehezkiel memberikan kita gambaran yang sama sekali berbeda tentang kemuliaan dan kehadiran Allah. Yehezkiel melihat kemuliaan Allah Israel datang dari timur, dengan suara seperti deru air bah. “Bumi bersinar karena kemuliaan-Nya.” Dan ketika kemuliaan Tuhan masuk ke dalam Bait Suci, Yehezkiel jatuh tertelungkup. Kemuliaan Allah bukanlah tentang kursi yang tinggi atau pengakuan manusiawi; itu adalah kehadiran yang begitu agung, begitu murni, sehingga membuat kita merendahkan diri sepenuhnya. Allah berkata, “Di sinilah takhta-Ku, di sinilah Aku akan menempatkan telapak kaki-Ku; di sinilah Aku akan tinggal di antara anak-anak Israel selama-lamanya.”
Ini adalah kontras yang mencolok: kemuliaan manusiawi yang mencari pengakuan dan meletakkan beban, versus kemuliaan ilahi yang merendahkan diri dan memilih untuk *tinggal* di antara kita. Allah tidak duduk di kursi tinggi yang terpisah; Dia memilih untuk tinggal, untuk hadir, untuk menjadi bagian dari kehidupan kita, bahkan di tengah kerapuhan dan kesedihan kita.
Kembali ke Injil, Yesus mengkritik mereka yang “melakukan segala pekerjaan mereka supaya dilihat orang.” Mereka melebarkan tali sembahyangnya dan memperpanjang jumbai jubahnya. Mereka menyukai tempat terhormat dalam perjamuan, kursi terdepan di rumah ibadat, dan sapaan hormat di pasar. Mereka menginginkan gelar: ‘Rabi’, ‘Bapa’, ‘Guru’. Ini adalah dorongan manusiawi yang sangat kita kenal: keinginan untuk diakui, untuk dihormati, untuk merasa penting. Kita semua bergumul dengannya dalam berbagai bentuk, bukan? Dalam pekerjaan kita, dalam media sosial kita, bahkan dalam pelayanan kita di Gereja. Kita ingin dilihat, ingin dihargai, ingin nama kita disebut.
Tetapi Yesus membalikkan semua itu. Dia berkata, “Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah pula kamu disebut ‘Pemimpin’, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Kristus. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”
Ini adalah ajaran yang radikal, sebuah revolusi nilai-nilai. Keagungan sejati, otoritas sejati, kehormatan sejati bukanlah tentang gelar yang kita sandang, bukan tentang kursi yang kita duduki, bukan tentang seberapa banyak orang yang melihat kita. Keagungan sejati adalah tentang pelayanan. Tentang kerendahan hati. Tentang kesediaan untuk merendahkan diri, untuk mengangkat beban orang lain, untuk tidak mencari pengakuan diri sendiri.
Dan hari ini, Gereja merayakan Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Ratu. Bagaimana kita bisa memahami gelar ‘Ratu’ ini dalam terang ajaran Yesus yang radikal tentang kerendahan hati dan pelayanan? Apakah Maria adalah seorang Ratu yang duduk di kursi tinggi, meletakkan beban berat di atas bahu kita? Tentu saja tidak.
Maria adalah Ratu, bukan karena dia mencari takhta, melainkan karena dia sepenuhnya merendahkan dirinya. Ketika malaikat Gabriel datang kepadanya, ia tidak meminta gelar atau kekuasaan. Jawabannya yang sederhana, namun mengubah sejarah, adalah, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38). Sebuah ‘fiat’ yang penuh kerendahan hati, sebuah penyerahan diri total kepada kehendak Allah. Melalui kerendahan hati inilah, Maria menjadi Bunda Allah, menjadi Bait Suci hidup di mana kemuliaan Tuhan benar-benar berdiam. Seperti yang dilihat Yehezkiel, kemuliaan Tuhan masuk dan memenuhi. Di dalam Maria, kemuliaan itu berdiam secara pribadi, secara intim.
Seluruh hidup Maria adalah pelayanan. Ia melayani Elizabeth yang sudah tua. Ia melayani Yesus sepanjang hidup-Nya. Ia berdiri di kaki salib, berbagi dalam penderitaan Putranya. Ia berdoa bersama para Rasul setelah kenaikan Yesus. Ia tidak pernah mencari kehormatan bagi dirinya sendiri; ia selalu menunjuk kepada Putranya. Ia adalah Ratu karena Allah sendirilah yang meninggikannya, bukan karena ia meninggikan dirinya sendiri. Ia adalah teladan sempurna dari “barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Kemuliaan Tuhan, seperti yang diucapkan dalam Mazmur, benar-benar berdiam di dalam dirinya, dan melalui dirinya, di negeri kita.
Dan dalam terang ajaran Yesus yang mendalam ini, dalam terang teladan Bunda Maria yang rendah hati, kita juga dapat melihat kehidupan Benjamin Vo. Kita mengenang Ben sebagai anak yang memiliki hati yang begitu lembut, selalu tersenyum, dan sangat menghormati orang tuanya. Ben tidak pernah mencari tempat terhormat di perjamuan, tidak pernah meminta sapaan ‘Rabi’ atau ‘Guru’. Ia tidak pernah meninggikan dirinya sendiri. Sebaliknya, ia adalah anak yang secara alami menunjukkan rasa hormat yang mendalam kepada ayah dan ibunya. Ini bukan penghormatan yang dipaksakan atau dilakukan untuk dilihat orang lain; itu adalah penghormatan yang mengalir dari hati yang murni dan penuh kasih.
Ben adalah anak yang manis, yang kebahagiaannya terasa tulus dan tanpa usaha. Ia tidak memakai topeng, tidak berpura-pura. Ia hanya menjadi dirinya sendiri: seorang anak yang penuh rasa ingin tahu, seorang anak yang baik, seorang anak yang mencintai keluarganya. Dalam kesederhanaan dan kelembutan hatinya, dalam rasa hormatnya yang tulus, Ben mencerminkan kebenaran yang diajarkan Yesus: keagungan sejati tidak terletak pada apa yang kita klaim, tetapi pada bagaimana kita hidup, bagaimana kita mencintai, bagaimana kita menghormati orang lain. Kemuliaan Tuhan berdiam dalam hati yang tulus dan rendah hati seperti hati Ben.
Bagi Alan, Thao, dan Ryan, dan bagi kita semua yang berkumpul di sini, kehilangan Ben adalah beban yang sangat berat. Beban itu bisa terasa seperti batu besar di dada, seperti sesuatu yang tidak bisa diangkat. Terkadang, kita mungkin merasa ingin berteriak, “Siapa yang akan mengangkat beban ini bersamaku? Siapa yang akan menyentuhnya dengan satu jari pun?”
Tetapi ingatlah, Yesus tidak seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang meletakkan beban dan tidak mau menyentuhnya. Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Matius 11:28-29). Yesus datang untuk mengangkat beban kita, untuk memikulnya bersama kita. Dia adalah Guru kita yang sejati, Bapa kita yang sejati, Pemimpin kita yang sejati, yang menunjukkan keagungan-Nya melalui kerendahan hati dan pelayanan yang sempurna.
Dan Bunda Maria, Ratu kita, yang adalah Bunda Dukacita, juga memahami beban kesedihan yang kalian pikul. Ia tidak duduk di takhta yang jauh; ia adalah seorang Ibu yang hadir, yang memeluk kita dalam dukacita kita, yang membantu kita memikul salib kita dengan penuh kasih. Ia adalah Ratu yang melayani, Ratu yang berbelas kasih.
Benjamin Vo, dengan kelembutan hatinya, dengan rasa hormatnya yang tulus, dengan senyumnya yang tanpa usaha, telah menunjukkan kepada kita bahwa keagungan sejati terletak pada kesederhanaan dan kasih. Dia tidak mencari pengakuan duniawi, tetapi hidupnya adalah kesaksian akan kemuliaan Tuhan yang berdiam dalam hati yang murni. Dan sekarang, dia telah ditinggikan, bukan oleh dirinya sendiri, tetapi oleh Bapa di Surga, yang melihat hati yang tulus dan rendah hati. Dia kini ada di perjamuan surgawi, di mana tidak ada lagi beban, tidak ada lagi kesedihan, hanya sukacita abadi.
Untuk Alan, Thao, dan Ryan, serta semua yang mencintai Ben: di tengah beban yang kalian pikul, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kalian sendirian. Dia hadir, Dia mengangkat, Dia menghibur. Ingatlah teladan Ben, yang menunjukkan kepada kita bagaimana hidup dengan hati yang tulus dan penuh hormat. Itu adalah warisan yang tak ternilai, sebuah cerminan dari kasih Allah yang murni. Teruslah hidup dengan semangat Ben, dengan kelembutan hati yang sama, dengan rasa hormat yang sama kepada satu sama lain, dan kepada Tuhan.
Dan bagi kita semua, marilah kita membawa pelajaran ini keluar dari tempat ini hari ini. Janganlah kita mencari kehormatan atau pengakuan diri sendiri. Sebaliknya, marilah kita menjadi pelayan satu sama lain. Marilah kita berusaha untuk mengangkat beban orang lain, bukan meletakkannya. Marilah kita hidup dengan kerendahan hati yang tulus, dengan kasih yang tidak mencari pujian, dengan rasa hormat yang mengalir dari hati yang murni. Karena dalam setiap tindakan pelayanan yang rendah hati, dalam setiap senyum tulus yang kita berikan, dalam setiap rasa hormat yang kita tunjukkan kepada sesama, kemuliaan Tuhan benar-benar berdiam di negeri kita. Itulah jalan menuju keagungan sejati, jalan yang ditunjukkan oleh Yesus, oleh Maria, dan oleh Benjamin.
Amin.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita dari segala yang jahat, dan membawa kita ke kehidupan yang kekal. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.