Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Semoga rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan Tuhan Yesus Kristus senantiasa menyertai Anda sekalian.
Tuhan Yesus, Engkau adalah batu penjuru yang menopang hidup kami. Kasihanilah kami. Kristus, Engkau adalah pemilik kebun anggur yang setia mencari buah kasih kami. Kasihanilah kami. Tuhan, Engkau memulihkan jiwa kami yang letih dan memulihkan harapan kami. Kasihanilah kami.
Pernahkah Anda berdiri di sebuah kebun setelah musim panen berlalu, menatap deretan tanaman yang seharusnya berbuah lebat, namun mendapati dahan-dahannya kosong atau hanya menyisakan buah yang liar dan pahit? Ada kesedihan yang hening di sana, sebuah kekecewaan yang tidak perlu dikatakan dengan kata-kata. Dalam bacaan pertama hari ini, Nabi Yesaya melukiskan Allah sebagai seorang sahabat yang penuh kasih, yang telah menyiapkan segalanya dengan sempurna bagi kebun anggur-Nya. Ia mencangkulnya, membersihkannya dari batu-batu, menanam bibit pilihan, bahkan membangun menara pengawas agar kebun itu aman. Ia memberikan segalanya, tidak ada satu hal pun yang kurang. Namun, ketika tiba waktunya untuk memetik buah, yang Ia temukan hanyalah buah anggur liar. Bayangkan rasa sakit hati sang pemilik kebun itu... bukan kemarahan yang membara, melainkan kekecewaan yang mendalam karena kasihnya tidak berbalas dengan buah yang diharapkan.
Kita sering kali merasa seperti kebun anggur itu, bukan? Kita merasa telah berusaha sekuat tenaga, telah menanam harapan, telah membangun 'menara' perlindungan bagi keluarga kita, bagi anak-anak kita, bagi masa depan kita. Namun, terkadang badai datang, atau musim kemarau yang tidak terduga, dan kita bertanya-tanya: mengapa buah yang kita harapkan—kesehatan, keutuhan, kebahagiaan yang panjang—tidak kunjung tiba? Mengapa, meski kita telah mencintai dengan segenap hati, penderitaan tetap menyelinap masuk seperti semak duri yang tidak diundang?
Sudah tiga bulan sejak Benjamin Vo menyelesaikan ziarah dunianya pada 13 Juni 2026. Tiga bulan yang bagi Anda, Alan, Thao, dan Ryan, mungkin terasa seperti berjalan di padang gurun yang sunyi, di mana setiap sudut rumah menyimpan gema suara Ben yang kini hanya bisa didengar dalam ingatan. Ben adalah seorang anak yang memandang dunia dengan mata penuh kekaguman. Dia adalah insinyur cilik yang mampu menyelami logika AWS dan infrastruktur cloud dengan kecerdasan yang tajam. Namun, di balik kecerdasan itu, ada satu hal yang paling saya ingat: ia adalah anak yang selalu menghargai 'ritme kasih'. Ingatkah Anda bagaimana ia selalu menyambut ayahnya dengan 'Selamat pagi, Dad' setiap kali ia turun ke bawah? Itu bukan sekadar sapaan; itu adalah cara Ben memastikan bahwa ikatan kasih antara dirinya dan Anda tetap terjaga. Ia tidak pernah melewatkannya, karena baginya, kasih adalah sesuatu yang harus dirayakan setiap hari, dalam setiap detail kecil.
Mari kita jujur pada rasa sakit ini. Kehilangan Ben bukanlah sesuatu yang bisa kita tutupi dengan kata-kata manis atau kutipan kitab suci yang dingin. Jangan terburu-buru mencari penghiburan sebelum Anda mengakui bahwa kehilangan ini memang menyakitkan. Tuhan tidak meminta Anda untuk berpura-pura kuat. Tuhan ingin Anda datang kepada-Nya dengan segala kerapuhan Anda. Saat duka itu datang menyerbu tanpa permisi, janganlah menolak untuk menangis. Air mata adalah doa yang tidak terucapkan, dan Tuhan mengumpulkan setiap tetesnya di dalam kirbat-Nya. Anda tidak perlu berpura-pura tidak merasa hancur. Tuhan tidak menuntut Anda untuk mengerti 'mengapa', Dia hanya menuntut Anda untuk tetap tinggal di dekat-Nya.
Di dalam keheningan malam, ketika musuh jiwa mencoba membisikkan keraguan—bertanya apakah ada yang terlewat, apakah ada yang bisa dilakukan secara berbeda, atau apakah ini adalah hukuman—dengarkanlah kebenaran ini dengan hati yang tenang. Penyakit yang dialami Benjamin bukanlah hukuman, bukan pula kegagalan dari kasih yang telah Anda curahkan dengan begitu sempurna. Tidak ada kewaspadaan manusiawi yang dapat menahan garis batas kehidupan yang sepenuhnya berada di dalam tangan Allah. Seperti yang Yesus katakan dalam Injil saat Ia ditanya tentang pria yang lahir buta, Ia menegaskan bahwa itu bukanlah dosa orang tua maupun anak itu. Anda telah mencintai Ben dengan segenap jiwa raga Anda. Tuhan tidak pernah menuduh Anda, dan Benjamin memandang Anda dari keabadian dengan kasih yang murni tanpa ada jejak penyesalan. Letakkanlah batu berat rasa bersalah itu di kaki salib. Anda tidak melewatkan apa pun; Anda telah memberikan segalanya yang terbaik yang bisa diberikan oleh seorang ibu dan seorang ayah. Anda tidak bersalah, dan Tuhan tidak menuntut pertanggungjawaban atas sesuatu yang berada di luar jangkauan manusia. Anda adalah orang tua yang luar biasa, dan kasih Anda adalah cerminan dari kasih Allah sendiri.
Mari kita ambil satu gambar hari ini: 'Batu yang ditolak'. Dalam Injil, Yesus mengutip Mazmur, 'Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.' Di dunia ini, segala sesuatu yang rapuh, segala sesuatu yang tidak tahan lama, sering kali dianggap sebagai 'batu yang tidak berguna'. Namun, di mata Allah, justru di situlah kekuatan-Nya terpancar. Benjamin, dalam usianya yang singkat, adalah sebuah 'batu penjuru' bagi keluarga Anda. Ia menunjukkan kepada kita arti kesetiaan dalam hal-hal kecil. Ingatkah saat ia dengan tulus menawarkan seluruh isi celengannya untuk membantu pamannya, William, yang sedang sakit? Ia tidak perlu memecahkannya, ia tidak perlu memamerkannya—ia hanya menawarkan. Itu adalah tindakan kasih yang murni, sebuah tanda dari jiwa yang sudah siap untuk memberi sebelum ia sendiri dipanggil untuk memberikan segalanya. Ben tidak lagi terbatas oleh tubuh yang rapuh. Ia kini berada di 'Banquet of Heaven', tempat di mana tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi 'waktu untuk menangis', melainkan hanya 'waktu untuk menari'.
Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara tentang pemilik kebun anggur yang mengirimkan utusan-utusan-Nya, dan akhirnya Putra-Nya sendiri. Ben adalah utusan kasih di tengah keluarga Anda. Ia membawa senyum, ia membawa semangat, ia membawa impian tentang 'Con Chim Airlines'. Ia adalah burung kecil yang kini telah terbang dengan aman ke tangan Bapa. Dan di sana, ia tidak berhenti mencintai Anda. Ia adalah malaikat kecil Anda yang kini memandang wajah Allah, dan melalui pandangan itu, ia tetap terhubung dengan Anda. Seperti Ben yang begitu mencintai pesawat terbang, ia kini telah terbang melampaui awan, menuju tempat di mana tidak ada lagi perpisahan.
Ryan, abangmu adalah teman seperjuanganmu. Kamu tahu betapa ia menyukai pesawat terbang dan bagaimana ia selalu menunggumu. Jangan pernah merasa bahwa ia jauh. Ia ingin kamu terus belajar, terus bermimpi, dan terus berjalan dengan kepala tegak. Ia sedang bersorak untukmu dari garis finish di surga. Kasihnya adalah fondasi yang kokoh di bawah kakimu. Kamu tidak pernah sendirian dalam perjalananmu. Ingatlah saat-saat kalian berbagi sushi atau saat kalian berdua menatap patung-patung di perjalanan kalian; itu adalah ikatan yang tidak akan pernah bisa diputuskan oleh maut. Ia selalu ada di sana, dalam setiap hembusan angin dan dalam setiap langkah yang kamu ambil.
Saudara-saudari, mari kita mendarat pada satu hal konkret. Minggu ini, ketika duka itu datang mengetuk pintu hati Anda, jangan mencoba melawan atau memendamnya sendirian. Berhentilah sejenak. Ambil napas dalam-dalam, dan arahkan pandangan Anda pada kepastian kasih Allah. Lakukan satu tindakan kecil yang penuh kasih dalam nama Ben—mungkin mendengarkan seseorang yang kesepian, atau memberikan senyuman kepada mereka yang sedang lelah menjalani hari. Biarkan kasih Ben, yang kini terus mengalir melalui sumur air kehidupan di Cà Mau, Vietnam, menjadi tanda bahwa cinta tidak pernah mati, melainkan terus memberi hidup. Benjamin Vo, anak yang manis, cerdas, dan lembut... beristirahatlah dalam damai abadi di dalam terang Kristus. Doakanlah kami yang masih berziarah ini, agar kami senantiasa setia memikul salib kami dengan penuh pengharapan. Tetaplah kuat, Alan, Thao, dan Ryan. Tuhan memegang tangan kalian, dan di dalam kasih Bunda Maria dan Putra-Nya, kalian aman. Ingatlah, bahwa meskipun waktu di dunia ini memiliki batas, kasih Tuhan adalah kekal, dan di dalam kasih itulah, Ben menanti Anda semua dengan senyum yang sama yang pernah ia berikan kepada Anda di rumah. Jangan takut. Tuhan menyertai Anda hari ini, besok, dan selamanya.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga Allah yang Mahakuasa memberkati Anda, melindungi Anda dari segala bahaya, dan memberikan damai sejahtera-Nya yang melampaui segala akal. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.