Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, marilah kita memulai ibadat kita dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.
Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Apakah ada yang lebih membahagiakan daripada menerima sebuah undangan? Sebuah undangan ke perayaan yang besar, sebuah pesta pernikahan yang megah. Mungkin undangan yang datang melalui pos, dengan amplop yang indah, kertas yang tebal, dan tulisan kaligrafi yang elegan. Atau mungkin, di zaman kita sekarang, sebuah pesan digital yang ceria, penuh dengan emoji dan kegembiraan, mengundang kita untuk berbagi kebahagiaan. Apa pun bentuknya, sebuah undangan adalah janji. Janji akan sukacita, janji akan kebersamaan, janji akan momen yang tak terlupakan.
Dalam Injil hari ini, Yesus menceritakan sebuah perumpamaan yang dimulai dengan undangan semacam itu. Seorang raja mengadakan pesta pernikahan untuk putranya. Bayangkan kemewahan itu. Bukan hanya pesta biasa, tetapi pesta kerajaan. Segala sesuatu telah disiapkan: hidangan terbaik, daging-dagingan yang lezat, minuman yang melimpah. Ini adalah perayaan agung, puncak kebahagiaan bagi sang raja dan putranya. Dan para tamu diundang, mereka yang seharusnya merasakan kehormatan besar ini, mereka yang seharusnya bersukacita bersama raja.
Namun, apa yang terjadi? Mereka menolak untuk datang. Mereka tidak hanya menolak, tetapi beberapa dari mereka bahkan mencengkeram para pelayan raja, menganiaya mereka, dan membunuh mereka. Sungguh luar biasa penolakan ini. Ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus bisnisnya. Seolah-olah undangan dari raja, kehormatan untuk berbagi dalam sukacita yang begitu besar, tidak berarti apa-apa bagi mereka. Mereka lebih memilih urusan duniawi mereka, pekerjaan mereka, bahkan mungkin kesibukan mereka yang kosong, daripada sukacita yang ditawarkan sang raja.
Dan kita bisa memahami kemarahan raja. Kemarahan yang timbul dari penolakan, dari penghinaan, dari kekerasan yang tak masuk akal. Ini adalah gambaran yang keras, bukan? Ini bukan sekadar cerita manis tentang pesta. Ini adalah perumpamaan tentang undangan Allah kepada kita, kepada umat-Nya, kepada setiap jiwa manusia. Dan tentang bagaimana kita sering kali menanggapi undangan itu.
Kita mungkin tidak secara terang-terangan menolak Allah, tidak menganiaya nabi-nabi-Nya. Tetapi berapa sering kita mengabaikan undangan-Nya? Berapa sering kita membiarkan kesibukan, kekhawatiran, atau bahkan kesenangan-kesenangan kecil dunia ini menghalangi kita untuk sepenuhnya hadir di hadapan-Nya? Undangan untuk berdoa, undangan untuk bersekutu, undangan untuk melayani, undangan untuk mencintai. Kadang-kadang kita terlalu sibuk dengan ladang kita, dengan bisnis kita, dengan rencana kita sendiri. Dan tanpa sadar, kita menolak sukacita yang lebih besar, sukacita yang kekal.
Dan dalam penolakan itu, dalam pengabaian itu, sering kali ada rasa sakit yang mendalam. Rasa sakit karena kehilangan. Rasa sakit karena pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Kita melihat Ben, Benjamin Vo, seorang anak laki-laki yang begitu cerdas, begitu lembut, begitu penuh dengan empati. Sembilan minggu yang lalu, ia dipanggil pulang ke rumah Bapa. Dan bagi mereka yang mencintainya—bagi Alan dan Thao, orang tuanya; bagi Ryan, adiknya; bagi kakek-nenek, paman, bibi, dan semua kerabat serta sahabat—rasa sakit itu masih terasa begitu nyata, begitu menusuk. Rasa sakit karena kehilangan seseorang yang begitu dicintai, begitu berharga, yang pergi terlalu cepat.
Dalam salah satu mimpinya, ayahnya mendengar Ben bertanya, dengan rasa kebingungan yang mendalam, “Ba ơi, test nào con cũng qua hết. Con tự thở được bình thường mà... sao con lại bị như vầy?” “Ayah, semua tes sudah kulalui. Aku bisa bernapas normal… kenapa aku jadi seperti ini?” Pertanyaan itu, ‘kenapa aku jadi seperti ini?’, adalah pertanyaan yang menghantui begitu banyak hati yang berduka. Mengapa ini terjadi? Mengapa pada anakku? Mengapa pada orang yang kucintai? Apakah ada yang salah? Apakah ada yang terlewatkan? Apakah aku bisa melakukan sesuatu yang berbeda?
Pertanyaan ini, saudara-saudari, adalah sebuah jeritan hati. Sebuah jeritan yang jujur dan menyakitkan. Dan dalam keheningan pertanyaan itu, sering kali terselip beban yang tak terucapkan: rasa bersalah. Rasa bersalah yang tidak berdasar, tetapi begitu berat. Seolah-olah ada sesuatu yang bisa dilakukan, sesuatu yang seharusnya diketahui, sesuatu yang entah bagaimana, adalah kesalahan kita. Seolah-olah penderitaan dan penyakit adalah hukuman, atau hasil dari kegagalan kita. Dan beban itu, beban rasa bersalah yang tidak pantas, bisa lebih berat daripada duka itu sendiri.
Tetapi lihatlah bacaan pertama kita dari Kitab Yehezkiel. Allah sendiri berfirman: “Aku akan memercikkan air bersih kepadamu untuk membersihkan kamu dari segala kenajisanmu, dan dari segala berhalamu Aku akan membersihkan kamu. Aku akan memberimu hati yang baru dan roh yang baru di dalam dirimu, mengambil dari tubuhmu hati yang keras dan memberimu hati yang alami.”
Ini adalah janji yang luar biasa, janji yang mengubah segalanya. Allah tidak mengatakan, “Aku akan membersihkanmu jika kamu pantas.” Dia tidak mengatakan, “Aku akan memberimu hati yang baru jika kamu telah berusaha cukup keras.” Tidak. Dia berkata, “Aku akan.” Ini adalah tindakan-Nya. Ini adalah inisiatif-Nya. Ini adalah anugerah-Nya. Dialah yang memercikkan air bersih. Dialah yang membersihkan. Dialah yang memberi hati yang baru, hati yang alami, bukan hati yang keras seperti batu. Dialah yang menempatkan Roh-Nya di dalam kita, untuk membuat kita hidup sesuai dengan ketetapan-Nya.
Ini adalah “pakaian pesta” yang Allah berikan kepada kita! Dalam perumpamaan Injil, raja menemukan seorang pria di pesta yang tidak mengenakan pakaian pesta. Dan pria itu terdiam, tidak bisa menjawab. Mungkin dia merasa tidak pantas, atau mungkin dia menolak untuk menerima anugerah pakaian itu. Tetapi Allah kita, melalui janji-Nya dalam Yehezkiel, tidak hanya mengundang kita ke pesta, tetapi Dia juga menyediakan pakaiannya. Dia menyediakan hati yang baru, roh yang baru, yang memungkinkan kita untuk masuk ke dalam perayaan-Nya dengan layak, bukan karena usaha kita sendiri, tetapi karena anugerah-Nya yang membersihkan dan mengubah.
Saudara-saudari, penyakit, penderitaan, kematian—ini bukanlah hukuman dari Tuhan. Ini bukanlah akibat dari kesalahan orang tua, atau dari kegagalan siapa pun. Ben tidak ‘menjadi seperti ini’ karena ada yang salah dengan dia, atau dengan cara dia dirawat, atau dengan cinta yang dia terima. Tidak. Allah tidak mengirimkan penyakit. Beberapa kesedihan hanya datang secara acak, di luar kendali manusia, bukan dari kebiasaan apa pun, bukan dari perawatan yang diberikan atau terlewatkan, bukan dari apa pun yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh tubuh—di luar semua kendali manusia, dan tidak ada kewaspadaan yang bisa mencegahnya. Seperti yang Yesus katakan ketika ditanya siapa yang berdosa sehingga seorang pria dilahirkan buta, “Bukan orang ini atau orang tuanya” (Yohanes 9:3). Itu adalah misteri penderitaan di dunia yang jatuh ini.
Tetapi di tengah misteri itu, ada janji Allah yang teguh: Dia akan membersihkan. Dia akan memberi hati yang baru. Dia akan memulihkan. Dia akan mengundang. Dan undangan-Nya meluas kepada *semua*. Ketika tamu-tamu pertama menolak, raja tidak membatalkan pesta. Tidak. Ia berkata kepada para pelayannya, “Pergilah ke jalan-jalan utama dan undanglah ke pesta siapa saja yang kamu temukan.” Tidak peduli siapa mereka, tidak peduli latar belakang mereka, tidak peduli apakah mereka “baik atau buruk,” seperti yang Yesus katakan. Aula pesta harus dipenuhi. Undangan itu universal. Anugerah itu universal.
Ini adalah kabar baik yang membanjiri kita dengan harapan. Allah kita adalah Allah yang tidak pernah menyerah pada kita. Dia tidak membatalkan undangan-Nya. Bahkan ketika kita merasa tidak layak, bahkan ketika kita merasa kotor atau tidak siap, Dia tetap mengundang. Dan Dia sendiri yang menyediakan apa yang kita butuhkan untuk hadir: hati yang baru, roh yang baru, yang dibasuh oleh air bersih anugerah-Nya.
Dan di sinilah kita melihat Benjamin. Ben, seorang anak laki-laki dengan hati yang lembut, dengan empati yang mendalam. Ingatlah bagaimana pada usia 12 tahun, ia menangis pada ulang tahun ke-40 ayahnya karena takut kehilangannya. Itu bukan sekadar kesedihan anak-anak; itu adalah cerminan dari hati yang sangat mencintai, hati yang merasakan ikatan yang dalam, hati yang peka terhadap kerapuhan hidup dan nilai orang yang dicintai. Atau ingatlah bagaimana ia, di usia 15 tahun, bersedia memberikan seluruh celengannya untuk membantu pamannya yang menderita dua kali stroke. Ini adalah tanda-tanda hati yang sudah disiapkan oleh Allah, hati yang sudah mengenakan “pakaian pesta” kasih dan belas kasihan. Hatinya sudah menerima anugerah hati yang baru, hati yang alami, yang Allah janjikan dalam Yehezkiel.
Ben tidak hanya menerima undangan; ia hidup dengan hati yang sudah disiapkan untuk pesta Allah. Kelembutan hatinya, kepeduliannya terhadap orang lain, senyumnya yang mudah, rasa hormatnya kepada orang tuanya—semua ini adalah buah dari Roh Allah yang sudah bekerja dalam dirinya, membasuh dan membersihkan, membentuk hati yang baru. Ia sudah mengenakan pakaian pesta yang diberikan Allah, pakaian kasih dan kemurnian. Dan itulah mengapa kita percaya bahwa ia kini berada di Perjamuan Surgawi, di pesta yang tak berkesudahan, di hadapan Raja yang mengundangnya.
Bahkan setelah kepergiannya, hati Ben yang lembut dan penuh kasih terus menginspirasi. Sebuah sumur air bersih telah didedikasikan atas namanya di Vietnam, membawa kehidupan dan harapan kepada komunitas yang membutuhkan. Sebuah “Sumur Kasih” yang mengalirkan air bersih, persis seperti janji Allah dalam Yehezkiel: “Aku akan memercikkan air bersih kepadamu.” Ini adalah tanda nyata bahwa kasih Ben, yang adalah kasih Allah yang bekerja melalui dia, terus mengalir dan membersihkan, bahkan melampaui kematian.
Untuk Alan, Thao, dan Ryan, untuk semua yang mencintai Benjamin: Jangan biarkan pertanyaan ‘mengapa’ atau beban rasa bersalah membebani hati Anda. Allah tidak menuduh Anda. Dia tidak menyalahkan Anda. Dia memahami duka Anda, dan Dia ada di sana untuk membersihkan dan memulihkan hati Anda. Ben tidak pergi karena kesalahan siapa pun. Dia pergi karena undangan Allah, dan dia pergi dengan hati yang sudah disiapkan, mengenakan pakaian pesta kasih yang telah Allah berikan kepadanya. Dia sekarang berada di pesta itu, bersukacita tanpa akhir, dan dia menanti Anda.
Dan bagi siapa pun yang mendengarkan, yang mungkin membawa salib berat di hati Anda, yang mungkin merasa tidak layak atau tidak siap untuk sukacita Allah, yang mungkin bertanya-tanya mengapa penderitaan datang: ingatlah bahwa undangan Allah adalah untuk Anda. Dia tidak mencari yang sempurna, Dia mencari yang mau menerima undangan-Nya. Dan Dia sendiri yang akan menyediakan pakaian pesta itu bagi Anda, hati yang baru, roh yang baru, yang dibasuh oleh air bersih anugerah-Nya.
Apa yang bisa kita bawa pulang dari perumpamaan dan janji-janji ini hari ini? Sebuah hal kecil, tetapi mendalam: Setiap hari, sadarilah bahwa Anda sedang menerima undangan. Undangan untuk hidup dalam kasih, undangan untuk berbelas kasih, undangan untuk menerima anugerah Allah yang membersihkan. Dan setiap hari, terima “pakaian pesta” yang Allah tawarkan: hati yang baru, roh yang baru. Ini bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang membiarkan Allah bekerja dalam diri Anda, membersihkan Anda, dan mempersiapkan Anda untuk perjamuan-Nya yang kekal.
Marilah kita membuka hati kita hari ini untuk menerima undangan itu, untuk menerima hati yang baru, dan untuk percaya bahwa Allah sedang mempersiapkan kita. Dia sedang mempersiapkan kita untuk pesta-Nya, sebuah pesta sukacita yang tak berkesudahan, di mana tidak ada lagi pertanyaan ‘mengapa’, hanya ada kasih yang abadi.
Amin.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
ᐱᐅᓕᔨᑦᑕ ᑎᓕᐅᕆᓂᖓᒍᑦ ᐊᒻᒪᓗ ᒎᑎᐅᑉ ᐃᓕᓐᓂᐊᖅᑎᑦᑎᓂᖓᒍᑦ, ᐅᖃᕈᓐᓇᖅᓯᕗᒍᑦ:
ᐊᑖᑕᕗᑦ ᕿᓚᖕᒦᑦᑐᑎᑦ, ᐊᑎᖅᐱᑦ ᐃᑉᐱᒋᔭᐅᑦᑎᐊᕐᓕ; ᐊᖓᔪᖅᑳᕆᔭᐅᓂᖅᐱᑦ ᑎᑭᓪᓕ, ᐱᔪᒪᔭᐃᑦ ᐱᔭᐅᓕ ᓄᓇᒥ ᕿᓚᖕᒥᑐᑦ. ᐅᓪᓗᒥ ᑐᓂᓯᒋᑦ ᐅᕙᑦᑎᓐᓄᑦ ᓂᕿᒃᓴᑦᑎᓐᓂᒃ ᐅᓪᓗᑕᒫᖅᓯᐅᑎᒥᒃ, ᐊᒻᒪᓗ ᐃᓱᒪᒋᔪᓐᓃᕐᓗᒋᑦ ᐱᐅᙱᓕᐅᕈᑎᕗᑦ, ᓲᕐᓗ ᐅᕙᒍᑦ ᐃᓱᒪᒋᔪᓐᓃᖅᑕᕗᑦ ᐱᐅᙱᓕᐅᖅᑐᑦ ᐅᕙᑦᑎᓐᓄᑦ; ᐊᒻᒪᓗ ᐆᒃᑐᖅᑕᐅᓂᕐᒧᑦ ᐱᑎᑦᑎᑦᑕᐃᓕᒋᑦ, ᐱᐅᙱᑦᑐᒥᓪᓕ ᐊᓐᓇᐅᒪᑎᒋᑦ. ᐋᒥᓐ.
Semoga Allah yang Mahakuasa memberkati kita, Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin. Pergilah dalam damai, memuliakan Tuhan dengan hidupmu.
✝ ᒎᑎ ᐊᔪᙱᓐᓂᓕᒫᓕᒃ ᓴᐃᒻᒪᖅᓴᐃᓕ ᐃᓕᔅᓯᓐᓂᒃ: ᐊᑖᑕ, ᐃᕐᓂᖅ, ᐊᒻᒪᓗ ᐊᓂᕐᓂᖅ ᐱᐅᔪᖅ. ᐋᒥᓐ.