Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Semoga kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus menyertai kita semua.
Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.
Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana sebuah benih kecil, yang begitu rapuh dan tersembunyi di dalam tanah, perlahan-lahan membuka diri bukan karena paksaan, melainkan karena ia menerima cahaya dan air yang tepat? Ada keheningan yang kudus dalam proses itu. Kita sering kali berpikir bahwa pertumbuhan, atau bahkan pemulihan dari luka yang dalam, adalah sebuah proses yang harus kita kejar, kita paksa, atau kita selesaikan dengan kekuatan logika kita sendiri. Namun, Injil hari ini membawa kita ke sebuah ruang tamu di Betania, di mana dua saudari, Maria dan Marta, menunjukkan kepada kita dua cara yang berbeda dalam menanggapi kehadiran Sang Pencipta di tengah-tengah hidup mereka.
Yesus masuk ke rumah itu, dan seketika suasana berubah. Maria memilih untuk duduk di kaki Tuhan, mendengarkan. Ia tidak melakukan apa-apa selain hadir. Ia membiarkan dirinya ditarik ke dalam keheningan yang mendalam, ke dalam ruang di mana ia tidak perlu membuktikan apa pun, tidak perlu mengatur apa pun, hanya perlu ada di sana, di hadapan Sang Guru. Sementara itu, Marta sibuk. Ia terbebani oleh banyak pelayanan. Ia ingin segalanya sempurna. Ia ingin memberikan yang terbaik bagi Tamunya. Dan bukankah kita semua, di saat-saat duka yang paling kelam, sering kali menjadi seperti Marta? Kita mencoba mengatur, kita mencoba mencari jawaban, kita mencoba menyibukkan diri agar rasa sakit itu tidak terlalu terasa, agar kekosongan di rumah tidak terlalu nyata.
Sudah tiga bulan sejak Benjamin Vo menyelesaikan ziarah dunianya pada 13 Juni 2026. Tiga bulan yang bagi Anda, Alan, Thao, dan Ryan, mungkin terasa seperti berjalan di jalan yang panjang dan sunyi, di mana setiap sudut rumah menyimpan gema suara Ben yang kini hanya bisa didengar dalam ingatan. Ben, anak yang begitu cerdas, yang mampu menyelami dunia teknologi dan infrastruktur cloud dengan kejeniusan yang melampaui usianya, kini berada di tempat yang jauh lebih tenang. Ia adalah seorang anak yang sangat mencintai dunia penerbangan, yang selalu memandang ke langit dengan impian tentang 'Con Chim Airlines'. Namun, hari ini, saya ingin mengajak Anda merenungkan satu sisi Ben yang sering kali luput dari perhatian kita: kemampuannya untuk sekadar 'ada'.
Ingatkah Anda saat ia dengan penuh kasih menawarkan seluruh isi celengannya untuk membantu pamannya, William? Ia tidak perlu memecahkannya, ia tidak perlu memamerkannya, ia tidak perlu membuat keributan. Ia hanya menawarkan. Itu adalah tindakan seorang anak yang mengerti bahwa di balik semua 'pekerjaan' dan 'tugas' kita di dunia, ada satu hal yang paling penting: kasih yang tulus dan kehadiran yang murni. Ben adalah seorang anak yang tahu cara duduk di kaki Tuhan, bahkan dalam masa-masa sulitnya. Ia tidak menuntut jawaban atas 'mengapa' ia harus menanggung beban yang begitu berat. Ia hanya percaya.
Mari kita jujur pada rasa sakit ini. Kehilangan seorang anak seperti Ben bukanlah sesuatu yang bisa kita selesaikan dengan penjelasan teologis yang dingin. Jangan terburu-buru mencari penghiburan sebelum Anda mengakui bahwa kehilangan ini memang menyakitkan. Tuhan tidak meminta Anda untuk berpura-pura kuat atau untuk segera 'melanjutkan hidup' seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Saat duka itu datang menyerbu, janganlah menolak untuk merasakannya. Air mata adalah bahasa jiwa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dan Tuhan mengumpulkan setiap tetesnya di dalam kirbat-Nya. Anda tidak perlu berpura-pura tidak merasa hancur. Tuhan tidak menuntut Anda untuk mengerti 'mengapa'—mengapa jalan itu harus begitu curam, mengapa penderitaan harus menyentuh rumah Anda. Dia hanya menuntut Anda untuk tetap tinggal di dekat-Nya, seperti Maria yang memilih 'bagian yang terbaik'.
Di dalam keheningan malam, ketika musuh jiwa mencoba membisikkan keraguan—bertanya apakah ada yang terlewat, apakah ada yang bisa dilakukan secara berbeda, atau apakah ini adalah hukuman—dengarkanlah kebenaran ini dengan hati yang tenang. Penyakit yang dialami Benjamin bukanlah hukuman, bukan pula kegagalan dari kasih yang telah Anda curahkan dengan begitu sempurna. Tidak ada kewaspadaan manusiawi yang dapat menahan garis batas kehidupan yang sepenuhnya berada di dalam tangan Allah. Seperti yang Yesus katakan dalam Injil saat Ia ditanya tentang pria yang lahir buta, Ia menegaskan bahwa itu bukanlah dosa orang tua maupun anak itu. Anda telah mencintai Ben dengan segenap jiwa raga Anda. Tuhan tidak pernah menuduh Anda, dan Benjamin memandang Anda dari keabadian dengan kasih yang murni tanpa ada jejak penyesalan. Letakkanlah batu berat rasa bersalah itu di kaki salib. Anda tidak melewatkan apa pun; Anda telah memberikan segalanya yang terbaik yang bisa diberikan oleh seorang ibu dan seorang ayah. Anda tidak bersalah, dan Tuhan tidak menuntut pertanggungjawaban atas sesuatu yang berada di luar jangkauan manusia. Anda adalah orang tua yang luar biasa, dan kasih Anda adalah cerminan dari kasih Allah sendiri.
Mari kita ambil satu gambar hari ini: 'Bentuk yang rahasia'. Dalam Mazmur 139, kita mendengar: 'Ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, aku ditenun di bagian-bagian bumi yang paling bawah.' Sebelum kita lahir, sebelum kita melakukan apa pun, sebelum kita mencapai prestasi apa pun, Allah sudah mengenal kita. Allah sudah menenun kita dengan tangan-Nya sendiri. Ben, anak Anda yang terkasih, adalah karya seni Allah yang paling indah. Ia tidak hanya 'dibuat', ia 'ditenun' dengan kasih yang sangat spesifik. Dan sekarang, setelah ia menyelesaikan ziarahnya, ia kembali ke tangan Penenun itu. Ia tidak hilang; ia hanya kembali ke Sumber dari mana ia berasal. Ia kini beristirahat di tempat yang tidak lagi membutuhkan 'pekerjaan' atau 'pelayanan', melainkan hanya perhentian abadi.
Ryan, abangmu adalah teman seperjuanganmu. Kamu tahu betapa ia menyukai pesawat terbang dan bagaimana ia selalu menunggumu. Jangan pernah merasa bahwa ia jauh. Ia ingin kamu terus belajar, terus bermimpi, dan terus berjalan dengan kepala tegak. Ia sedang bersorak untukmu dari garis finish di surga. Kasihnya adalah fondasi yang kokoh di bawah kakimu. Kamu tidak pernah sendirian dalam perjalananmu. Ingatlah saat-saat kalian berbagi sushi atau saat kalian berdua menatap patung-patung di perjalanan kalian; itu adalah ikatan yang tidak akan pernah bisa diputuskan oleh maut. Ia selalu ada di sana, dalam setiap hembusan angin dan dalam setiap langkah yang kamu ambil.
Dalam bacaan pertama, Santo Paulus menceritakan bagaimana ia dipanggil sejak dari rahim ibunya. Ia tidak segera berkonsultasi dengan manusia. Ia pergi ke tempat yang sunyi untuk mendengarkan suara Tuhan. Begitu pula dengan Ben. Hidupnya yang singkat adalah sebuah panggilan yang sangat khusus. Ia tidak perlu hidup lama untuk menyelesaikan misinya di dunia ini. Misinya adalah untuk mencintai, untuk menjadi cahaya, untuk menjadi 'con chim'—burung kecil—yang kini hinggap dengan damai di tangan kasih Allah. Ia telah menyelesaikan tugasnya dengan sempurna. Sekarang, giliran kita untuk belajar dari Maria, untuk duduk di kaki Tuhan dan mendengarkan, bahkan di tengah kebisingan duka kita.
Saudara-saudari, mari kita mendarat pada satu hal konkret. Minggu ini, ketika duka itu datang mengetuk pintu hati Anda, jangan mencoba melawan atau memendamnya sendirian. Berhentilah sejenak. Ambil napas dalam-dalam, dan arahkan pandangan Anda pada kepastian kasih Allah. Lakukan satu tindakan kecil yang penuh kasih dalam nama Ben—mungkin hanya duduk dalam keheningan selama lima menit, atau tersenyum kepada seseorang yang sedang lelah menjalani hari. Biarkan kasih Ben, yang kini terus mengalir melalui sumur air kehidupan di Cà Mau, Vietnam, menjadi tanda bahwa cinta tidak pernah mati, melainkan terus memberi hidup. Benjamin Vo, anak yang manis, cerdas, dan lembut... beristirahatlah dalam damai abadi di dalam terang Kristus. Doakanlah kami yang masih berziarah ini, agar kami senantiasa setia memikul salib kami dengan penuh pengharapan. Tetaplah kuat, Alan, Thao, dan Ryan. Tuhan memegang tangan kalian, dan di dalam kasih Bunda Maria dan Putra-Nya, kalian aman. Ingatlah, bahwa meskipun waktu di dunia ini memiliki batas, kasih Tuhan adalah kekal, dan di dalam kasih itulah, Ben menanti Anda semua dengan senyum yang sama yang pernah ia berikan kepada Anda di rumah. Jangan takut. Tuhan menyertai Anda hari ini, besok, dan selamanya.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita dari segala yang jahat, dan membawa kita kepada kehidupan yang kekal. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.