Semoga rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa serta Tuhan kita Yesus Kristus menyertai kita sekalian. Demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah kebijaksanaan sejati yang membebaskan jiwa kami: Tuhan, kasihanilah kami. Engkaulah pengharapan kami di saat segala sesuatu tampak mustahil: Kristus, kasihanilah kami. Engkaulah pintu gerbang menuju hidup yang kekal: Tuhan, kasihanilah kami.
Apa yang sesungguhnya menjadi sandaran hati kita ketika menghadapi keterbatasan manusiawi?
Dalam Bacaan Pertama, Nabi Yehezkiel menegur kepongahan manusia yang merasa diri berkuasa hanya karena memiliki kecerdasan dan harta duniawi. Akal budi dan kemampuan manusiawi, betapapun hebatnya, tidak pernah dapat menggantikan peranan Allah Sang Pencipta.
Ketika para murid dalam Injil hari ini merasa gentar dan bertanya, "Siapakah yang dapat diselamatkan?", Yesus memberikan sebuah jawaban yang menjadi jangkar pengharapan bagi kita: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."
Sembilan minggu telah berlalu sejak Benjamin Vo dipanggil berpulang ke pangkuan Bapa. Dalam masa kerinduan yang mendalam ini, menanggung rasa kehilangan sering kali terasa begitu berat dan mustahil bagi kekuatan manusiawi kita semata…
Namun ketika kita merenungkan sabda hari ini, kita mengenang bagaimana Benjamin memandang dunia dengan rasa kagum dan keterbukaan budi yang luar biasa.
Ben memiliki kecerdasan logika dan rasa ingin tahu yang sangat luas. Di usianya yang masih sangat muda, ia gemar merangkai kode komputer, mendalami teknologi, dan selalu terpikat oleh inovasi masa depan. Bersama adiknya Ryan, dengan senyum hangat dan topi merahnya di depan Museum of the Future, Ben menatap masa depan dengan mata yang berbinar dan penuh pengharapan.
Namun di atas segala ketajaman pikirannya, keindahan sejati Ben adalah kerendahan hatinya. Ia tidak pernah congkak dengan kepandaiannya; ia tetap menjadi anak yang manis, lembut, dan selalu menghormati orang tuanya.
Bagi manusia, menembus misteri kehidupan dan kepergian seorang anak yang dikasihi terasa mustahil… tetapi bagi Allah, Benjamin Vo kini hidup seutuhnya dalam janji hidup kekal yang tidak akan pernah layu.
Untuk Alan, Thao, dan Ryan… serta seluruh keluarga besar: pandanglah masa depan dengan iman yang sama seperti binar mata Ben. Tuhan yang memegang segala kemungkinan akan selalu menopang langkah kalian.
Dan bagi semua yang mendengarkan dari kejauhan—anak-anak yang sedang menanggung kelemahan fisik, serta setiap keluarga yang memikul salib berat: percayalah, di mana daya manusia berakhir, di situlah rahmat Allah yang tak terbatas mulai bekerja.
Dalam perlindungan Bunda Maria dan belas kasih Kristus, kita menemukan damai dan pengharapan yang sejati. Amin.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita dari segala yang jahat, dan menghantar kita ke hidup yang kekal. Demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.