Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Semoga kasih karunia Allah, yang mengutus para malaikat-Nya untuk menjaga langkah kita, menyertai Anda sekalian.
Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.
Pernahkah Anda memperhatikan seekor burung yang sedang terbang tinggi di angkasa? Bagi mata manusia, ia tampak kecil, hampir hilang di tengah luasnya langit. Namun, ia tidak pernah benar-benar tersesat. Ia memiliki naluri, sebuah kompas batin yang diberikan Pencipta, yang menuntunnya melintasi benua dan samudera untuk kembali ke tempat yang aman. Hari ini, dalam bacaan dari Kitab Ayub, kita mendengar Allah berbicara dari tengah badai. Ia bertanya kepada Ayub, 'Pernahkah engkau memerintahkan pagi sejak hidupmu, dan menunjukkan tempatnya kepada fajar?' Allah sedang membuka cakrawala yang tak terbatas di depan mata Ayub, mengingatkan bahwa ada misteri besar yang jauh melampaui pemahaman manusia. Ada keindahan dalam ketidaktahuan kita, karena di sanalah letak kepercayaan kita pada Sang Pencipta.
Sudah tiga bulan sejak Benjamin Vo menyelesaikan ziarah dunianya pada 13 Juni 2026. Tiga bulan yang bagi Anda, Alan, Thao, dan Ryan, mungkin terasa seperti berjalan di dalam badai yang tidak kunjung reda. Kepergian Ben adalah sebuah realitas yang menyayat hati, sebuah kekosongan yang tidak bisa diisi oleh logika manusiawi. Ben adalah seorang anak yang memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa. Ia adalah seorang insinyur cilik yang mampu menyelami dunia teknologi dengan kecerdasan yang tajam. Namun, di balik semua itu, ada satu sisi dari Ben yang sangat indah: ia adalah seorang anak yang sangat menghargai 'ritme kasih'. Ingatkah Anda bagaimana ia selalu menyambut ayahnya dengan 'Selamat pagi, Dad' setiap kali ia turun ke bawah? Itu bukan sekadar sapaan; itu adalah cara Ben memastikan bahwa ikatan kasih antara dirinya dan Anda tetap terjaga. Ia tidak pernah melewatkannya, karena baginya, kasih adalah sesuatu yang harus dirayakan setiap hari, dalam setiap detail kecil.
Mari kita jujur pada rasa sakit ini. Kehilangan Ben bukanlah sesuatu yang bisa kita tutupi dengan kata-kata manis atau kutipan kitab suci yang dingin. Jangan terburu-buru mencari penghiburan sebelum Anda mengakui bahwa kehilangan ini memang menyakitkan. Tuhan tidak meminta Anda untuk berpura-pura kuat. Tuhan ingin Anda datang kepada-Nya dengan segala kerapuhan Anda. Saat duka itu datang menyerbu tanpa permisi, janganlah menolak untuk menangis. Air mata adalah doa yang tidak terucapkan, dan Tuhan mengumpulkan setiap tetesnya di dalam kirbat-Nya. Anda tidak perlu berpura-pura tidak merasa hancur. Ayub pun berteriak, dan Tuhan tidak membungkamnya; Tuhan mendengarkannya. Tuhan tidak menuntut Anda untuk mengerti 'mengapa', Dia hanya menuntut Anda untuk tetap tinggal di dekat-Nya.
Di dalam keheningan malam, ketika musuh jiwa mencoba membisikkan keraguan—bertanya apakah ada yang terlewat, apakah ada yang bisa dilakukan secara berbeda, atau apakah ini adalah hukuman—dengarkanlah kebenaran ini dengan hati yang tenang. Penyakit yang dialami Benjamin bukanlah hukuman, bukan pula kegagalan dari kasih yang telah Anda curahkan dengan begitu sempurna. Tidak ada kewaspadaan manusiawi yang dapat menahan garis batas kehidupan yang sepenuhnya berada di dalam tangan Allah. Seperti yang Yesus katakan dalam Injil saat Ia ditanya tentang pria yang lahir buta, Ia menegaskan bahwa itu bukanlah dosa orang tua maupun anak itu. Anda telah mencintai Ben dengan segenap jiwa raga Anda. Tuhan tidak pernah menuduh Anda, dan Benjamin memandang Anda dari keabadian dengan kasih yang murni tanpa ada jejak penyesalan. Letakkanlah batu berat rasa bersalah itu di kaki salib. Anda tidak melewatkan apa pun; Anda telah memberikan segalanya yang terbaik yang bisa diberikan oleh seorang ibu dan seorang ayah. Anda tidak bersalah, dan Tuhan tidak menuntut pertanggungjawaban atas sesuatu yang berada di luar jangkauan manusia. Anda adalah orang tua yang luar biasa, dan kasih Anda adalah cerminan dari kasih Allah sendiri.
Mari kita ambil satu gambar hari ini: 'Malaikat yang selalu memandang wajah Bapa'. Yesus berkata dalam Injil, 'Janganlah kamu menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini, karena Aku berkata kepadamu: ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.' Bayangkan Ben, anak Anda yang terkasih, kini berada di tempat di mana tidak ada lagi badai. Ia tidak lagi harus berjuang dengan kerumitan dunia. Ia kini berada di hadapan wajah Bapa. Dan dari sana, ia tidak berhenti mencintai Anda. Ia adalah malaikat kecil Anda yang kini memandang wajah Allah, dan melalui pandangan itu, ia tetap terhubung dengan Anda. Seperti Ben yang begitu mencintai pesawat terbang dan bermimpi membangun 'Con Chim Airlines', ia kini telah terbang melampaui awan, menuju tempat di mana tidak ada lagi perpisahan. Ia adalah 'con chim'—burung kecil—yang kini hinggap dengan damai di tangan kasih Allah.
Ben adalah seorang anak yang sangat murah hati. Ingatkah saat ia dengan tulus menawarkan seluruh isi celengannya untuk membantu pamannya, William, yang sedang sakit? Ia tidak perlu memecahkannya, ia tidak perlu memamerkannya—ia hanya menawarkan. Itu adalah tindakan kasih yang murni, sebuah tanda dari jiwa yang sudah siap untuk memberi sebelum ia sendiri dipanggil untuk memberikan segalanya. Ben tidak pernah memecahkan celengan itu, tetapi ia telah memecahkan hati kita dengan kemurnian cintanya. Kasih itu tidak hilang. Kasih itu kini mengalir melalui 'Sumur Kasih' di Cà Mau, Vietnam, yang menghidupi banyak orang. Setiap tetes air yang mengalir di sana adalah tanda bahwa kasih Ben terus bekerja, terus memberi, terus menghidupkan.
Ryan, abangmu adalah teman seperjuanganmu. Kamu tahu betapa ia menyukai pesawat terbang dan bagaimana ia selalu menunggumu. Jangan pernah merasa bahwa ia jauh. Ia ingin kamu terus belajar, terus bermimpi, dan terus berjalan dengan kepala tegak. Ia sedang bersorak untukmu dari garis finish di surga. Kasihnya adalah fondasi yang kokoh di bawah kakimu. Kamu tidak pernah sendirian dalam perjalananmu. Ingatlah saat-saat kalian berbagi sushi atau saat kalian berdua menatap patung-patung di perjalanan kalian; itu adalah ikatan yang tidak akan pernah bisa diputuskan oleh maut. Ia selalu ada di sana, dalam setiap hembusan angin dan dalam setiap langkah yang kamu ambil.
Saudara-saudari, mari kita mendarat pada satu hal konkret. Minggu ini, ketika duka itu datang mengetuk pintu hati Anda, jangan mencoba melawan atau memendamnya sendirian. Berhentilah sejenak. Ambil napas dalam-dalam, dan arahkan pandangan Anda pada kepastian kasih Allah. Lakukan satu tindakan kecil yang penuh kasih dalam nama Ben—mungkin mendengarkan seseorang yang kesepian, atau memberikan senyuman kepada mereka yang sedang lelah menjalani hari. Biarkan kasih Ben, yang kini terus mengalir melalui sumur air kehidupan di Cà Mau, menjadi tanda bahwa cinta tidak pernah mati, melainkan terus memberi hidup. Benjamin Vo, anak yang manis, cerdas, dan lembut... beristirahatlah dalam damai abadi di dalam terang Kristus. Doakanlah kami yang masih berziarah ini, agar kami senantiasa setia memikul salib kami dengan penuh pengharapan. Tetaplah kuat, Alan, Thao, dan Ryan. Tuhan memegang tangan kalian, dan di dalam kasih Bunda Maria dan Putra-Nya, kalian aman. Ingatlah, bahwa meskipun waktu di dunia ini memiliki batas, kasih Tuhan adalah kekal, dan di dalam kasih itulah, Ben menanti Anda semua dengan senyum yang sama yang pernah ia berikan kepada Anda di rumah. Jangan takut. Tuhan menyertai Anda hari ini, besok, dan selamanya.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga Allah yang Mahakuasa memberkati kita, melindungi kita dari segala bahaya, dan menuntun kita menuju kehidupan yang kekal. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.