Semoga rahmat, damai sejahtera, dan penghiburan dari Allah Bapa kita, Tuhan Yesus Kristus, dan Roh Kudus selalu beserta kita. Hari ini kita berkumpul dalam iman, menyatukan hati kita di bawah tanda salib yang menyelamatkan.
Tuhan Yesus Kristus, Engkau memilih yang lemah di dunia ini untuk memalukan yang kuat. Tuhan, kasihanilah kami. Kristus Yesus, Engkau memanggil kami untuk bermegah hanya di dalam Tuhan. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan Yesus Kristus, Engkau meneguhkan hati kami di tengah badai duka dan kehilangan. Tuhan, kasihanilah kami.
Bayangkan sebuah ruangan pesta yang bising. Musik berdenting, gelas-gelas emas saling beradu, dan tawa para petinggi Galilea memenuhi udara. Di sana ada Herodes, yang duduk di atas takhta kepalsuannya, dikelilingi oleh ketakutan dan gengsi. Di tengah keriuhan itu, seorang gadis menari. Tariannya memikat, namun di balik keindahan lahiriah itu, sebuah rencana gelap sedang dirajut. Dan kemudian, sebuah permintaan mengerikan diucapkan. Bukan emas, bukan pula setengah dari kerajaan, melainkan sebuah kepala di atas talam.
Sebuah talam. Sebuah piring perak yang datar, dangkal, dan dingin.
Di atas talam itulah, hidup seorang nabi besar, Yohanes Pembaptis, diletakkan sebagai alat transaksi ego dan dendam. Talam itu adalah simbol dari segala sesuatu yang dangkal di dunia ini. Ia melambangkan kekuasaan yang rapuh, kehormatan yang kosong, dan kesepakatan-kesepakatan manusia yang lahir dari ketakutan akan apa yang dikatakan orang lain. Herodes sedih, tetapi karena sumpah-sumpahnya di hadapan para tamu, ia tidak berani menolak. Ia memilih mengorbankan kebenaran demi menjaga penampilan di atas talam peraknya.
Mari kita pegang erat-erat satu citra ini sepanjang perenungan kita hari ini: **"Talam versus Sumur"**.
Talam mewakili apa yang dangkal, yang dipamerkan demi gengsi duniawi, yang membawa kematian. Sementara itu, di belahan dunia lain, kita mengenal sebuah sumur. Sumur adalah sesuatu yang dalam, yang tersembunyi di dalam tanah, yang tidak memamerkan dirinya, tetapi menyimpan dan mengalirkan air kehidupan yang murni. Hari ini, Gereja merayakan wafatnya Santo Yohanes Pembaptis. Dan sungguh sebuah keindahan yang misterius bahwa hari ini kita diajak melihat bagaimana Allah mengubah tragedi talam yang mati itu menjadi sebuah sumur kehidupan yang terus mengalir bagi sesama.
Namun, saudara-saudari terkasih, sebelum kita melangkah lebih jauh ke dalam penghiburan, kita harus berani berdiri di hadapan kebenaran yang jujur. Kita tidak boleh terburu-buru menghapus air mata tanpa mengakui betapa beratnya rasa sakit itu.
Hari ini, kita berada di akhir Agustus. Sudah sekitar dua bulan berlalu sejak tanggal 13 Juni 2026. Dua bulan sejak Benjamin Vo pergi meninggalkan kita.
Bagi orang-orang di luar sana, dua bulan mungkin tampak seperti waktu yang cukup untuk melanjutkan hidup. Dunia terus berputar, toko-toko tetap buka, dan kesibukan harian kembali menyita perhatian. Namun, di dalam rumah keluarga Vo, di dalam hati Alan, Thao, dan Ryan, dua bulan adalah waktu di mana keheningan itu mulai terasa sangat nyata. Keheningan itu kini memiliki beratnya sendiri.
Ada kursi yang kosong di meja makan. Ada kamar yang tidak lagi terdengar tawa kecil di dalamnya. Ada proyek-proyek di GitHub yang tersimpan rapi, baris-baris kode yang ditulis oleh jemari yang begitu cerah dan cerdas, yang kini menjadi saksi bisu dari sebuah kehadiran yang sangat dirindukan. Kerinduan itu jujur. Rasa sakit kehilangan Benjamin adalah luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan kata-kata klise. Kehilangan seorang anak, seorang abang, di usia lima belas tahun adalah sebuah salib yang teramat berat.
Dan di tengah keheningan duka itulah, sering kali musuh jiwa kita membisikkan pertanyaan-pertanyaan yang menyiksa hati orang tua. Dalam kesunyian malam, mungkin muncul pikiran-pikiran yang melelahkan: *"Apakah ada sesuatu yang kami lewatkan? Apakah kami seharusnya melakukan lebih banyak hal? Apakah kami bersalah?"*
Alan dan Thao, orang tua yang terkasih... dengarkanlah kebenaran ini dengan segenap jiwa kalian. Ketika para murid bertanya kepada Yesus tentang seorang yang menderita sejak lahir, "Siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya?" Yesus menjawab dengan sangat tegas: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya." (Yohanes 9:3).
Sakit dan kepergian yang dialami Benjamin bukanlah sebuah hukuman. Itu sama sekali bukan karena kesalahan kalian. Itu bukan karena ada kasih yang kurang, bukan karena ada tindakan yang terlambat, dan bukan karena ada pengawasan yang alpa. Kehidupan fisik manusia memiliki kerapuhannya sendiri yang berada di luar kendali kita, seperti awan yang tiba-tiba menutup langit tanpa bisa kita cegah. Kalian tidak bersalah. Kalian telah menjadi orang tua yang luar biasa. Kalian telah memberikan Benjamin sebuah masa muda yang penuh dengan petualangan kasih, membawanya melihat dunia, dan memeluknya dengan kehangatan yang tak bersyarat. Tuhan tidak pernah menuduh kalian, dan Benjamin kini memandang kalian dari surga dengan cinta yang sepenuhnya bebas dari rasa sakit. Letakkanlah batu berat penyesalan itu di kaki salib Yesus hari ini. Biarkan hati kalian dibebaskan, sehingga yang tersisa hanyalah ruang bersih untuk menyimpan kasih murni bersamanya.
Di sinilah Sabda Tuhan dalam Bacaan Pertama hari ini masuk seperti cahaya yang menembus kegelapan. Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Korintus:
*"Pikirkan saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat..."*
Dunia di sekitar Herodes sangat mengagungkan kekuatan, kekuasaan, dan kebijaksanaan manusiawi. Mereka berpikir bahwa dengan mengakhiri hidup Yohanes Pembaptis di atas talam, mereka telah menang. Mereka berpikir bahwa kelemahan dan kematian adalah akhir dari segalanya. Namun, Allah bekerja dengan cara yang sebaliknya. Allah memilih apa yang dianggap lemah, apa yang dianggap kecil, untuk menyatakan kemuliaan-Nya yang kekal.
Benjamin Vo adalah seorang anak laki-laki dengan pikiran yang sangat cemerlang. Di usianya yang baru lima belas tahun, ia memiliki ketajaman analitis yang luar biasa, memahami teknologi modern, dan berbagi ambisi yang sama dengan ayahnya. Namun, keindahan sejati dari Benjamin bukanlah terletak pada kehebatannya yang diakui dunia. Keindahan sejatinya terletak pada kesederhanaan hatinya yang murni—sebuah hati yang dipilih Allah untuk menunjukkan kepada kita apa yang paling berharga di mata-Nya.
Mari kita ingat kembali sebuah momen yang sangat indah, sebuah tindakan yang lahir secara spontan dari jiwanya yang lembut. Ketika berusia lima belas tahun, mendengar bahwa pamannya, William, sedang mengalami masa-masa sulit setelah terkena stroke, Benjamin mendekati orang tuanya. Tanpa diminta oleh siapa pun, didorong oleh rasa empati yang begitu mendalam, ia menawarkan seluruh isi celengannya untuk membantu sang paman.
Ben tidak pernah memecahkan celengan itu. Celengan itu tidak pernah dibuka karena bantuan lain sudah tersedia dan asuransi telah mencukupi. Namun, tindakan menawarkan segalanya—kehendak bebas seorang anak remaja untuk menyerahkan seluruh tabungan pribadinya demi menolong orang lain—adalah bukti nyata dari kekayaan batinnya. Bagi dunia yang egois, tindakan menawarkan seluruh tabungan mungkin dianggap tidak logis atau "bodoh". Namun di hadapan Allah, itulah kebijaksanaan sejati. Itulah bentuk penyerahan diri yang murni, sebuah persembahan yang tidak mencari panggung, tidak membutuhkan talam perak untuk dipamerkan. Itu adalah mata air yang memancar dari kedalaman sumur hatinya.
Sikap Ben ini sangat kontras dengan Herodes dalam Injil hari ini. Herodes memiliki segalanya—kerajaan, tentara, kekuasaan—tetapi ia adalah orang yang paling miskin secara rohani karena ia tidak bisa memberikan apa-apa selain kehancuran. Ben, sebaliknya, tidak memiliki kekuasaan politik, tetapi ia memiliki kekayaan kasih yang membuatnya siap memberikan seluruh miliknya. Ben bermegah, bukan dalam kekuatannya sendiri, melainkan dalam kasih yang telah ditanamkan Allah di dalam hatinya.
Dan kasih itu kini telah disempurnakan.
Ingatlah mimpi indah yang dialami Alan pada tanggal 23 Juli 2026. Dalam mimpi itu, Alan dan Ben sedang berdiri bersama, mengantre untuk membeli es krim. Dan di sana, Ben yang membayar semuanya.
Ada pesan rohani yang sangat dalam di balik mimpi sederhana ini. Di dalam dunia surgawi, Ben tidak lagi berada dalam posisi kekurangan atau membutuhkan bantuan kita. Ia adalah orang yang memberi. Ia adalah orang yang memiliki kelimpahan. Ia telah melewati semua ujian dunia ini dengan hasil yang sempurna. Ia tidak lagi berada di bawah bayang-bayang penderitaan; ia telah masuk ke dalam perjamuan abadi di mana ia bisa membagikan sukacita kepada orang-orang yang dikasihinya. Ia kini bernapas dengan lega di dalam dekapan Bapa.
Untuk Ryan, adik yang paling dikasihi Ben...
Abangmu adalah seorang petarung yang gigih. Di lapangan badminton, di depan layar komputer, ia selalu memberikan yang terbaik karena ia percaya bahwa *"trying is all that matters"*—mencoba adalah segalanya. Ryan, abangmu tidak ingin kamu berhenti melangkah. Ia ingin kamu terus hidup dengan penuh keberanian, terus belajar, dan terus menjadi sahabat yang baik bagi orang tuamu. Setiap kali kamu merasa sepi, ketahuilah bahwa kasih abangmu kini menjadi kekuatan yang tidak terlihat, yang berjalan di sampingmu, mendukung setiap langkahmu menuju masa depan.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita merayakan Pesta Wafatnya Santo Yohanes Pembaptis. Dan sungguh luar biasa bagaimana warisan kasih Benjamin kini dikaitkan dengan nama nabi besar ini.
Melalui kebaikan hati yang sunyi, sebuah sumur air bersih telah didedikasikan atas nama Benjamin di Cà Mau, Vietnam. Sumur itu diberi nama **"Giếng Gioan Baotixita"**—Sumur Yohanes Pembaptis.
Lihatlah bagaimana Allah bekerja! Herodes menggunakan nama Yohanes Pembaptis untuk sebuah kematian di atas talam yang dangkal. Namun Allah menggunakan nama Yohanes Pembaptis, bersatu dengan memori tentang Benjamin Đại Dương Vo, untuk membangun sebuah sumur yang membawa kehidupan bagi mereka yang haus. Nama tengah Benjamin, Đại Dương, berarti "Samudra Besar". Dan kini, air bersih yang mengalir dari sumur itu adalah simbol nyata dari kasihnya yang luas, yang terus mengalir melampaui batas kematian, membawa berkat yang sunyi namun menyelamatkan bagi sesama yang membutuhkan.
Kasih Benjamin tidak berhenti pada tanggal 13 Juni. Kasih itu terus mengalir. Ia mengalir melalui air bersih di Cà Mau, ia mengalir melalui kenangan indah di hati Alan, Thao, dan Ryan, dan ia mengalir setiap kali kita tergerak untuk menjadi lebih baik, lebih tulus, dan lebih peduli kepada sesama karena terinspirasi oleh hidupnya.
Mari kita mendarat pada sesuatu yang bisa kita bawa keluar dari pintu gereja hari ini.
Ketika Anda pulang ke rumah nanti, atau sepanjang minggu ini, setiap kali Anda mengambil segelas air untuk diminum, berhentilah sejenak. Tataplah air jernih di dalam gelas itu.
Ingatlah perbedaan antara "Talam" dan "Sumur". Tanyakan pada diri sendiri: *"Apakah saya sedang sibuk mencari talam perak duniawi—mencari pujian yang dangkal, gengsi, dan pengakuan lahiriah? Ataukah saya sedang menggali sumur di dalam hati saya—mengisi jiwa saya dengan kasih yang murni, empati yang tulus, dan kesediaan untuk memberi seperti yang dilakukan oleh Benjamin?"*
Dan setiap kali Anda melihat seekor burung terbang bebas di langit, atau mendengar deru pesawat terbang melintas di antara awan-awan, tersenyumlah. Ingatlah tawa jenaka Benjamin tentang impian indahnya, "Con Chim Airlines". Biarkan tawa kecilnya yang murni itu mengingatkan kita bahwa dunia ini hanyalah tempat penziarahan sementara, dan bahwa rumah kita yang sesungguhnya ada di balik awan-awan itu, di mana tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi perpisahan, hanya ada kedamaian yang abadi.
Benjamin sudah berada di sana. Ia bersama Santo Yohanes Pembaptis dan Santo Carlo Acutis, berdiri di dekat sumur kehidupan surgawi yang tidak akan pernah kering. Ia sedang menanti kita dengan senyumnya yang paling cerah, menjaga kita semua sampai tiba saatnya kita berkumpul kembali dalam pelukan kasih Allah yang sempurna.
Tetaplah kuat, Alan, Thao, dan Ryan. Teruslah melangkah dalam iman. Sebab Allah kita adalah setia, dan Dia tidak akan pernah membiarkan kita berjalan sendirian di tengah malam.
Semoga Tuhan damai sejahtera menjaga hati dan pikiran kita semua, sekarang dan selama-lamanya.
Amin.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita dari segala kejahatan, dan mengantar kita ke hidup yang kekal. Semoga jiwa Benjamin dan semua orang beriman yang telah meninggal, beristirahat dalam ketenteraman karena kerahiman Allah. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.