Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Semoga rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan Tuhan Yesus Kristus menyertai Anda sekalian.
Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.
Pernahkah Anda memperhatikan sebuah rumah yang ditinggalkan, sebuah rumah yang pintunya dibiarkan terbuka, tanpa penghuni, tanpa kehangatan dari sebuah keluarga yang berkumpul di dalamnya? Ada sesuatu yang terasa ganjil, sesuatu yang terasa tidak pada tempatnya. Debu mulai menumpuk di ambang pintu, dan suara-suara yang biasanya mengisi ruangan—tawa, percakapan, langkah kaki—kini digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara tentang sebuah rumah yang 'disapu bersih dan dihias', namun karena kosong, ia justru menjadi tempat bagi roh-roh yang lebih jahat untuk masuk. Ini bukan sekadar cerita tentang pengusiran setan; ini adalah peringatan tentang apa yang terjadi ketika hati kita dibiarkan kosong, ketika kita membiarkan kesedihan atau rasa kehilangan menutup pintu-pintu kasih kita dari kehadiran Tuhan.
Sudah tiga bulan sejak Benjamin Vo menyelesaikan ziarah dunianya pada 13 Juni 2026. Tiga bulan yang bagi Anda, Alan, Thao, dan Ryan, mungkin terasa seperti berjalan di jalan yang sunyi, di mana setiap sudut rumah menyimpan gema suara Ben yang kini hanya bisa didengar dalam ingatan. Kita berbicara tentang Ben, anak yang cerdas, yang pikirannya begitu tajam hingga mampu menyelami dunia teknologi yang rumit, namun hatinya begitu lembut hingga ia mampu menawarkan seluruh isi celengannya hanya untuk menolong pamannya. Ben adalah seorang anak yang memiliki rasa ingin tahu yang tak terbatas—seorang 'pilot' yang memimpikan 'Con Chim Airlines' dan selalu menemukan sukacita dalam hal-hal sederhana bersama ayahnya. Namun hari ini, saya ingin mengajak Anda melihat satu sisi Ben yang mungkin luput dari perhatian kita: kemampuannya untuk menjaga hatinya tetap 'terisi' oleh kasih, bahkan saat ia harus berhadapan dengan tantangan yang sangat besar.
Mari kita jujur pada rasa sakit ini. Kehilangan seorang anak seperti Ben bukanlah sesuatu yang bisa kita selesaikan dengan penjelasan teologis yang dingin. Jangan terburu-buru mencari penghiburan sebelum Anda mengakui bahwa kehilangan ini memang menyakitkan. Tuhan tidak meminta Anda untuk berpura-pura kuat atau untuk segera 'melanjutkan hidup' seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Saat duka itu datang menyerbu, janganlah menolak untuk merasakannya. Air mata adalah bahasa jiwa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dan Tuhan mengumpulkan setiap tetesnya di dalam kirbat-Nya. Anda tidak perlu berpura-pura tidak merasa hancur. Tuhan tidak menuntut Anda untuk mengerti 'mengapa'—mengapa jalan itu harus begitu curam, mengapa penderitaan harus menyentuh rumah Anda. Dia hanya menuntut Anda untuk tetap tinggal di dekat-Nya, seperti Yesus yang mengajarkan murid-murid-Nya untuk memanggil Allah sebagai 'Bapa'.
Di dalam keheningan malam, ketika musuh jiwa mencoba membisikkan keraguan—bertanya apakah ada yang terlewat, apakah ada yang bisa dilakukan secara berbeda, atau apakah ini adalah hukuman—dengarkanlah kebenaran ini dengan hati yang tenang. Penyakit yang dialami Benjamin bukanlah hukuman, bukan pula kegagalan dari kasih yang telah Anda curahkan dengan begitu sempurna. Tidak ada kewaspadaan manusiawi yang dapat menahan garis batas kehidupan yang sepenuhnya berada di dalam tangan Allah. Seperti yang Yesus katakan dalam Injil saat Ia ditanya tentang pria yang lahir buta, Ia menegaskan bahwa itu bukanlah dosa orang tua maupun anak itu. Anda telah mencintai Ben dengan segenap jiwa raga Anda. Tuhan tidak pernah menuduh Anda, dan Benjamin memandang Anda dari keabadian dengan kasih yang murni tanpa ada jejak penyesalan. Letakkanlah batu berat rasa bersalah itu di kaki salib. Anda tidak melewatkan apa pun; Anda telah memberikan segalanya yang terbaik yang bisa diberikan oleh seorang ibu dan seorang ayah. Anda tidak bersalah, dan Tuhan tidak menuntut pertanggungjawaban atas sesuatu yang berada di luar jangkauan manusia. Anda adalah orang tua yang luar biasa, dan kasih Anda adalah cerminan dari kasih Allah sendiri.
Mari kita ambil satu gambar hari ini: 'Jari Allah'. Yesus berkata dalam Injil, 'Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.' Inilah pusat dari homili kita. Ketika dunia tampak kacau, ketika duka membuat segalanya terasa berantakan, 'jari Allah' sedang bekerja. Jari Allah adalah kekuatan yang menyentuh hati kita, yang membelai luka-luka kita, dan yang menarik kita kembali ke dalam persekutuan dengan-Nya. Ben, anak Anda yang terkasih, sekarang berada tepat di bawah 'jari Allah' itu, di tempat di mana tidak ada lagi roh kegelapan yang bisa mengganggu, di mana hanya ada damai yang melampaui segala akal. Ia tidak lagi berjuang dengan rasa sakit atau kebingungan; ia kini berada dalam pelukan Bapa yang memegang seluruh hidupnya.
Dalam bacaan pertama, Santo Paulus mengingatkan kita bahwa 'orang yang benar karena iman akan hidup.' Iman bukanlah sesuatu yang kita miliki hanya saat keadaan baik. Iman adalah jangkar yang kita lempar ke tempat yang paling dalam saat badai menerjang. Ben adalah orang yang beriman. Ia percaya pada kebaikan, ia percaya pada kasih, ia percaya pada impian-impiannya—bahkan impian tentang 'Con Chim Airlines' yang ia bicarakan dengan senyum yang begitu tulus. Iman Ben adalah iman seorang anak yang tahu bahwa meskipun ia tidak bisa melihat ujung jalan, ia tahu siapa yang memegang tangannya. Sekarang, ia ingin Anda, Alan, Thao, dan Ryan, memiliki iman yang sama. Percayalah bahwa Allah tidak membiarkan rumah Anda kosong. Ia mengisi rumah itu dengan Roh-Nya, dengan kenangan akan Ben, dan dengan janji bahwa suatu hari nanti, kalian akan bertemu kembali di perjamuan yang tidak akan pernah berakhir.
Ryan, abangmu adalah teman seperjuanganmu. Kamu tahu betapa ia menyukai pesawat terbang dan bagaimana ia selalu menunggumu. Jangan pernah merasa bahwa ia jauh. Ia ingin kamu terus belajar, terus bermimpi, dan terus berjalan dengan kepala tegak. Ia sedang bersorak untukmu dari garis finish di surga. Kasihnya adalah fondasi yang kokoh di bawah kakimu. Kamu tidak pernah sendirian dalam perjalananmu. Ingatlah saat-saat kalian berbagi sushi atau saat kalian berdua menatap patung-patung di perjalanan kalian; itu adalah ikatan yang tidak akan pernah bisa diputuskan oleh maut. Ia selalu ada di sana, dalam setiap hembusan angin dan dalam setiap langkah yang kamu ambil.
Saudara-saudari, mari kita mendarat pada satu hal konkret. Minggu ini, ketika duka itu datang mengetuk pintu hati Anda, jangan mencoba melawan atau memendamnya sendirian. Berhentilah sejenak. Ambil napas dalam-dalam, dan arahkan pandangan Anda pada kepastian kasih Allah. Lakukan satu tindakan kecil yang penuh kasih dalam nama Ben—mungkin mendengarkan seseorang yang kesepian, atau memberikan senyuman kepada mereka yang sedang lelah menjalani hari. Biarkan kasih Ben, yang kini terus mengalir melalui sumur air kehidupan di Cà Mau, Vietnam, menjadi tanda bahwa cinta tidak pernah mati, melainkan terus memberi hidup. Benjamin Vo, anak yang manis, cerdas, dan lembut... beristirahatlah dalam damai abadi di dalam terang Kristus. Doakanlah kami yang masih berziarah ini, agar kami senantiasa setia memikul salib kami dengan penuh pengharapan. Tetaplah kuat, Alan, Thao, dan Ryan. Tuhan memegang tangan kalian, dan di dalam kasih Bunda Maria dan Putra-Nya, kalian aman. Ingatlah, bahwa meskipun waktu di dunia ini memiliki batas, kasih Tuhan adalah kekal, dan di dalam kasih itulah, Ben menanti Anda semua dengan senyum yang sama yang pernah ia berikan kepada Anda di rumah. Jangan takut. Tuhan menyertai Anda hari ini, besok, dan selamanya.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga Allah yang Mahakuasa memberkati kita semua, melindungi kita dari segala yang jahat, dan menuntun kita menuju kehidupan yang kekal. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.