Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Semoga kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus menyertai kita semua.
Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.
Pernahkah Anda memperhatikan kerumunan orang di sebuah bandara, di mana setiap orang membawa koper, membawa harapan, dan membawa tujuan yang berbeda-beda? Di tengah hiruk-pikuk itu, terkadang kita melihat seorang anak kecil yang berdiri dengan mata berbinar-binar, menatap ke arah landasan pacu, terpesona oleh setiap pesawat yang lepas landas. Benjamin Vo adalah anak seperti itu. Ia bukan hanya seorang pengamat; ia adalah seorang pemimpi yang ingin menciptakan 'Con Chim Airlines', sebuah maskapai yang lahir dari imajinasinya yang brilian dan kecintaannya pada keajaiban penerbangan. Hari ini, pada Hari Raya Semua Orang Kudus, kita diajak untuk melihat ke atas, melampaui cakrawala duniawi, menuju perjamuan abadi di mana Ben kini berada, bersama dengan mereka yang telah mencuci jubahnya dan membuatnya putih dalam Darah Anak Domba.
Dalam bacaan pertama dari Kitab Wahyu, kita mendengar tentang 'suatu kumpulan besar yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku, kaum dan bahasa.' Mereka berdiri di hadapan takhta Allah, memegang daun palem, simbol kemenangan. Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang telah melewati masa kesusahan yang besar. Mereka adalah orang-orang yang, seperti Ben, telah menempuh perjalanan hidupnya dengan kasih dan ketulusan. Kita sering membayangkan orang kudus sebagai sosok yang jauh, yang berjubah putih di awan-awan, namun hari ini Gereja mengingatkan kita bahwa kekudusan adalah panggilan bagi setiap orang. Kekudusan adalah tentang bagaimana kita memberikan hati kita kepada Tuhan, bagaimana kita mencintai tanpa syarat, dan bagaimana kita tetap setia bahkan di tengah badai yang paling hebat.
Mari kita jujur pada rasa sakit yang kita bawa. Sudah empat bulan sejak Ben kembali ke rumah Bapa. Saya tahu, di saat-saat hening ketika Anda menatap kursi yang kini kosong, atau saat Anda melihat foto Ben yang tersenyum di Paris dengan latar belakang menara Eiffel atau cincin Olimpiade, duka itu datang menyergap. Anda bertanya-tanya, 'Mengapa?' Dan di tengah keheningan itu, musuh jiwa sering kali membisikkan dusta yang paling kejam: 'Apakah saya melewatkan sesuatu? Apakah saya kurang menjaga?' Alan, Thao, dengarkanlah ini dengan sungguh-sungguh: Lepaskanlah beban itu sekarang juga. Penyakit yang merenggut Benjamin bukanlah kesalahan Anda. Anda tidak melewatkan apa pun. Tidak ada tindakan atau kelalaian Anda yang menyebabkan ini. Tuhan tidak menghukum Anda, dan Ben tidak pernah memandang Anda dengan rasa kecewa. Anda telah mencintainya dengan kasih yang melampaui kata-kata. Penyakit adalah misteri yang berada di luar kendali manusia, dan Anda tidak perlu memikul tanggung jawab atas sesuatu yang tidak bisa Anda cegah. Ben tidak ingin Anda membawa beban itu. Ia ingin Anda mengingat senyumnya, bukan rasa sakitnya.
Dalam Injil hari ini, Yesus naik ke atas gunung dan memberikan kita Sabda Bahagia. 'Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.' Ben adalah seorang pembawa damai. Ingatkah Anda saat ia dengan polosnya menawarkan seluruh isi celengannya untuk membantu pamannya yang sakit? Ia tidak perlu memecah celengan itu, ia tidak perlu memamerkannya. Niat tulusnya sudah cukup. Itu adalah tindakan seorang anak yang hatinya telah disentuh oleh kasih Allah. Ia tidak mencari tempat kehormatan; ia hanya mencari cara untuk mencintai. Itu adalah kekudusan yang nyata—kekudusan yang tidak menunggu sampai tua, tetapi kekudusan yang mekar di usia lima belas tahun, di tengah kecintaan pada teknologi, pesawat terbang, dan keluarga.
Ryan, abangmu adalah bagian dari fondasi hidupmu. Kalian berbagi begitu banyak tawa, perjalanan, dan kenangan—seperti saat kalian berdiri bersama di depan kolam renang yang jernih atau saat kalian menjelajahi dunia bersama. Jangan pernah merasa bahwa ia telah pergi jauh. Ia ada di dalam setiap langkah yang kamu ambil. Ia bangga padamu. Kamu adalah bagian dari warisan kasih yang ia tinggalkan, dan kasih itu tidak akan pernah hilang. Teruslah berjalan, teruslah bermimpi, dan ingatlah bahwa kasih abangmu adalah jangkar yang tidak akan pernah putus. Ia terus menatapmu dengan kasih yang tak terbatas.
Bagi Anda yang sedang mendengarkan ini, yang mungkin merasa hidup Anda kecil dan tidak berarti, ingatlah bahwa kita semua adalah bagian dari rencana Allah yang besar. Hidup Ben mungkin terasa singkat, tetapi pengaruh kasihnya sangat luas. Ia telah menjadi saksi bagi banyak orang, menginspirasi kita untuk memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki. Kebaikan itu tidak pernah hilang. Ia terus hidup melalui 'Sumur Kasih' di Cà Mau, melalui setiap tindakan belas kasih yang dilakukan dalam namanya. Ben telah menjadi tanda bahwa kasih yang diberikan dengan tulus akan terus mengalir, seperti air yang memberi kehidupan bagi mereka yang haus.
Kita sering bertanya, 'Mengapa harus sekarang?' Kita tidak memiliki jawaban atas misteri penderitaan. Namun, kita memiliki jawaban atas misteri kasih. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian di dalam duka kita. Ia ada di sana, di dalam setiap air mata yang jatuh, di dalam setiap helaan napas yang berat. Ia mengerti rasa sakit karena Ia sendiri telah memikul salib. Maria, Bunda yang berduka, berdiri di samping Anda, memeluk Anda dalam keibuannya yang lembut. Jangan takut untuk bersedih, tetapi jangan biarkan kesedihan itu menjadi akhir dari cerita Anda. Cerita Anda adalah cerita tentang kasih yang abadi, sebuah kasih yang melampaui maut.
Mari kita mendarat pada satu hal yang konkret hari ini. Ketika Anda pulang, jika rindu itu datang menyerang, jangan mencoba menahannya dengan kekerasan. Berhentilah sejenak. Tutup mata Anda dan bayangkan Ben sedang tersenyum—senyum yang sama yang ia berikan saat ia bahagia. Ingatlah bahwa senyum itu adalah milik surga sekarang. Lakukanlah satu tindakan kecil yang manis dalam namanya hari ini. Mungkin mengirimkan pesan penyemangat kepada seseorang, mungkin memberikan sedikit bantuan kepada yang membutuhkan, atau sekadar memeluk orang yang Anda cintai dengan lebih erat. Biarkan kasih Ben terus mengalir melalui tangan Anda.
Benjamin Vo, anak yang cerdas, anak yang manis, anak yang penuh rasa ingin tahu... beristirahatlah dengan tenang. Engkau telah menyelesaikan tugasmu di dunia ini dengan sangat baik. Engkau telah menjadi prajurit kasih yang tangguh. Sekarang, nikmatilah perjamuan abadi di hadapan Bapa. Doakanlah kami, orang tuamu, adikmu, dan kami semua yang masih berziarah, agar kami dapat hidup dengan kasih yang sama, sampai saatnya nanti kita bertemu kembali dalam pelukan Tuhan yang tak berkesudahan. Amin.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga berkat Allah Yang Mahakuasa, Bapa, Putra, dan Roh Kudus, turun atas kita dan menyertai kita senantiasa. Pergilah dalam damai.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.