Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Tuhan kita Yesus Kristus bersamamu.
Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Mesias, Putra Allah yang hidup: Tuhan, kasihanilah kami. Engkaulah Batu Karang keselamatan kami yang teguh: Kristus, kasihanilah kami. Engkaulah yang memegang kunci kehidupan kekal dan membuka pintu surga bagi kami: Tuhan, kasihanilah kami.
Perhatikan sebuah kunci yang tergeletak di telapak tangan Anda.
Kunci itu kecil. Dingin. Beratnya hampir tidak terasa. Namun fungsinya luar biasa: ia menentukan batas antara apa yang terkunci rapat dalam kegelapan dan apa yang terbuka lebar menuju terang. Sebuah kunci memegang kuasa untuk membuka pintu yang terkunci bertahun-tahun, atau menutup apa yang tak boleh lagi dimasuki.
Hari ini, Kitab Suci meletakkan kunci itu di hadapan kita.
Dalam Bacaan Pertama dari Kitab Yesaya, Allah berbicara tentang seorang pelayan bernama Elyakim: *“Aku akan meletakkan kunci rumah Daud di atas bahunya; apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.”* Lalu dalam Injil Matius, di kaki tebing karang raksasa di Kaisarea Filipi, Yesus menatap Simon Petrus yang baru saja mengikrarkan imannya, lalu berfirman: *“Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.”*
Yesus tidak membagikan kunci itu kepada seorang kaisar di istana megah Roma. Ia tidak memberikannya kepada para penguasa yang memegang pedang atau bendahara yang memegang emas. Ia memberikannya kepada seorang nelayan sederhana dari Galilea — seseorang yang tangannya kasar oleh jala, yang hatinya jujur, dan yang berani berseru di hadapan kawan-kawannya: *“Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!”*
Namun, sebelum kita berbicara tentang kemuliaan kunci itu… mari kita berhenti sejenak.
Kaisarea Filipi adalah tempat di mana batu karangnya sangat masif, keras, dan kokoh. Dan sering kali, hidup ini menghantam kita dengan kenyataan yang sekeras batu cadas. Sekitar dua bulan telah berlalu sejak tanggal 13 Juni. Bagi sebuah keluarga, enam puluh hari bukanlah waktu yang menyembuhkan segalanya; enam puluh hari sering kali terasa seperti enam puluh tarikan napas panjang di depan pintu yang rasanya tertutup begitu rapat.
Ada rasa sakit yang begitu sunyi. Ketika Anda bangun di pagi hari, dan selama satu detik Anda lupa, lalu sedetik kemudian seluruh kenyataan itu jatuh menimpa dada Anda kembali… Keheningan di lorong rumah. Pintu kamar yang tidak lagi terbuka dengan derap langkah yang lincah. Kursi yang biasa diduduki anak laki-laki Anda saat menikmati perjalanan.
Kita bertanya dalam hati kita yang paling dalam: Mengapa pintu kehidupan seorang anak yang begitu manis dan cerdas harus tertutup begitu awal? Mengapa jalan ini yang harus dilalui?
Santo Paulus dalam Bacaan Kedua tidak berusaha memberi jawaban yang murah atau klise. Paulus justru berseru dengan kejujuran yang menggetarkan: *“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Alangkah tidak terselidikinya keputusan-keputusan-Nya dan alangkah tidak terselaminya jalan-jalan-Nya!”*
Ada misteri yang terlalu dalam untuk diukur oleh logika manusia. Ada pintu-pintu yang kita ketuk dengan air mata, yang tampaknya tidak terbuka sesuai dengan cara yang kita minta. Tetapi dengarkanlah apa yang dikatakan Yesus hari ini tentang pintu dan kunci itu…
Ketika Yesus berkata, *“Alam maut tidak akan menguasainya,”* dan *“Kepadamu Kuberikan kunci Kerajaan Surga,”* Kristus sedang membuat sebuah proklamasi abadi: Kematian bukanlah tembok buntu yang mengunci jiwa kita dalam kegelapan. Kematian hanyalah sebuah ambang pintu, dan Yesuslah yang memegang kuncinya. Dan ketika kunci surga itu diputar oleh tangan kasih Allah, pintu itu membuka ke dalam keabadian, di mana tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi perpisahan, tidak ada lagi kerapuhan.
Di situlah kita mengenang Benjamin.
Jika Anda melihat kembali perjalanan hidup Benjamin Vo, ada satu keteguhan hati yang indah dalam diri anak ini. Ben adalah seorang anak yang menghidupi prinsip sederhana namun kokoh: bahwa berusaha dengan sepenuh hati adalah yang paling utama. *“Trying is all that matters.”* Ketika ia bermain di lapangan, ketika ia mencoba hal-hal baru, ia tidak pernah gentar untuk melangkah. Ia tidak takut gagal; ia hanya melangkah maju dengan kesungguhan hati dan senyumnya yang tulus.
Ada satu momen yang begitu tenang dalam kenangan keluarganya: saat Ben duduk di dalam kereta yang bermandikan sinar matahari bersama adiknya, Ryan. Mengenakan topi bisbol, Ben duduk dengan tenang, menatap ke luar jendela melihat pemandangan dunia yang melaju di depannya. Di sampingnya, Ryan bersandar nyaman. Tidak ada kata-kata muluk yang diucapkan; hanya ada kehangatan seorang kakak yang menjadi teman seperjalanan yang setia. Kehadiran Ben adalah kehadiran yang meneduhkan — kokoh seperti patok di tempat yang teguh, manis dalam kesederhanaannya.
Kecerdasan Ben yang luar biasa tidak pernah membuatnya menjadi anak yang angkuh. Sebaliknya, hatinya begitu lembut, pandangannya begitu jernih. Jiwa muda seperti Benjamin adalah buatan tangan Allah yang begitu indah, dan seperti kata pemazmur hari ini: *“Tuhan, kasih setia-Mu kekal abadi; janganlah Kautinggalkan buatan tangan-Mu.”*
Allah tidak pernah meninggalkan apa yang telah diciptakan-Nya dengan cinta.
Untuk Alan dan Thao… dan untuk Ryan yang begitu dikasihi Ben:
Dalam dua bulan ini, mungkin ada malam-malam di mana hati terasa terkunci dalam duka yang berat. Mungkin ada bisikan di sudut hati yang bertanya: “Apakah kami sudah melakukan segalanya? Mengapa hal ini terjadi?”
Bunda dan Ayah terkasih, dengarkanlah kebenaran Injil ini: Sama seperti orang buta sejak lahir yang ditanyakan para murid kepada Yesus, *“Bukan dia yang berbuat dosa dan bukan juga orang tuanya”* (Yoh 9:3). Sakit dan kerapuhan duniawi ini bukanlah hukuman. Ini bukan karena ada yang terlewatkan. Tidak ada satu kelalaian pun dari pihak kalian. Kalian telah mencintai Ben dengan segenap jiwa raga, mendampinginya di setiap sudut dunia, memeluknya dengan cinta terdalam yang bisa diberikan orang tua di bumi ini. Allah tidak pernah menuduh kalian, dan kalian tidak boleh menuduh diri sendiri. Lepaskanlah beban rasa bersalah itu; biarkan duka kalian dipeluk murni oleh belas kasih Tuhan.
Pintu yang kini memisahkan pandangan mata kita dari Ben bukanlah pintu yang terkunci selamanya. Kunci Kerajaan Surga telah membuka baginya sebuah ruangan kemuliaan di mana ia kini bernapas dengan lega, berlari tanpa lelah, dan tersenyum dalam dekap mesra Kristus dan Bunda Maria.
Dan untuk Ryan… Abangmu, Ben, berjalan bersamamu bukan hanya dalam gerbong kereta di hari-hari liburan itu. Ikatan kasih seorang saudara tidak diputus oleh kematian. Keberanian Ben, senyumnya, dan ketulusannya kini menjadi bagian dari kekuatan yang mengalir dalam hidupmu. Hiduplah dengan berani, Ryan. Belajarlah, tersenyumlah, dan jelajahilah dunia ini dengan keyakinan bahwa Ben selalu bangga padamu dan mendoakanmu dari surga.
Dan bagi kita semua yang mendengarkan saat ini — bagi siapa pun yang merasa hidupnya terkunci oleh kesedihan, bagi keluarga-keluarga yang sedang menemani anak-anak yang terbaring menanggung sakit, bagi jiwa-jiwa yang letih memikul salib yang berat:
Ingatlah siapa Yesus bagi kita. Ketika Ia bertanya, *“Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”* jawablah bersama Petrus dari lubuk hati Anda yang paling sunyi: *“Engkau adalah Mesias, Putra Allah yang hidup!”*
Jika Kristus adalah Putra Allah yang hidup, maka hidup kitalah yang memiliki kata akhir, bukan maut. Pengharapan kitalah yang menang, bukan keputusasaan.
Saat Anda melangkah keluar dari ruangan ini atau mematikan layar Anda hari ini, peganglah satu hal kecil: Ambillah sebuah kunci di rumah Anda — kunci rumah atau kunci mobil — peganglah di telapak tangan Anda sejenak. Biarkan benda kecil itu mengingatkan Anda bahwa di dalam Kristus, pintu surga telah terbuka bagi orang-orang yang kita cintai, dan pintu hati kita selalu terbuka bagi rahmat-Nya untuk memulihkan kita hari demi hari.
Benjamin Vo telah tiba di rumah Bapa. Dan kita, yang masih berziarah di bumi ini, dipanggil untuk terus melangkah dalam kasih setia Tuhan yang kekal abadi.
Sebab dari Dia, dan oleh Dia, dan bagi Dialah segala sesuatu. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.
Amin.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita dari segala yang jahat, dan menghantar kita ke hidup yang kekal. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.