Saudari-saudaraku terkasih dalam Kristus, marilah kita memulai ibadat kita dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.
Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.
Saudari-saudaraku terkasih dalam Kristus,
Bacaan-bacaan kita hari ini menyajikan sebuah kontras yang menarik, sebuah ketegangan antara hukum dan belas kasihan, antara keterbatasan manusia dan kebesaran Allah. Dalam bacaan pertama, Raja Hizkia berada di ambang kematian, dan nabi Yesaya datang dengan pesan yang suram: “Berilah pesan terakhir kepada keluargamu, karena engkau akan mati dan tidak akan sembuh lagi.” Sebuah vonis yang final, bukan? Namun, Hizkia tidak menyerah. Ia berpaling kepada Tuhan, menangis dengan getir, dan memohon belas kasihan. Dan apa yang terjadi? Tuhan mendengar doanya, melihat air matanya, dan menambah lima belas tahun pada hidupnya.
Luar biasa, bukan? Ini adalah kisah tentang belas kasihan yang melampaui segala harapan. Tuhan tidak terikat oleh apa yang tampaknya tak terhindarkan. Ia adalah Tuhan yang memampukan yang tidak mungkin. Dan kemudian, dalam Injil, kita melihat Yesus yang adalah Tuhan atas hari Sabat, Tuhan atas hukum. Ketika para murid-Nya yang lapar memetik bulir gandum pada hari Sabat, Yesus menegur orang Farisi yang menghakimi mereka. Ia berkata, “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.”
Belas kasihan. Kata itu bergema kuat hari ini. Belas kasihan Allah yang mengubah takdir Hizkia. Belas kasihan Yesus yang menempatkan kebutuhan manusia di atas ritual. Ini adalah inti dari iman kita: Allah kita adalah Allah yang penuh belas kasihan, yang selalu melihat hati kita, yang selalu mendengarkan doa kita, bahkan ketika kita merasa putus asa.
Benjamin Vo, Ben yang kita cintai, adalah seorang anak yang memiliki hati yang penuh belas kasihan. Ia memiliki empati yang mendalam bagi orang lain, sebuah kepekaan yang luar biasa untuk usianya. Saya ingat bagaimana ia begitu peduli pada ayahnya, bahkan menangis pada ulang tahun ke-40 ayahnya karena takut kehilangannya. Itu menunjukkan betapa besar kasih yang ia miliki di dalam hatinya, betapa ia menghargai ikatan yang ia miliki dengan keluarganya. Kasih dan empati Ben adalah cerminan kecil dari belas kasihan Allah yang tak terbatas, belas kasihan yang kita lihat dalam kisah Hizkia dan dalam ajaran Yesus.
Empat minggu telah berlalu sejak Ben pergi mendahului kita, dan bagi Alan dan Thao, bagi Ryan, dan bagi semua paman, bibi, serta mereka yang mencintainya, saya tahu bahwa kesedihan itu masih terasa nyata, masih berat. Mungkin ada pertanyaan, mungkin ada kerinduan yang mendalam. Tetapi ingatlah kisah Hizkia. Ingatlah bahwa Tuhan mendengar doa. Ia melihat air mata. Ia adalah Allah yang penuh belas kasihan, yang memegang Ben dalam pelukan-Nya, dan yang juga memegang Anda dalam kasih-Nya yang tak terbatas. Belas kasihan-Nya tidak pernah gagal, bahkan di saat-saat paling gelap.
Dan bagi siapa pun yang mendengarkan dari jauh, terutama anak-anak lain yang mungkin menderita, atau keluarga mana pun yang memikul salib yang berat: jangan pernah ragu akan belas kasihan Tuhan. Ia melihat Anda. Ia mendengar Anda. Ia peduli pada setiap air mata Anda. Marilah kita terus hidup dengan hati yang penuh belas kasihan, seperti Ben, dan biarkan belas kasihan Allah menjadi kekuatan dan harapan kita. Amin.
For the intentions entrusted to Ben on our prayer wall:
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita dari segala yang jahat, dan membawa kita kepada hidup yang kekal. Amin.
✝ Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa, dan Putra, (+) dan Roh Kudus. Amin.