Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, damai sejahtera Tuhan kita Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kita sekalian. Marilah kita memulai ibadah ini dengan Tanda Salib, dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.
Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Bayangkan sejenak sebuah ladang yang luas, terhampar di bawah langit yang cerah. Mungkin Anda melihat tanah yang baru saja digarap, siap menerima benih. Atau mungkin Anda melihat ladang yang sudah ditanami, dengan tunas-tunas hijau yang baru muncul, atau bahkan tanaman yang sudah mulai berbuah. Ada pekerjaan yang sunyi di sana, sebuah proses pertumbuhan yang seringkali tak terlihat oleh mata telanjang, namun terus berlangsung, hari demi hari. Seorang petani mungkin menanam benih, menyiramnya, merawatnya, tetapi ia tahu, jauh di lubuk hatinya, bahwa pertumbuhan itu sendiri adalah anugerah, sebuah misteri yang melampaui segala upaya manusia.
Atau bayangkan sebuah bangunan. Bukan sekadar tumpukan batu bata atau balok kayu, tetapi sebuah struktur yang dirancang dengan cermat, dengan fondasi yang kokoh, dinding yang menjulang, dan atap yang melindungi. Di baliknya ada arsitek yang merancang, tukang yang membangun, tetapi setiap bagian, setiap sambungan, setiap detail, memiliki tujuan dalam keseluruhan rencana. Ada pekerjaan yang sungguh-sungguh, sebuah visi yang perlahan-lahan menjadi kenyataan, dari sebuah ide di atas kertas menjadi sebuah rumah yang berdiri tegak.
Kedua gambaran ini—ladang dan bangunan—hadir dalam bacaan pertama kita hari ini, dari Surat Santo Paulus kepada jemaat di Korintus. Paulus berkata dengan jelas: “Karena kami adalah rekan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.” Sebuah kalimat yang begitu sederhana, namun menyimpan kebenaran yang begitu mendalam, sebuah kebenaran yang ingin kita gali bersama hari ini. Kita adalah ladang Allah, kita adalah bangunan Allah.
Namun, saudara-saudari, terkadang ladang itu terasa kosong. Terkadang bangunan itu terasa belum selesai, bahkan mungkin hancur. Dua bulan telah berlalu sejak Benjamin, Ben, meninggalkan kita untuk pulang ke rumah Bapa. Dua bulan… Bagi Alan dan Thao, orang tuanya, dan bagi Ryan, adiknya, dua bulan itu mungkin terasa seperti seumur hidup, atau mungkin seperti kemarin sore. Waktu memiliki cara yang aneh untuk bergerak dalam duka. Ruangan-ruangan di rumah mungkin terasa lebih sunyi, tawa yang dulu mengisi kini hanya menjadi kenangan, dan ada sebuah kekosongan yang nyata, sebuah tempat yang tak bisa diisi oleh apa pun. Ladang hati mereka mungkin terasa seperti tanah yang gersang, atau bangunan jiwa mereka seperti sebuah reruntuhan, di mana harapan dan sukacita tampak sulit untuk tumbuh atau dibangun kembali. Kehilangan seorang anak, seorang adik, pada usia 15 tahun, adalah duka yang melampaui kata-kata. Sebuah keheningan yang berat, sebuah rasa sakit yang menusuk. Dan dalam keheningan itu, kita bertanya-tanya: Di mana pertumbuhan itu? Di mana tujuan itu? Di mana Allah dalam ladang yang terasa begitu tandus ini?
Paulus berbicara kepada jemaat di Korintus yang sedang berkonflik. Ada perpecahan di antara mereka, ada kecemburuan dan persaingan. Sebagian berkata, “Aku golongan Paulus,” yang lain berkata, “Aku golongan Apolos.” Paulus menyebut mereka “manusia duniawi,” “bayi dalam Kristus,” yang masih hidup “menurut cara manusia.” Mereka terlalu fokus pada siapa yang menanam dan siapa yang menyiram, lupa pada siapa yang sesungguhnya menyebabkan pertumbuhan. Paulus mengingatkan mereka: “Apa itu Apolos? Apa itu Paulus? Hanya pelayan-pelayan, yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut karunia yang diberikan Tuhan kepadanya.” Dan inilah intinya, saudara-saudari, inilah kalimat yang menjadi jangkar bagi kita hari ini: “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.”
“Tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.” Bukan Paulus, bukan Apolos, bukan manusia mana pun. Allah. Dia adalah Sang Petani Agung, Sang Arsitek Utama. Kita mungkin menanam benih kebaikan, kita mungkin menyiram dengan kasih sayang, kita mungkin meletakkan batu bata dengan kerja keras, tetapi pertumbuhan, perkembangan, dan penyelesaian itu, semuanya berasal dari Allah. Kita adalah “rekan sekerja Allah,” ya, kita berpartisipasi dalam pekerjaan-Nya, tetapi kita bukanlah pemilik pertumbuhan itu. Kita adalah ladang-Nya, kita adalah bangunan-Nya. Kita adalah tanah tempat benih ilahi ditaburkan, kita adalah struktur tempat rencana ilahi diwujudkan. Ini adalah panggilan untuk kerendahan hati, untuk persatuan, untuk mengakui bahwa setiap karunia, setiap talenta, setiap kehidupan, adalah milik Allah dan untuk kemuliaan-Nya.
Dalam Injil hari ini, kita melihat Yesus dalam pelayanan-Nya yang penuh kuasa. Ia baru saja meninggalkan sinagoga dan masuk ke rumah Simon. Di sana, ibu mertua Simon menderita demam tinggi. Mereka memohon kepada Yesus untuknya. Dan Yesus, dengan otoritas yang lembut namun tak terbantahkan, “berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan demam itupun meninggalkannya. Seketika itu juga perempuan itu bangkit dan melayani mereka.” Bayangkan momen itu. Dari ranjang sakit, dari kelemahan, ia segera bangkit, pulih sepenuhnya, dan mulai melayani. Sebuah tanda pertumbuhan, sebuah tanda kehidupan yang dipulihkan.
Kemudian, pada waktu matahari terbenam, semua orang yang memiliki sanak keluarga dengan berbagai penyakit membawa mereka kepada-Nya. Dan Yesus, dengan penuh kasih, “meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka.” Bahkan roh-roh jahat keluar dari banyak orang, berseru, “Engkau adalah Anak Allah!” Namun, Yesus menghardik mereka dan tidak mengizinkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Dia adalah Kristus. Kuasa Allah bekerja melalui Yesus, membawa penyembuhan, kebebasan, dan kehidupan baru ke dalam ladang-ladang manusia yang sakit dan terikat.
Tetapi cerita tidak berhenti di situ. Pada keesokan harinya, “pagi-pagi benar Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi.” Ia mencari waktu untuk sendirian, untuk berdoa, untuk berhubungan kembali dengan Bapa. Orang banyak mencari Dia, dan ketika mereka menemukan-Nya, “mereka berusaha menahan Dia, supaya jangan meninggalkan mereka.” Mereka ingin memegang-Nya, menjaga-Nya di satu tempat, di satu ladang. Mereka telah melihat buah dari pekerjaan-Nya, dan mereka ingin terus menikmatinya di tempat yang sama. Namun, Yesus berkata kepada mereka, “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, karena untuk itulah Aku diutus.”
“Karena untuk itulah Aku diutus.” Ini adalah inti dari misi Yesus, dan ini juga merupakan inti dari setiap ladang dan bangunan Allah. Ada sebuah tujuan ilahi yang lebih besar dari satu tempat, satu orang, atau satu momen. Yesus adalah Sang Penanam dan Penyiram utama, tetapi Dia juga adalah Sang Pewarta Kerajaan. Ladang Allah tidak terbatas pada satu desa; bangunan Allah tidak terbatas pada satu rumah. Kerajaan Allah harus diwartakan ke “kota-kota lain,” ke seluruh dunia. Ini adalah sebuah gerakan, sebuah dinamika, sebuah panggilan untuk terus maju, bahkan ketika kita ingin menahan diri, bahkan ketika kita ingin menahan orang yang kita kasihi di satu tempat yang nyaman.
Saudara-saudari, inilah titik baliknya. Inilah cahaya yang masuk ke dalam ruangan yang sunyi. Ladang Allah, bangunan Allah, memiliki tujuan yang lebih besar dari apa yang bisa kita lihat atau pahami sepenuhnya. Ketika kita merasakan kekosongan, ketika kita bertanya mengapa, ketika kita ingin menahan orang yang kita kasihi agar tidak pergi, Injil hari ini mengingatkan kita bahwa ada sebuah “tujuan” ilahi yang melampaui batas-batas pandangan kita. Allah adalah yang memberi pertumbuhan, dan Dia adalah yang mengutus. Pertumbuhan itu mungkin tidak selalu dalam bentuk yang kita harapkan, dan pengutusan itu mungkin membawa kita atau orang yang kita kasihi ke tempat yang tidak kita duga.
Mari kita lihat Ben, Benjamin, melalui lensa kebenaran ini. Paulus berkata, “kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.” Ben adalah ladang Allah yang istimewa, sebuah lahan yang ditanami dengan benih kecerdasan yang luar biasa dan rasa ingin tahu yang tak terbatas. Sejak usia muda, pikirannya sudah melampaui usianya. Ia mampu mengerjakan matematika kelas 8 saat masih di kelas 4. Ia menyelami dunia AI, DevOps, infrastruktur cloud, dan berdiskusi tentang ide-ide bisnis dan game yang kompleks dengan kedewasaan yang mengejutkan. Ini bukan sekadar bakat, saudara-saudari. Ini adalah bagaimana Allah menanam dan menyiram di ladang Benjamin. Allah yang menyebabkan pertumbuhan dalam kecerdasannya, dalam kemampuannya untuk memahami dan menciptakan. Ben tidak hanya “menanam” pengetahuan, ia juga “menyiram” dengan rasa ingin tahu yang tulus, dengan semangat belajar yang tak pernah padam. Ladang pikirannya selalu subur, selalu menghasilkan buah pemahaman yang baru.
Dan seperti yang Paulus katakan, “Kami adalah rekan sekerja Allah.” Ben, dalam caranya sendiri, adalah rekan sekerja Allah. Ia menggunakan karunia-karunia yang Allah berikan kepadanya untuk menjelajahi dunia, untuk memahami ciptaan, dan untuk berkreasi. Kecerdasannya yang brilian dan rasa ingin tahunya yang tak terbatas bukanlah untuk persaingan atau untuk memegahkan diri, tetapi untuk pertumbuhan, untuk eksplorasi, untuk kebaikan. Ia tidak berkata, “Aku golongan ini” atau “Aku golongan itu.” Ia hanya seorang anak yang dengan gembira dan rendah hati menumbuhkan benih-benih yang ditanam Allah dalam dirinya, dan menyiraminya dengan semangatnya yang lembut.
Alan dan Thao, dan Ryan, Anda adalah petani di ladang Benjamin. Anda menanam benih kasih sayang yang tak terbatas, Anda menyiramnya dengan perhatian yang tak henti-henti, Anda merawatnya dengan setiap napas hidup Anda. Anda adalah rekan sekerja Allah dalam hidup Ben. Dan buah yang dihasilkan dari ladang itu sangatlah indah: seorang anak laki-laki dengan kecerdasan yang brilian, hati yang lembut, dan semangat yang penuh rasa ingin tahu. Meskipun ladang itu kini terasa kosong, meskipun bangunan itu kini terasa sunyi, ketahuilah ini: Allah yang menyebabkan pertumbuhan. Allah yang memanen buah itu. Hidup Benjamin, meskipun singkat di mata kita, adalah sebuah panen yang sempurna di mata Allah, karena setiap benih yang ditanam, setiap tetes air yang diberikan, setiap pertumbuhan yang terjadi, semuanya adalah bagian dari rencana ilahi-Nya yang lebih besar. Ia telah diutus, seperti Yesus, ke “kota-kota lain,” ke Kerajaan Allah yang abadi. Dan di sana, di ladang surgawi itu, ia terus tumbuh dan berbuah dalam kasih Allah yang tak terbatas. Allah yang memberi pertumbuhan, dan Allah tidak pernah menyia-nyiakan satu pun benih yang ditanam-Nya.
Ryan, adik Benjamin, sahabat terbaiknya. Ben sangat mencintaimu. Ingatlah bagaimana kalian berdua berbagi tawa, bagaimana kalian bersama-sama menjelajahi dunia, bagaimana ia dengan antusias menceritakan ide-idenya. Ladang hatimu kini mungkin terasa berat, tetapi benih-benih kasih yang ditanam Ben dalam dirimu masih ada. Teruslah menyirami benih-benih itu dengan kenangan indah, dengan semangat belajar dan rasa ingin tahu yang juga ada dalam dirimu. Jadilah ladang yang subur, Ryan, teruslah tumbuh, teruslah belajar, teruslah mencintai, tidak hanya untuk dirimu sendiri, tetapi juga untuk Benjamin. Ia kini ada di Kerajaan Allah, diutus ke tempat di mana ia dapat terus menyaksikan pertumbuhanmu dari tempat terbaik di surga, bersorak untukmu dengan senyumnya yang berseri-seri.
Dan kepada setiap orang yang mendengarkan dari jauh, kepada anak-anak lain yang menderita, dan kepada setiap keluarga yang memikul salib yang berat: Anda juga adalah ladang Allah, Anda juga adalah bangunan Allah. Terkadang, kita merasa seperti ladang yang gersang, atau bangunan yang belum selesai, atau bahkan hancur. Kita mungkin bertanya, di mana Sang Petani? Di mana Sang Arsitek? Tetapi Paulus mengingatkan kita: “Allah yang memberi pertumbuhan.” Bahkan di tengah duka yang paling dalam, bahkan ketika kita tidak melihatnya, Allah tetap bekerja di ladang hati kita, di bangunan jiwa kita. Dia tidak pernah meninggalkan ladang-Nya. Dia tidak pernah membiarkan bangunan-Nya runtuh tanpa tujuan. Dia terus menanam benih harapan, menyiram dengan anugerah, dan membangun fondasi iman yang kokoh. Percayalah bahwa ada tujuan ilahi yang lebih besar, sebuah Kerajaan yang sedang diwartakan, sebuah pertumbuhan yang sedang terjadi, bahkan ketika kita tidak dapat melihatnya dengan jelas.
Ben, melalui hidupnya yang brilian dan lembut, terus menanam benih kasih di dunia ini. Seperti sumur air bersih “Giếng Gioan Baotixita” yang didedikasikan atas namanya di Cà Mau, Vietnam, yang kini membawa kehidupan bagi sebuah komunitas, demikian pula kenangan Benjamin terus menyirami benih-benih kasih dan harapan di hati kita. Warisannya adalah sebuah ladang yang terus berbuah, sebuah bangunan yang terus menginspirasi.
Apa yang bisa kita bawa pulang hari ini?
Ketika Anda melihat sebuah tanaman kecil yang tumbuh di celah trotoar, atau melihat sebuah bangunan yang sedang dibangun, atau bahkan hanya melihat ke dalam hati Anda sendiri, ingatlah bahwa Allah adalah Sang Petani, Sang Arsitek. Dia adalah yang menanam, Dia adalah yang menyiram, dan Dialah yang menyebabkan pertumbuhan. Hari ini, marilah kita percaya pada pertumbuhan itu, bahkan ketika kita tidak melihatnya, bahkan ketika kita tidak memahaminya. Marilah kita membiarkan diri kita menjadi ladang dan bangunan Allah, yang ditanami dan dibangun untuk tujuan ilahi-Nya. Dan marilah kita berdoa dalam hati:
“Tuhan Yesus, Engkaulah yang menanam dan menyiram, Engkaulah yang menyebabkan pertumbuhan. Bantulah kami untuk percaya pada rencana-Mu yang agung, bahkan di tengah duka. Hiburlah Alan, Thao, dan Ryan dalam kehilangan Benjamin, dan biarkanlah kami semua menjadi ladang dan bangunan-Mu yang subur, berbuah dalam kasih-Mu yang abadi.”
Benjamin Vo, semoga engkau beristirahat dalam terang Tuhan yang tak berkesudahan. Amin.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
ᐱᐅᓕᔨᑦᑕ ᑎᓕᐅᕆᓂᖓᒍᑦ ᐊᒻᒪᓗ ᒎᑎᐅᑉ ᐃᓕᓐᓂᐊᖅᑎᑦᑎᓂᖓᒍᑦ, ᐅᖃᕈᓐᓇᖅᓯᕗᒍᑦ:
ᐊᑖᑕᕗᑦ ᕿᓚᖕᒦᑦᑐᑎᑦ, ᐊᑎᖅᐱᑦ ᐃᑉᐱᒋᔭᐅᑦᑎᐊᕐᓕ; ᐊᖓᔪᖅᑳᕆᔭᐅᓂᖅᐱᑦ ᑎᑭᓪᓕ, ᐱᔪᒪᔭᐃᑦ ᐱᔭᐅᓕ ᓄᓇᒥ ᕿᓚᖕᒥᑐᑦ. ᐅᓪᓗᒥ ᑐᓂᓯᒋᑦ ᐅᕙᑦᑎᓐᓄᑦ ᓂᕿᒃᓴᑦᑎᓐᓂᒃ ᐅᓪᓗᑕᒫᖅᓯᐅᑎᒥᒃ, ᐊᒻᒪᓗ ᐃᓱᒪᒋᔪᓐᓃᕐᓗᒋᑦ ᐱᐅᙱᓕᐅᕈᑎᕗᑦ, ᓲᕐᓗ ᐅᕙᒍᑦ ᐃᓱᒪᒋᔪᓐᓃᖅᑕᕗᑦ ᐱᐅᙱᓕᐅᖅᑐᑦ ᐅᕙᑦᑎᓐᓄᑦ; ᐊᒻᒪᓗ ᐆᒃᑐᖅᑕᐅᓂᕐᒧᑦ ᐱᑎᑦᑎᑦᑕᐃᓕᒋᑦ, ᐱᐅᙱᑦᑐᒥᓪᓕ ᐊᓐᓇᐅᒪᑎᒋᑦ. ᐋᒥᓐ.
Semoga Allah yang Mahakuasa memberkati kita, Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin. Pergilah dalam damai, memuliakan Tuhan dengan hidupmu.
✝ ᒎᑎ ᐊᔪᙱᓐᓂᓕᒫᓕᒃ ᓴᐃᒻᒪᖅᓴᐃᓕ ᐃᓕᔅᓯᓐᓂᒃ: ᐊᑖᑕ, ᐃᕐᓂᖅ, ᐊᒻᒪᓗ ᐊᓂᕐᓂᖅ ᐱᐅᔪᖅ. ᐋᒥᓐ.