Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin. Semoga rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus bersamamu.
Tuhan Yesus Kristus, Engkau mendengarkan jeritan hati orang yang berseru kepada-Mu: Tuhan, kasihanilah kami. Engkau menyembuhkan orang sakit dan menguatkan yang remuk hatinya: Kristus, kasihanilah kami. Engkau memeluk kami dengan kasih abadi-Mu: Tuhan, kasihanilah kami.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Pernahkah Anda merasa bahwa seruan hati Anda seolah-olah tidak terdengar di tengah keheningan?
Dalam Injil hari ini, seorang ibu Kanaan datang dengan hati yang hancur. Anaknya sedang menderita. Pada mulanya, seolah-olah Yesus tidak menjawab sepatah kata pun. Namun ibu itu tidak berbalik pergi. Ia mendekat, bersujud di hadapan Yesus, dan menyampaikan doanya yang amat sederhana namun jujur: “Tuhan, tolonglah aku.”
Dan Yesus melihat ketulusan hatinya. Ia berkata: “Hai ibu, besar imanmu!”
Nabi Yeremia dalam Bacaan Pertama pun mengingatkan kita akan janji Allah yang melampaui segala duka: “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang abadi; sebab itu Aku memelihara kasih setia-Ku bagimu.”
Kadang kala, saat penderitaan atau kesedihan menerpa orang yang kita kasihi, hati kecil kita berbisik ragu… Apakah ada yang salah? Bisakah aku melakukan lebih banyak?
Dengarlah sabda Kristus hari ini dengan lembut. Ketika orang bertanya mengapa seseorang harus menderita, Yesus menegaskan bahwa itu bukan karena dosa orang itu maupun dosa orang tuanya. Sakit penyakit dan perpisahan bukanlah hukuman dari Allah. Sama sekali bukan. Itu bukan karena kelalaian Anda, bukan karena kekurangan kasih Anda… Anda tidak bersalah, dan Allah tidak pernah menuduh Anda.
Tujuh minggu telah berlalu sejak Benjamin Vo berpulang ke rumah Bapa. Bagi Alan, Thao, dan adiknya Ryan, kerinduan ini tentu terasa begitu tebal.
Namun mari kita kenang betapa indahnya hati Ben.
Benjamin adalah seorang anak dengan empati yang amat dalam. Hatinya begitu lembut terhadap sesama. Ingatkah kita ketika Ben dengan ikhlas rela menyerahkan seluruh isi tabungan celengannya untuk membantu pamannya yang sedang menderita sakit? Bagi Ben, kasih bukan sekadar kata-kata, melainkan kerelaan untuk memberi dari kebaikan hatinya.
Kelembutan hati Benjamin Vo adalah wujud nyata dari kasih abadi yang ditanamkan Allah dalam jiwanya.
Hari ini, Kristus memegang setiap jeritan hati dan air mata kita. Ia yang berjanji untuk mengubah duka menjadi kesukaan kini menjaga Benjamin dalam terang abadi-Nya.
Untuk Alan, Thao, dan Ryan… serta seluruh paman, bibi, dan keluarga: peganglah erat-erat kehangatan cinta yang pernah dipancarkan Ben. Teruslah berjalan bersama dan saling menguatkan demi Ryan.
Dan bagi siapa pun yang mendengarkan dari jauh—anak-anak yang sedang sakit, serta setiap keluarga yang sedang memikul salib berat: berserulah bersama ibu Kanaan itu: “Tuhan, tolonglah aku.”
Dalam pelukan Bunda Maria dan kasih setia Kristus, kita menemukan kekuatan untuk bertahan. Amin.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita dari yang jahat, dan menghantar kita ke kehidupan kekal. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.